"Seriiiin!"
Ada orang berteriak dari luar. Suaranya kencang, menggangu sekali. Terheran-heran aku keluar dari kamar untuk memeriksa.
"Seriiiin!"
Wah, panggilannya mengajak ribut. Aku hampiri Bapak dan Ibu yang sudah ke teras duluan. Sebuah mobil ada di pekarangan kami. Melongokkan kepala di jendela kendaraan asing itu, ada Kak Fani tersenyum lebar.
"Seriiiin!" Ia memekik girang lagi, sembari turun dari kendaraan.
Tidak kusangka sudah seminggu sejak bang Renhard memberitahu bahwa DreamTeam akan ada kegiatan di kota ini. Waktu berlalu cepat sekali. Ternyata mereka sudah datang untuk survei lokasi. Pertama kali bertemu lagi setelah sekian lama, aku tak bisa menyembunyikan rasa sukacita.
Kak Fani memeluk, aku balas tak kalah erat. Perempuan itu bercerita heboh soal sudah membawa banyak oleh-oleh untuk aku dan keluarga. Awalnya tak percaya, tetapi usai melihat bang Renhard turun dengan dua kardus besar di tangan, aku akhirnya percaya.
"Pak, Buk." Bang Renhard menyalami Bapak dan Ibu, usai menurunkan kardus yang tadi ia bawa. "Maafin teman saya datang-datang bikin berisik."
Bapak tertawa saja. "Nak Renhard sehat?" Beliau menyapa.
Melepas rangkulannya dariku, Kak Fani menghampiri Bapak dan Ibu. Ia menyalami mereka seperti apa yang Bang Renhard lakukan.
"Om, kita mau survei selama tiga hari," ucap kak Fani pada Bapak. "Daripada di hotel, nginap sini boleh, nggak? Kami nggak akan jadi beban. Kami udah bawa beras, telor, minyak goreng, kalau ada yang kurang, tinggal bilang," tuturnya langsung ke inti.
Berikutnya ia dan bang Renhard membawa turun barang-barang yang tadi disebut dari mobil. Teras rumah kami mendadak macam warung kelontong.
Bapak tampak terheran-heran. Ibu malah tersenyum sungkan dan mungkin agak malu.
"Gimana, Om?" Kak Fani menuntut jawaban. "Boleh?"
"Saya kira, biaya untuk beli semua ini sudah cukup untuk biaya menginap di hotel." Bapak tertawa. "Boleh saja. Cuma, rumah kami ini cuma punya satu kamar kosong. Kalian suitlah siapa yang mau di kamar dan siapa di ruang tamu."
"Kak Fani tidur sama aku, Pak." Aku membuat ide. Kasur masih cukup luas, kalau pun Madisson ingin bergabung dan bosan tidur dengan ayah dan ibu.
"Sekamar berdua nggak pa-pa, sih, sebenarnya," sahut Kak Fani.
Bapak tertawa. "Tak boleh, ya. Kecuali sudah tunjukkan akte kawin."
Kak Fani mengangguk saja. Kami bersama-sama membawa masuk satu per satu oleh-oleh tadi, kemudian mengobrol di ruang tengah. Banyak sekali hal yang kak Fani ceritakan.
Beberapa jam bertukar kabar dan cerita, Bapak dan kak Fani pamit. Katanya mau mencari makanan, padahal kak Fani sudah membawa banyak. Bang Renhard membuat rencana kegiatan saat sore datang, aku menemaninya bersama Madisson yang sibuk tebar pesona.
***
"Bapak lo baik, ya, Ser."
Ucapan itu kudengar dari Kak Fani saat kami sudah berbaring di ranjang dan bersiap tidur. Seharian ini cukup melelahkan sebab aku kedatangan dua tamu yang hobi sekali mengobrol.
"Baik cemana?" sahutku dengan mata setengah terpejam.
Kak Fani berbaring telentang. Ia menatap langit-langit. " Yang tadi sore, gue tanya di mana ada yang jual martabak. Dianterin, dong. Naik motor, dibonceng."
"Itu biasa," komentarku. "Kan Kakak bukan orang sini."
"Gue dibeliin juga. Pakai duit dia."
Kali itu mataku terbuka agar lebar. Kenapa nada suara Kak Fani terdengar lain? Kuperhatikan wajahnya, kenapa ada senyum tipis di sana?
Wah, jangan-jangan?
"Kak, omonganmu ini menjurus ke mana? Bapak-Ibuku udah nikah 30 tahun, ya."
"Gila, ya, lo!" bantahnya dengan lirikan kesal. "Gue cuma ngerasa senang aja, dodol. Berasa dijajanin orang tua."
Aku mengangguk lega. "Kukira ada niatmu jadi pelakor."
"Tadi gue juga diceritain," sambungnya masih ingin bercerita. "Gue dikasih tahu tempat kerjanya. Dikasih tahu sekolah lo dulu. Bahkan, dikasih tahu warung lontong kesukaan Ibuk."
"Warung Wak Sutris?"
Kak Fani mengangguk. Ada senyum di bibirnya. "Besok gue mau diajak beli lontong ke sana. Katanya, harus coba karena enak. Gue suruh beli pakai uang dia, eh, mau, dong!" Ia berujar tak percaya.
"Harganya cuma dua belas ribu, Kak. Sembako sama jajan yang kau bawa hari ini cukup untuk kami tiga bulan."
"Nggak, ini martabak sama lontong mahal banget. Seumur hidup, gue baru ini ngerasa dijajanin laki-laki. Gini nggak, sih, rasanya punya bapak?"
Aku menoleh kak Fani dengan senyum mengembang. Senang rasanya hati mendengar dia berkata begitu. Setidaknya, aku bisa sedikit membalas kebaikannya lewat berbagi kasih sayang Bapak.
"Gue boleh pergi sama Bapak, kan, Serin? Besok." Matanya berbinar penuh harap.
"Boleh," jawabku cepat.
Dia tersenyum lebar sekali. "Gue bakal balas kebaikan lo ini suatu saat," katanya sungguh. "Misal, lo butuh orang untuk motong titidnya Yugi."
Seketika senyumnya hilang. Perempuan itu meruncingkan mata. "Berani banget lo tidur sama dia, hah? Nggak ada otak! Kalau misal lo bunting, gimana Bapak sama Ibu, hah?"
Kemudian lenganku dihajar tepukan keras. Beberapa kali juga dicubit. Tidak melawan, aku hanya meringis pedih. Ini hukuman, dan orang yang salah memang harus dihukum.
***
Aku dibuat mengaitkan alis atas sikap bang Renhard. Barusan, lelaki itu dan kak Fani pulang dari tempat survei. Aku duduk di sebelah lelaki itu, dia malah bergeser, membuat jarak. Kemarin juga. Aku ingin memeluknya, sama seperti yang kulakukan pada kak Fani. Namun, dia menolak.
Ada lagi. Kemarin kan Bapak pergi bekerja. Kak Fani pergi menemani Ibu belanja ke pasar, Madi sekolah. Kami berdua di rumah, dia malah tidur di teras. Yang itu aku lumrah. Namun, dia bergeser saat aku duduk di sebelahnya seperti barusan, sedikit mengganggu.
"Kau kenapa, sih, Bang? Enggak mau duduk dekat aku?"
Bang Renhard mengangguk cepat.
"Kenapa?" Aku sedikit tak terima. Aku ingat hubungan kami sebelum ini baik saja.
"Gimana juga, laki lo itu sahabat gue," katanya. "Nggak baik kita kayak nggak ada jarak. Apalagi sekarang dia nggak ada di sini."
"Aku udah enggak ada hubungan sama dia," bantahku vokal.
Bang Renhard memicing. "Jangan ngaco." Suaranya memelan, seperti orang berbisik. Lanjutnya, "Lo udah sejauh itu sama dia. Jangan mau ditinggal. Enak aja dia udah ngajak lo nyebur, malah ditinggal."
"Tapi aku enggak mau sama dia." Kali ini wajahku menekuk. Aku ingin terlihat serius.
"Emaknya Yugi cuma belum dikasih paham aja." Kak Fani bergabung dalam percakapan. "Dia terlalu berpatokan sama rumah sakit bokapnya Anita. Sama sekali nggak mikirin perasaan Yugi."
"Perasaan bisa tumbuh karena terbiasa, kok." Aku memalingkan wajah. Rasanya seperti ada yang teriris.
"Anita bukan seleranya Yugi." Kak Fani bersedekap dan memberi tatapan meyakinkan. "Bertahun-tahun mereka bareng. Lo pernah lihat Yugi natap Anita lebih dari lima menit?" Ia bertanya pada bang Renhard. "Nggak pernah."
"Diajak kencan aja laki lo selalu nolak, kok, Ser." Bang Renhard menambahkan.
"Lagian, belum tentu kalau Yugi nggak nikah sama Anita, dia nggak akan bisa jadi dokter sukses. Yugi itu cerdas. Dia pasti bisa cari jalan suksesnya sendiri. Nggak harus dengan cara numpang sama bokapnya Anita."
Aku tahu bang Renhard dan Kak Fani berusaha meyakinkan. Namun, bagaimana bisa aku berubah pikiran? Nasib bang Yugi jadi taruhan. Pun, Tante Melani tak akan pernah merestui kami. Hubungan ini tidak punya harapan. Lantas, untuk apa aku berusaha?
....
Makasih udah baca bab ini. Sehat selalu, ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Journey
RomansaSerin begitu mengidolakan Yugi, hingga nekat ikut dalam kegiatan sosial yang pria itu gagas, meski tanpa pengalaman. Berada jauh dari rumah, melakukan kegiatan pengabdian, bisakah Serin bertahan? Mampukah dia memetik sesuatu dari perjalanan itu?
