Terendra tak pernah mengira jika diumurnya yang sudah menginjak kepala empat tiba-tiba saja memiliki seorang putra yang datang dari tempat yang tak terduga.
Bocah 17 tahun mantan anggota kelompok buronan?
Tapi itulah faktanya.
--------------------
#...
Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.
.
.
.
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
******
Di atas sofa yang empuk, Rival duduk dengan denyut jantung yang berdegup kencang. Udara malam memasuki ruangan dari celah jendela, namun alih-alih merasa sejuk, Rival justru terlihat dibanjiri oleh keringat hingga tiap beberapa detik sekali ia harus mengelap pelipisnya.
Setelah kejadian dipesta yang menggemparkan beberapa saat lalu, Rival pulang sendirian tanpa membawa Jesher disisinya hingga Tarendra terus bertanya. Lalu setelah memberitahu bahwa anak itu sudah dibawa oleh pihak berwajib, sang atasan memintanya untuk menjelaskan secara detail apa yang terjadi. Dan di sini mereka sekarang, duduk berdua di ruang tengah guna menjawab semua kebingungan Tarendra.
"Val, kamu liat Jesher nembak Bram? Kamu yakin?"
"Jesher itu anak buahnya Wira juga, Pak. Sama kayak Bram." Pandangan Rival naik pada wajah sang atasan, kegelisahan menyatu dengan hening yang membungkus keduanya setelah pengakuan mengejutkan itu akhirnya tumpah.
"Kamu sadar apa yang baru aja kamu omongin?" pelan suara Tarendra menuntun Rival untuk kembali menundukkan pandangan. "Jesher itu anak saya Val, nggak mungkin dia...."
Rival memilih untuk tidak menyanggah, membiarkan desah kasar Tarendra terdengar jelas dalam kesunyian. Lalu kalimat-kalimat penolakan yang sang atasan lemparkan setelah itu turut menjelma jadi bongkahan batu besar yang memberatkan kedua bahunya.
"Gimana bisa, Val? Dia nggak pernah aneh-aneh selama ini. Saya tahu dia anak baik-baik! Jesher yang polos begitu nggak mungkin bekerja untuk Wira!"
"Saya yang udah kirim Nico, Pak." Rival akhirnya angkat suara. Dengan dua tangan mengepal di atas paha dia mulai menjelaskan semuanya. "Saya lebih dulu nemuin foto Jesher dengan Erik. Jadi saya minta Nico buat jadi penyusup biar saya bisa liat reaksinya seperti apa dan ternyata dia bohong. Dia nggak bilang sama kita kalo dia udah nusuk kaki Nico karena dia takut kalau sampai penyusup itu anak buah Wira, terus ketangkap, dia juga bisa terancam."
Rival memang mulai curiga dari awal, sejak pertemuan pertama mereka dimana Jesher tiba-tiba menodongkan pisau dengan cekatan. Karena hal yang mengganjal itu ia berani menggeledah kamar Jesher dan menemukan foto Erik, demi menuntaskan rasa penasarannya dia mengambil risiko besar dengan mengirim Nico untuk menyerang Jesher sebagai jalan baginya bisa melihat reaksi anak itu.
Kecurigaannya semakin mengerucut kala mendapati Jesher berbohong untuk mengelabui Danu, seolah-olah dia sengaja menyembunyikan Nico karena saat itu Jesher sendiri tak bisa memastikan apakah penyusup yang memasuki kamarnya memang anak buah Wira atau hanya salah satu suruhan dari musuh Tarendra.