37 - tercekik

18K 1.6K 326
                                    

Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.

.

.

.

.

******

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

******

Mobil mewah yang dikemudikan oleh lelaki berusia empat puluhan itu melaju perlahan, membelah jalan ibu kota yang sedikit lengang disuasana senja yang mulai meredupkan langit. Didalammnya Jesher duduk dikursi penumpang dengan gusar menatap ke luar jendela, sedangkan Tarendra menatap penuh perhatian ke depan, walau sesekali melirik khawatir pada sang anak.

Keduanya tenggelam dalam kesunyian yang berlangsung cukup lama, hanya deru kendaraan lain yang terdengar. Hingga Tarendra yang sudah merasa jengah membuka mulut lebih dulu.

"Mau mampir nggak? Belanja atau makan mungkin," tanyanya lembut. Sesuai dugaannya, Jesher memang mengalami PTSD dan karena gejalanya cukup parah dia sampai mendapatkan resep obat. Tarendra juga mendapat beberapa petuah untuk membantu proses penyembuhan putranya. Salah satunya yang sedang coba ia lakukan saat ini dengan memberikan dukungan emosional yang menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan kesabaran. "Ayah nggak kerja hari ini."

"Kenapa? Padahal Om Danu udah berkali-kali nelpon Ayah, pasti penting banget, kenapa kita nggak ke kantor aja?" Jesher menghela napas panjang memandangi senyum Tarendra yang tersungging untuknya.

"Nggak apa-apa. Kamu pasti capek, kita pulang aja—" Tarendra bahkan belum menyelesaikan ucapannya saat ponsel di atas dashboard kembali berdering ulah panggilan Danu. 

Buru-buru lelaki itu meraihnya dan menerima telepon dari sahabatnya dengan wajah kesal. "Nu, Gue lagi nyetir."

"Bisa ke kantor sekarang? Kita udah dapat info tentang Ramon. Ajak Jesher juga, ada yang mau gue tanyain."

Saat kendaraan itu berhenti dilampu merah, Tarendra lebih dulu melirik putranya yang juga menatap balik dengan wajah polos. Melihat itu, Tarendra jadi semakin tak tega jika harus merepotkannya.

"Aku nggak apa-apa kok. Aku bisa ikut ke kantor." Jesher bersuara menerobos keraguan Ayahnya. Ia tahu lelaki itu ingin segera menyelesaikan persoalan tersebut namun ragu karena mengkhawatirkan kondisinya. 

"Yakin?" Tarendra bertanya untuk memastikan dan anggukan dari Jesher membuatnya ikut setuju, maka dengan segera ia memberitahu Danu untuk bersiap. "Nu, gue ke sana sekarang. Kumpulin yang lain."

"Ayah, kalian mau bunuh Ramon juga?" Tanya Jesher pelan setelah Tarendra memutuskan panggilan. Tetapi saat Tarendra menatap lurus dikedua matanya ia justru mendadak diserang gugup. 

"Semua yang terlibat dengan kematian Aryan harus mendapat balasan yang setimpal. Tapi kali ini kita nggak bakal langsung ngabisin Ramon, bertahun-tahun kita selalu nyari informasi tentang orang-orang yang ada ditempat kejadian itu, tapi kita belum dapat nama-nama yang pasti. Beberapa yang ketangkep cuma nyebutin satu dua nama aja. Ayah nggak mau ada yang kelewatan."

STRANGERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang