Terendra tak pernah mengira jika diumurnya yang sudah menginjak kepala empat tiba-tiba saja memiliki seorang putra yang datang dari tempat yang tak terduga.
Bocah 17 tahun mantan anggota kelompok buronan?
Tapi itulah faktanya.
--------------------
#...
Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.
.
.
.
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
******
"Gimana, sekarang udah ngerti 'kan?"
Jesher menatap kosong layar didepannya yang menampilkan denah rumah Selina. Jujur saja dia tidak mengerti sama sekali, Danu menjelaskan dengan sangat cepat menggunakan istilah-istilah yang tidak dia mengerti, strategi penyusupan ini jadi terkesan sangat rumit.
"Udah ngerti 'kan?!" Danu mengulang pertanyaannya dengan rahang mengeras. Menatap penuh intimidasi pada remaja yang duduk diam menampilkan wajah kebingungan. "Jesher?"
Jesher melempar tatapannya pada Jean, tapi pemuda itu malah menghindar dan berlagak sibuk dengan berkas-berkas di atas meja. Mau tak mau Jesher membalas Danu dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya. "Belum, Om."
Danu memejam, memegang tengkuknya yang mendadak kaku. Dia sudah menjelaskan dengan jelas dan terperinci untuk ketiga kalinya, tapi ternyata Jesher masih belum bisa mengerti hal sesederhana ini.
"APA SUSAHNYA?! SAYA UDAH JELASIN TIGA KALI KENAPA MASIH NGGAK NGERTI JUGA?!" Danu berteriak seraya memukul meja dengan keras meluapkan emosinya.
"Om jelasinnya cepet banget. Gambarnya juga pindah-pindah terus," balas Jesher tak mau disalahkan.
"Jadi kamu nyalahin saya?" Danu menatap nyalang, memegang botol air mineral berniat melempari anak itu.
Beruntung Tarendra datang tepat waktu.
"Udah?"
"Nggak bisa. Dia nggak ngerti apa yang gue omongin, Ndra." Danu menunjuk Jesher, seperti mengadu bahwa orang yang dia tunjuk sudah membuatnya frustasi dan masih belum bisa menangkap sedikitpun penjelasan darinya.
Mendengar itu Tarendra langsung menatap Jean yang duduk di samping putranya. "Jean. kamu ngerti?"
Yang ditanya langsung mengangguk cepat. Dia bisa paham strategi yang Danu jelaskan hanya dalam sekali melihat, heran juga kenapa Jesher masih tidak bisa mengerti bahkan setelah tiga kali Danu mengulanginya.
"Kalo gitu kamu yang jelasin," titah Tarendra lalu duduk disalah satu kursi yang kosong.
Jean akhirnya maju, mengambil alih remote proyektor di atas meja. Dia memulai dengan cukup tenang. "Jadi, nanti lo ke sini dulu, rusak anunya, abis itu lo cepet-cepet ke sini, kalo mereka udah pergi dan lo liat tempat ini mulai sepi, lo bisa masuk, kamarnya ada dilantai dua pojok sini. Keluarnya lo bisa langsung lompat lewat sini."