Terendra tak pernah mengira jika diumurnya yang sudah menginjak kepala empat tiba-tiba saja memiliki seorang putra yang datang dari tempat yang tak terduga.
Bocah 17 tahun mantan anggota kelompok buronan?
Tapi itulah faktanya.
--------------------
#...
Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.
.
.
.
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
******
Tarendra menghentikan mobilnya di pelataran sebuah kafe yang cukup ramai di malam itu. Sejenak, ia amati situasi dan memastikan orang-orang suruhannya sudah berjaga di sekitar tanpa menarik perhatian. Setelah merasa yakin, ia menoleh ke arah Jesher yang duduk diam di sampingnya. "Kalau mau pulang telpon Ayah, nanti dijemput," ucapnya sembari merapikan jaket putranya yang sedikit turun.
"Iya," jawab Jesher datar. Tanpa mau melihat wajah cemas Tarendra, remaja itu segera keluar dari mobil dan melangkah masuk ke kafe.
Langkah Jesher ringan saat melewati pintu kafe. Pandangannya menyapu ruangan, mencari tiga manusia yang katanya sudah menunggu sambil memesankan makanan untuknya. Dari kejauhan, ia melihat Jean melambai tinggi, sepupunya itu tampak bersemangat seperti biasa. Sedangkan disampingnya ada Mahes dan Danel yang terlihat tidak antusias dengan pertemuan ini.
"Lah, Bapak lo mana Jesh?" Danel menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan Jesher dengan sebuah pertanyaan. Matanya meliar mencari sosok Tarendra yang katanya akan mengantar Jesher ke tempat ini.
"Pulang lah. Ngapain juga ngintilin gue," jawab Jesher sambil menarik kursi kosong di samping Jean. Ia menghela napas pelan, merasakan suasana yang sedikit canggung setelah rencana awal mereka harus batal karena Ayahnya yang tak memberi izin. "Sorry, kita nggak jadi ke sana."
"Dari awal juga gue udah tahu lo bakal ketahuan. Lagian, mana mau Om Rendra biarin lo ikut dugem sama kita-kita," timpal Jean santai. Sejak Danel mengajak mereka untuk bersenang-senang di sebuah club malam, firasatnya sudah berkata bahwa itu tidak akan mungkin terjadi. Dan benar saja, rencana mereka untuk mengelabui Tarendra gagal total dan membuatnya turut mendapat jatah omelan. Beruntung Pamannya itu masih mengizinkan mereka untuk bertemu di tempat ini.
Sama seperti Jean, Mahes pun sejujurnya tidak setuju dengan rencana gila Danel itu. Belum melakukannya saja ia sudah terbayang hukuman seperti apa yang mungkin mereka terima jika ketahuan membawa Jesher tanpa pengawasan siapapun. "Emang sewajarnya kita di sini aja. Lagain lo juga belum bener-bener sehat 'kan?"
"Kata siapa? Tadi aja udah ikut ngegym sama bos lo." Jesher langsung mematahkan kekhawatiran Mahes dengan tegas. Kejadian itu juga sudah cukup lama berlalu dan kondisinya membaik lebih cepat dari yang diperkirakan, jadi tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Hanya satu masalah yang tersisa, dia masih belum berani untuk makan sembarang karena terus terbayang kejadian di malam itu.
Untungnya Jean tampak mengerti dengan keresahannya. Pemuda itu dengan tenang mencicipi kue dan minumannya terlebih dahulu, lalu setelah merasa semuanya aman baru ia mendorong piring dan gelas tadi ke hadapan Jesher tanpa berkata apa-apa