52 - menolak

27.7K 2.8K 1K
                                    

Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.

.

.

.

.

******

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


******

Tarendra melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit yang terasa mencekam di malam itu. Suara sepatunya menggema di lantai, memantul diantara dinding-dinding kosong yang dingin dan sunyi. Arah pandangannya terpaku pada ujung koridor dimana pintu dari kamar jenazah itu terlihat seperti sedang menanti kedatangannya. Meski dalam hati lelaki itu menjerit menolak kenyataan pahit yang sebentar lagi harus dia hadapi.

Ketika Tarendra membuka pintu, hawa dingin langsung menyergap tubuhnya yang hanya memakai kemeja yang sudah tak lagi rapih. Hanya ada hening yang menyambut, bersama dengung mesin pendingin yang monoton. Di tengah ruangan itu, di atas brankar, terbaring tubuh adiknya yang ditutupi kain putih.

Dengan langkah berat dia mendekat hingga berhasil berdiri disisi raga yang tak lagi bernyawa. Tarendra menelan ludah, berusaha menenangkan dekat jantung yang semakin keras. Lalu tangannya yang gemetar perlahan naik, menarik kain penutup itu dengan hati penuh luka.

Detik terasa berjalan sangat lambat, Tarendra menahan napas, terlalu takut untuk menghadapi apa yang ada dibalik kain itu. Namun saat berhasil menyibak, dia justru dibuat tersentak mundur oleh apa yang ditangkap kedua matanya.

"Jesher..."

Tarendra terpaku, napasnya tercekat ditenggorokan. Itu adalah wajah yang selama ini ia hindari, yang ia salahkan atas kematian Aryan, namun kini justru terbaring dengan kondisi yang sama persis dengan adiknya.

Kebingungan dan keterkejutan menghantam keras. Pandangannya hanya terkunci pada tubuh sang anak yang terbujur kaku. Raut wajah itu tampak begitu damai seolah tak menyimpan beban yang Tarendra berikan selama ini. Bibirnya terkatup rapat, tak lagi bisa menjawab tuduhan atau memohon maaf atas segala kesalahan yang dilimpahkan dikepadanya.

Entah dorongan dari mana, Tarendra memutuskan untuk menarik turun kain itu hingga sebatas perut. Dan pemandangan yang tersingkap dihadapannya menjadi pukulan telak. Tubuh dingin itu dipenuhi luka bekas tembakan yang merobek kulit, juga lebam-lebam keunguan yang menyebar hingga ke leher.

Tarendra terdiam, tubuhnya seperti membeku. Setiap luka yang terlihat seolah berbicara tentang rasa sakit dan penderitaan yang putranya alami sebelum nyawanya direnggut paksa.

Sesak sekali, Tarendra merasa seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis.

"Nggak mungkin."

STRANGERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang