50 - dia, kuat

28.2K 2.7K 951
                                    

Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.

.

.

.

.

******

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


******

Wira tersenyum puas, duduk di atas sofa mewahnya sembari memandang lurus pada dua jari tangan yang beberapa saat lalu Hedy bawakan sebagai hasil kerjanya. Padahal sebelumnya, dia sudah memberitahu bahwa tidak menginginkan bagian apapun dari anak itu dan hanya memintanya untuk menyuntikkan obat, tapi Hedy tetap saja keras kepala demi membuktikan bahwa ia benar-benar telah melakukannya.

"Sekarang, Tarendra pasti marah besar," ucap Wira dengan suara rendah. Lalu saat terbayangkan wajah kesal musuhnya, dia tersenyum semakin lebar.

Sementara Hedy belum mengatakan apapun, dia membakar ujung rokoknya dan menghisap gulungan tembakau itu dengan rakus. Sudut matanya pun diam-diam melirik dua jari pucat di atas meja sebelum menghela berat.

"Kalau ngotot bawa ini, kenapa nggak sekalian matanya aja?" tiba-tiba Wira berdecak sebal. Sedikit menyayangkan tindakan Hedy yang tidak mengambil bagian lebih penting. "Ya, walaupun dia nggak begitu suka sama Jesher, tapi kalau lihat anaknya sendiri buta dia pasti terluka, 'kan?"

"Kalau diambil sekarang jadi nggak berguna. Biar sekalian nanti sama organnya yang lain," jawab Hedy tanpa menatap lawan bicaranya sama sekali.

Merasa puas dengan jawaban itu, Wira hanya bisa tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Terpejam sebentar merasakan empuk dari permukaan benda itu seolah memijat punggungnya yang terasa sangat lelah belakangan ini.

"Gimana anak buah lo yang satu itu? Lo buang dimana?"

Akhirnya Hedy menoleh pada sahabat sekaligus rekan kerjanya. Mengingat kembali satu bawahan yang dia bunuh dihadapan Jesher karena telah berkhianat untuk melindungi Satya selama ini. "Saka. Mereka bawa Saka ke rumah sakit tapi mati jalan." Sampai sekarang, api kemarahan yang Hedy rasakan masih belum padam bahkan setelah dia menghabisi pemuda itu dengan kedua tangannya sendiri.

"Udah gue bilang. Jangan percaya siapapun."

"Hm," Hedy hanya bergumam, selain amarah dia juga merasakan kekecewaan yang dalam karena Saka adalah salah satu bawahan yang paling dia andalkan, tanpa tahu bahwa selama ini pemuda itu terus berkomunikasi dengan Satya dan membantunya kabur berkali-kali.

"Gue sendiri. Cuma percaya sama lo aja." Wira mencoba menatap Hedy yang justru menunduk. Lelaki itu seperti tengah menyimpan keresahannya sendiri, tapi dia berpikir bahwa itu mungkin hanya sebuah kesedihan karena kembali kehilangan salah satu orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun bersamanya.

STRANGERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang