64 - end

23.5K 2K 522
                                        

Nama tokoh, tempat kejadian dan konflik cerita ini hanya fiktif belaka.

.

.

.

.

******

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

******

Lima hari setelah kepergian Jesher, semuanya perlahan kembali seperti semula. Danu dan Tama tetap bekerja seperti biasa, Ellie masih sibuk mengurus segala keperluan atasannya, dan Rival kini kembali aktif sepenuhnya di RAS. Begitu pula dengan Tarendra, meskipun duka masih menyelimuti, ia tetap menjalani rutinitas di hari-hari sebelumnya

Tidak banyak yang berubah, selain hati orang-orang yang patah karena kepergiannya.

Sore ini, Tarendra meluangkan waktunya untuk pergi ke rumah sakit, menemui salah satu korban Wira yang Jesher selamatkan. Anak laki-laki berusia 8 tahun itu mengalami luka yang cukup parah akibat luka tembakan. Beruntung Jesher sempat menghentikan pendarahannya dengan melilitkan kain seadanya. Jika tidak, mungkin hari itu akan ada nyawa lain yang ikut melayang.

Putranya benar-benar berjuang hingga akhir, mengorbankan segalanya demi menyelamatkan orang lain. Hal yang seharusnya membuat Tarendra bangga, tapi justru menghadirkan luka yang begitu dalam, karena di saat Jesher harus menghadapi saat-saat tersulitnya, ia tidak ada di sana.

Memangnya sejak kapan ia ada untuk Jesher? Selama ini, yang ia lakukan pun hanya menyakiti anak itu. Memberikan luka, mengingkari janji, hingga kini menjadi penyesalan besar yang sampai kapan pun tak akan bisa lagi ia perbaiki.

Langkah ringannya menggema di koridor yang lengang. Menikmati bagaimana cahaya matahari yang menerobos masuk menembus kaca jendela, membawa hangat di sepanjang koridor, yang sayangnya tak cukup untuk mengusir dingin yang mencengkeram hatinya.

Dengan gerakan hati-hati yang tak ingin menimbulkan keributan, ia meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada Yasmin yang kini duduk di tepi bed, menemani bocah itu yang hanya mampu berbaring dengan perban yang membalut dari paha hingga pergelangan kakinya.

Yasmin segera berdiri saat melihatnya masuk. Wanita dengan balutan hijab itu menyambutnya dengan senyum lembut. "Mas, udah nggak apa-apa?"

Yang wanita itu maksud pasti luka-luka yang masih terlihat di wajah Tarendra. Tentu saja setelah pertarungannya dengan Wira hari itu, ia juga mendapat banyak luka, tapi tak ada yang benar-benar mengkhawatirkan.

"Nggak apa-apa,"jawabnya singkat sambil mendekat. Begitu sampai di sisi brankar, ia menatap anak kecil itu dan mengulas senyum tipis.

"Dia nggak mau ketemu siapa-siapa. Dia takut banget, tapi pas aku bilang Mas ayahnya Jesher, dia akhirnya mau," jelas Yasmin pelan, suaranya nyaris berbisik, seolah takut mengorek luka yang masih basah di hati lelaki itu.

STRANGERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang