Cklek...
Suara pintu apartemen terbuka, sosok pria bertato di lengan kanannya itu terlihat memasuki apartemen lalu segera merebahkan tubuhnya di atasnya. Terlihat sangat lelah, dia menutup matanya dengan salah satu lengannya. Hampir saja dia tertidur tepat sebelum suara langkah kaki mendekatinya.
"Apa kau pergi minum minum lagi?" Suara itu terdengar datar namun cukup membuat Jungkook segera tersadar dari kondisinya yang memang sedang mabuk.
"Sedikit" hanya itu jawabnya
"Apa kau tidak tau kalau di luar masih terlalu rawan? Kenapa kau sangat ceroboh?" Suara jin lebih keras, dia bukan marah karena kondisi Jungkook yang mabuk, tapi dia khawatir jika Jungkook terlalu sering diluar akan membahayakan dirinya sendiri.
"Kenapa semua orang ingin sekali mengaturku? Aku bukan anak kecil lagi kau tau?" Dengan kesal Jungkook segera berdiri dan pergi meninggalkan apartemen jin, dia memilih kembali ke drom untuk menenangkan diri. Dia tahu jika di drom hanya ada Jimin dan Suga karena member yang lain memilih mulai menempati apartemen mereka masing masing, jadi tempat itu sangat tepat untuk menjadi tempat pelariannya saat ini.
"CK, selalu saja" jin mendengus kesal, dan tentu saja ada perasaan sedih yang masih menggelayut di hatinya.
Beberapa jam sebelumnya
Seokjin view
Setelah mengendarai mobilnya hampir satu jam, akhirnya seokjin sudah sampai di rumah orang tua Jungkook.
Seokjin pun masuk ke rumah itu, dia sudah di sambut lebih dulu oleh ibu Jungkook. Jantungnya berdetak kencang, dia gugup harus bicara dengan ibu jungkook. Terlihat wajah kurang nyaman dari ibu jungkook, namun dia tidak terlalu ambil pusing.
"Emm. Eomma," ucap seokjin saat melihat ibu Jungkook hendak pergi ke dapur.
"Aku kesini ingin meminta maaf" ibu Jungkook membalik badannya saat mendengar kata seokjin, dia menatap mata seokjin sambil terus mendekatinya hingga saat ini dia sudah berdiri tepat di depan seokjin.
"Untuk apa?"
"Maaf kalau eomma merasa Jungkook seperti ini karena aku"
"Tentu saja aku menyalahkanmu, eomma tidak menyangka kalau kau membiarkan Jungkook terperangkap dengan perasaan yang aneh seperti itu, eomma sudah mempercayaimu untuk menjaga Jungkook, tapi apa? Kau malah mengencaninya." Yoonhee benar benar sangat marah sampai tanpa dia sadari dia sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan. Jin mendengar itu merasa sangat bersalah dan juga tentu saja emosi. Tapi dia berusaha menahannya, hanya senyum kecil yang terukir di wajahnya.
"Aku tau itu eomma, jika karena itu kau mau menyalahkan ku maka aku akan menerimanya. Tapi~"
"Untuk kali aku tidak akan melepaskan Jungkook, eomma boleh mencoba mengenalkannya atau bahkan menjodohkannya dengan siapapun, tapi aku juga akan menegaskan kalau aku tidak akan pernah menjauhi Jungkook. Sekali lagi aku minta maaf" jin menekuk lututnya dan membungkukkan badannya, dia berlutut meminta maaf kepada ibu Jungkook. Yoonhee hanya bisa diam terpaku melihat seokjin sampai dia tidak sadar jika pria itu sudah pergi keluar dari rumahnya.
Ada perasaan bersalah di dalam hati yoonhee, sebenarnya dia tidak ingin menyalahkan jin sama sekali, namun emosinya meledak begitu saja ketika mengingat Jungkook. Sebagai orang tua tentu saja yoonhee tidak ingin anaknya terluka, dia khawatir jika masalah ini terbongkar di hadapan publik.
"Eomma benar benar keterlaluan, tidak seharusnya eomma mengatakan hal itu. Eomma tau kalau jin begitu menyayangi Jungkook dengan tulus terlepas dari hubungan mereka saat ini. Apa sebenarnya yang eomma takut kan? Aku benar benar tidak mengerti dengan eomma sekarang." Suara itu tiba tiba saja muncul tepat sesaat setelah seokjin meninggalkan rumah itu.
"Apa salah jika eomma mengkhawatirkan masa depan adikmu? Aku rasa semua ibu pasti akan melakukan apa yang eomma lakukan junghyun." Ibu Jungkook kembali mulai emosi saat anak sulungnya ini ikut membela seokjin.
"Tidak salah eomma, bahkan aku mengerti perasaan eomma, tapi itu tadi? Apa perlu eomma sampai melakukan hal itu? Aku harap Jungkook tidak akan pernah melihat sikap eomma seperti tadi." Junghyun sudah tidak bisa lagi membayangkan sikap ibunya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan, terlihat wajah junghyun sangat kecewa saat dia memilih meninggalkan rumahnya saat itu.
"Junghyun tunggu, kau mau kemana?" Teriak ibu Jungkook memanggil putra sulungnya itu.
"Kenapa semua orang bersikap seperti ini denganku? Apa sikapku benar benar sudah keterlaluan? Aaahhh... Kenapa tidak ada yang mengerti aku?" Airmatanya keluar begitu melihat junghyun pergi, dia merasa sangat sedih mengingat tidak ada satupun orang yang mengerti dirinya.
Keesokan hari di ruang latihan
"Jungkook, kenapa kau hari ini? Tidak seperti biasanya kau banyak membuat kesalahan. Ada apa denganmu?" Hobi kembali menegur Jungkook yang dari tadi saat latihan terlihat tidak fokus, semua member untuk merasakan hal yang sama termasuk jin, tapi dia lebih memilih diam saja.
"Baiklah, kita istirahat dulu, besok kita ulang lagi. Dan pastikan besok kalian bisa kembali fokus. Ok?" Tutup hobi, dia memutuskan menghentikan sesi latihan mereka hari ini. Semua orang sudah kembali ke tempat mereka masing masing, termasuk Jungkook yang sudah lebih dulu pergi tanpa menyapa semua orang di sekitarnya. Sedangkan jin masih terlihat santai membereskan barang barangnya, tidak begitu lama dia selesai dan segera melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa lagi kau dengan Jungkook Hyung?"
"Ah yoongi, apa kau sudah melihat beritanya?"
"Heemm" Suga menganggukkan kepalanya
"Tidak biasanya dia mabuk mabukan seperti itu Hyung, apa kau tidak mengingatkannya?"
"Aku saja bahkan tidak tau kalau dia pergi dengan teman temannya."
"Biarkan staff yang mengurusnya Hyung, Bukankah hal ini sudah biasa?"
"Iya aku tau, tapi memang sepertinya moodnya kurang bagus"
"Kenapa?"
"Entahlah, kemarin dia pulang sudah dengan kondisi uring uringan." Mereka baru saja keluar dari ruangan namun tidak lama ada sebuah lengan menarik jin menjauh meninggalkan Suga yang masih terdiam melihat kepergian mereka.
Sekarang mereka sudah berada di ruang Bangtan, Jungkook segera menutup pintu itu dan menarik serta sedikit mendorong jin ke arah dinding di kamar itu.
"Katakan jin, apa kau puas mempermainkan ku?"
"Apa maksudmu"
"Kenapa kau mengijinkan eomma untuk mengenalkan ku dengan gadis gadis pilihannya?"
"Apa semudah itu kau melepaskan ku?"
"Hah?" Awalnya jin terkejut bahkan bingung dengan ucapan Jungkook, tapi tidak lama dia sadar apa yang sedang dibicarakan Jungkook.
"Aaahh, aku tau sekarang. Jadi hanya karena itu kau uring uringan seperti ini?"
"Hanya itu? Kau pikir aku boneka yang bisa kau permainkan seenaknya seperti ini?" Jin menghela napas panjang mendengar semua ucapan Jungkook.
"Apa hanya itu yang di ucapkan ibumu tentang aku? Kenapa kau tidak menanyakan kelanjutan ucapanku?"
Jungkook mengerutkan dahinya, "memangnya kau bilang apa lagi?"
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, kau tahu?"
Jungkook sedikit terkejut, pasalnya ibunya hanya bilang jika jin mengijinkannya untuk mencoba pendekatan dengan gadis pilihan ibunya.
"Tentu saja dia tidak akan memberitahumu. Lagi pula Jungkook a, aku hanya mengijinkan dia mengenalkanmu dengan orang lain, bukan yang lain."
"Ha? Apa maksudnya?" Tanya Jungkook kebingungan.
"Kau anaknya jangan pernah mengecewakan ibumu, ikuti saja kemauannya. Lagipula hanya berkenalan dengan gadis itu bukan?" Jin mengangkat kedua alisnya memberi kode ke Jungkook berharap pemuda di depannya ini paham dengan maksudnya.
"Aaahhh.. aku mengerti." Akhirnya senyum itu sudah tersungging lagi di wajah Jungkook, dia paham dengan maksud perkataan jin.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Truth Untold || Jinkook
FanfictionMungkin seharusnya jungkook dan jin lebih terbuka dengan perasaanya, tapi mereka sadar jika perasaan mereka ini tidak akan bisa diterima oleh semua orang, lalu apa yang mereka lakukan selanjutnya?
