Tiit..
Suara pintu apartemen terbuka, Jungkook segera melangkah masuk kedalam apartemen itu dan menuju ke kamar utama. Dia datang 1 jam setelah jin melakukan siaran livenya, dan sekarang pria itu sudah nyenyak di bawah selimutnya.
Jungkook mendekati jin yang sudah tidur, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping jin. Sengaja membuat gerakan yang cukup keras agar jin bangun, Jungkook ingin menunjukkan sesuatu untuknya.
"Emmm aahhh, Jungkook hentikan. Aku benar benar lelah. Besok saja ya." Jin mulai terganggu karena bayi kelincinya itu mulai menciuminya, jin sudah sangat mengantuk jadi dia terpaksa menolak sinyal dari Jungkook.
Ah sebenarnya itu hanya alasan saja, dia merasa sedikit kecewa karena laki laki di sampingnya ini tidak menemaninya saat live tadi. Ini hari ulang tahunnya, tapi orang yang paling diharapkannya ada malah sejak selesai latihan tadi dia sudah menghilang.
Cup..cup.. Jungkook memberikan beberapa kecupan di bibir seokjin, dia masih berusaha agar kekasihnya itu bangun. Sebenarnya dia juga tau kalau seokjin sedang merajuk karena dia tidak menemani jin, tapi dia punya alasan untuk itu.
"Kau marah yoebo? Hem?" Dia masih terus saja menciumi jin, bukan hanya bibir tapi seluruh wajahnya tidak ada bagian sedikitpun yang terlewat.
"Aaakkhh.. iya aku marah, kenapa kau tidak mengabariku sejak tadi eoh? Lalu kemana saja kau sejak tadi? Sekalipun kau menyiapkan kejutan untukku juga aku tetap akan marah. Bagaimana bisa kau melupakan janjimu untuk menemaniku live ulang tahunku eoh? Dan bag~" kesal dengan Jungkook yang terus saja mengganggunya membuat jin bangun dan kesal seraya mengeluarkan semua kekesalannya. Belum selesai dia mengeluarkan emosinya namun bibirnya sudah di tutup Jungkook dengan bibirnya, melihat jin mengomel itu membuat Jungkook gemas sampai tidak tahan untuk tidak menciumnya.
"Sudah marahnya?"
"Eoh, sudah." Itu yang di ucapkan, tapi apa yang di mulut tidak sama dengan pikirannya. Sebenarnya dia masih kesal, tapi dia juga tidak bisa terlalu marah dengan pria di depannya ini, terlalu menggemaskan pikirnya.
"Baiklah, sekarang ayo berdiri dan ikut denganku." Jungkook berdiri dan menarik jin dari ranjangnya, dia membawa jin pergi keluar dari apartemennya menuju ke parkiran mobil.
"Jungkook a, ini sudah malam kau mau membawaku kemana?"
"Ini kejutan" Jungkook memberi kedipan matanya memberi isyarat sambil terus tersenyum dan menggandeng tangan jin sampai mereka masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau masih mengantuk tidurlah dulu yoebo, nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan mu." Ucap Jungkook sambil memakaikan seatbelt jin.
Jin tidak menanggapinya, dia hanya diam memikirkan segala kemungkinan hadiah yang akan diberikan jungkook.
Hanya butuh waktu 10 menit saja akhirnya mereka sampai di sebuah jalan kecil di wilayah Itaewon. Sebenarnya saat ini sudah sangat malam, tapi di wilayah ini jalanan besar masih nampak ramai. Mobil Jungkook kemudian berhenti tepat didepan sebuah bangunan yang nampaknya itu adalah bagian kecil dari bangunan besar disampingnya, bangunan itu terlihat seperti bangunan lama yang seperti tidak terurus berbeda dengan bangunan utama disampingnya.
"Kenapa kita kesini? Apa kau mau menyuruhku masuk ke rumah hantu itu? Jungkook, apa kau sudah gila? Kau tau kan aku takut hal hal seperti ini." Jungkook yang mendengar itu hanya bisa diam, dia memutar matanya ke atas heran dengan kekasihnya ini. Tidak mau jika jin terus mengoceh Jungkook kemudian mengambil sebuah map yang sudah di simpan di belakang kursinya dan memberikannya kepada jin.
"Kenapa kau banyak bicara sekali yoebo, kalau aku mau menakutimu untuk apa aku membawamu kesini? Sudah, lihat dan baca ini." Jungkook menyerahkan map itu yang segera di terima dan dibaca oleh jin.
"Omo, waaahh.. Jungkook a, apa ini benar? Jadi, rumah ini sudah resmi jadi milikmu?"
"Tunggu, kenapa ini atas namaku?"
"Tentu saja atas namamu yoebo, apa kau mau aku menuliskan nama orang lain disana? Hah?"
"Apa maksudmu? Tidak, Maksudku kenapa bukan namamu yang ditulis disini?" Jin membolak balik berkas di tangannya, dia masih bingung
"Ini hadiahku untukmu yoebo. Selama ini kau selalu menolak kalau aku membelikanmu sesuatu, tenang saja media hanya akan tau nama pembelinya bukan pemiliknya."
"Hoaahh, padahal kita sudah punya apartemen lalu untuk apa kau membeli rumah ini?"
"Kalau apartemen itu kita tidak punya privasi yoebo, tapi ini rumah mu rumah kita jadi siapapun tidak ada yang bisa mengganggu kita. Aku mempersiapkan ini juga agar kelak kita bisa hidup bersama dengan tenang."
"Hitung hitung tempat ini bisa ku jadikan tempat lari kalau kita sedang bertengkar. Kekeke" gurau Jungkook memecah suasana, dia tau kalau jin sudah mulai berkaca kaca. Entah, Jungkook sangat tidak suka melihat jin saat dia menangis tidak peduli walaupun itu tangis bahagia. Baginya dia hanya ingin melihat senyum di wajah kekasihnya itu.
"Oowwww.. kau bahkan sudah menyiapkan itu. Hahaha" suara tawa jin benar benar memenuhi mobil itu.
"Bagaimana? Apa kau senang yoebo?"
"Tentu saja aku senang jungkookie, tapi belum benar benar senang karena rumah itu masih tampak seram. Hiii" jin memeluk lengannya sendiri dengan gestur takutnya.
"Bwahaha," Jungkook tertawa melihat kelakuan kekasihnya itu.
"Kita harus sabar dulu yoebo, aku masih mengurus surat ijin untuk membangun rumah ini sebelum merobohkannya."
"Eoh, kenapa harus dirobohkan?"
"Bangunan sudah cukup tua yoebo, aku tidak mau kalau nantinya akan membahayakan kita." Jin hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan Jungkook, bibirnya membentuk huruf o yang membuat Jungkook teralihkan pandangannya.
"Yoebo, jangan lakukan itu dengan bibirmu. Kalau tidak aku akan memakanmu sekarang juga."
"Mwo? Apa yang aku lakukan?"masih dengan bibirnya yang masih saja mengerucut sambil mengomel, Jungkook sudah tidak tahan lagi, diapun mendekatkan tubuhnya ke arah jin dan mencium bibirnya. Cukup lama bibir mereka bertautan, badan mereka semakin panas dan nafas sudah semakin memburu. Tidak mau kelepasan jin segera mendorong Jungkook ke belakang.
"Kita masih di jalan Jungkook,"
"Ah iya, baiklah ayo kita segera pulang, aku tidak sabar membuka hadiahku. Kekeke" Jungkook mengerlipkan matanya ke arah jin
"Yak, seharusnya aku yang mengatakan itu."
"Sama saja yoebo" Jungkook pun segera melajukan mobilnya kembali ke apartemen jin. Entah apa lagi yang akan mereka lakukan, yang jelas keesokannya mereka terlambat sampai ke kantor untuk latihan.
************************************
⭐🌜Happy Reading 🌛⭐
KAMU SEDANG MEMBACA
The Truth Untold || Jinkook
FanfictionMungkin seharusnya jungkook dan jin lebih terbuka dengan perasaanya, tapi mereka sadar jika perasaan mereka ini tidak akan bisa diterima oleh semua orang, lalu apa yang mereka lakukan selanjutnya?
