_____________________________
Happy Reading!
_____________________________
°
"Jasmine! Jasmine!" Jisu mengetuk pintu rumah Jasmine dengan membabi-buta. Di sebelahnya, berdiri dua orang polisi yang sudah bersiap siaga menunggu pintu yang terbuka.
Begitu Jasmine membuka pintu, Jisu langsung memeluknya dengan khawatir.
"Jasmine?! Kau baik-baik saja?! Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk, kan?!"
"Jisu...." Raut wajah Jasmine bingung. Dia melirik kedua polisi yang dibawa temannya itu.
"Siapa yang datang, Jasmine?" Killian muncul dari balik punggung Jasmine, menatap Jisu dan kedua polisi itu bergantian.
"Dia, Pak! Dia!" Jisu menunjuk Killian penuh amarah. "Dia yang berusaha menyakiti teman saya ini!"
Kedua polisi itu mengangguk. Mereka langsung menerobos masuk dan meringkus Killian di tempat.
"Hei! Apa yang terjadi?!" Killian berteriak marah.
"Nona Jisu Choi melaporkan kepada kami bahwa Anda berusaha menyakiti temannya, Nona Jasmine Sanders," ungkap salah satu polisi.
"Aku tidak menyakiti Jasmine!" bentak Killian. Matanya mendelik marah. "Mana buktinya?! Apa kau bisa memberiku bukti bahwa aku menyakiti Jasmine?! Kalau aku menyakitinya, Jasmine tidak mungkin membuka pintu untuk kalian!"
Polisi di sisi kiri Killian membuka suara. "Nona Jisu Choi, tolong tunjukkan bukti yang tadi Anda berikan pada kami."
Jisu sibuk meraba hoodie yang dikenakannya. Ia mengambil ponselnya lalu menggulir layar itu sebentar.
"Ini!" Jisu menunjukkan isi ponselnya.
Jasmine Sanders
Kau benar Jisu
Dia bukan robot
Jisu
Pergi dari sana sekarang!
Aku akan datang
"Lihat!" Killian menunjuk layar ponsel Jisu dengan gerakan matanya. "Dimana bukti aku menyakitinya?! Dia bahkan tidak menyebutkan namaku!"
"Kau menyamar menjadi robot! Kau pasti berniat jahat padanya!" Jisu berkacak pinggang, menatap lelaki di depannya sengit. "Hei, bajingan. Kau apakan temanku, hah?! Jasmine tidak mungkin menyukaimu!"
"Aku menyukai Killian."
Ungkapan dari Jasmine itu membuat keempat orang di sana terdiam. Suasana hening beberapa detik sampai Jisu memecah keheningan tersebut.
"Jasmine?! Apa kau diancam olehnya?!" Jisu menggenggam lengan Jasmine, menggoyangkannya sedikit.
Gadis itu menggeleng. Dia menurunkan tangan Jisu pelan. "Jisu, kau salah paham. Kau lihat isi pesanku ini. Aku tidak mengatakan aku dalam bahaya. Aku hanya memberitahu kalau dia bukan robot."
Mendengar pernyataan Jasmine, Killian menghempas genggaman polisi pada tangannya. Lelaki itu merangkul pundak gadis favoritnya, menempelkan pipinya ke pipi Jasmine, lalu tersenyum mengejek ke arah Jisu.
"Kau membuat laporan palsu, Nona. Sekarang, dia adalah kekasihku. Dia bahkan mengakui hal itu sendiri. Kau juga tak punya bukti kuat untuk menangkapku." Ia kembali memberi atensi pada polisi. "Apa kalian akan memenjarakanku dengan bukti lemah ini? Kalian tidak takut reputasi kalian akan hancur?"
Kedua polisi itu saling berpandangan sebelum kemudian salah satunya angkat bicara. "Maaf, Nona Jisu Choi. Kami rasa ada kesalahpahaman di antara kalian. Kami tidak bisa menangkap Tuan Grisville karena tidak ada bukti kriminal yang terjadi. Bahkan Nona Sanders sudah mengakui itu juga." Kedua polisi itu menunduk. "Kami harus pergi. Kami harap Nona Jisu Choi tidak membuat laporan palsu lagi."
Jisu masih terhenyak di tempatnya berdiri meski kedua polisi tadi sudah pergi. Ia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi, tetapi tepukan pelan pada pundaknya membawa kesadarannya kembali.
"Jisu," bisik Jasmine lirih. "Kau yang bilang padaku bukan... kalau aku pasti bisa memilih pasanganku sendiri? Aku sudah memilihnya."
Jisu menengadah, menatap sahabatnya itu tak percaya. "Seharusnya aku tahu, kau juga gila seperti dia."
Killian tampak tak senang mendengarnya. Lelaki itu memandang Jisu dengan arogan. "Waras tak membuatmu menjadi menantu keluarga Grisville, Nona Choi."
"Aku tak bicara denganmu!" teriak Jisu.
Killian tersenyum aneh. "Kalau begitu, sekarang kau bangunlah, Teman Sejati."
Jisu tersentak.
Ia ada di ranjangnya saat ini dengan tubuh yang penuh peluh. Kepalanya pusing dan napasnya masih tak beraturan. Itu adalah mimpi yang aneh dan pertama kali sejak ia kehilangan kontak dengan Jasmine.
Apa dia baik-baik saja? Jisu mengerang sebal. Ia mengacak rambut frustrasi.
Setelah pesan terakhir Jasmine 6 bulan lalu yang mengatakan kalau Killian bukan robot, Jisu memang datang kesana dengan polisi, seperti yang ada di dalam mimpinya barusan, tetapi kenyataannya ketika ia sampai disana, Jasmine sudah tidak ada.
Rumah itu kosong dan ponsel Jasmine tak dapat dihubungi. Temannya itu hanya meninggalkan sticky notes di pintu dengan tulisan 'Aku akan ke mansion kakek'.
Masalahnya, Jisu tak tahu dimana itu. Akhirnya, dia tak bisa melaporkan hal ini kepada polisi karena tak ada bukti apapun yang muncul.
Jisu kira, ia akan kehilangan kontak dengan Jasmine selamanya. Namun, keesokan hari setelah ia bermimpi, sebuah bingkisan hadir di rumahnya. Saat Jisu melihat kartu pengirimnya, ternyata bingkisan itu berasal dari Jasmine.
Isi bingkisan itu adalah sepotong red velvet cake –kesukaan Jisu, dan sebuah amplop. Jisu lalu membuka amplop itu.
Hatinya mencelos ketika membaca kata demi kata yang tercetak disana.
--------------------------------------------------
I N V I T A T I O N
You are invited to celebrate the wedding of
Jasmine Sanders
&
Killian Grisville
Saturday, August 10th
6 o'clock pm
Pioneer Lane Road, Alandara
RSVP
--------------------------------------------------
_____________________________
End.
_____________________________
🤖
Hoho. Kisah dibalik apa yang terjadi setelah Jasmine chat Jisu. Tiba-tiba dikasih undangan. 😭
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗗𝗼𝘄𝗻 𝗙𝗼𝗿 𝗟𝗼𝘃𝗲 ✔
Fiksi UmumKompilasi cerita dark romance. "𝐈𝐧 𝐭𝐡𝐞 𝐫𝐞𝐚𝐥𝐦 𝐰𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐛𝐞𝐜𝐨𝐦𝐞𝐬 𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐬𝐢𝐨𝐧, 𝐰𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞'𝐬 𝐞𝐦𝐛𝐫𝐚𝐜𝐞 𝐭𝐮𝐫𝐧𝐬 𝐢𝐧𝐭𝐨 𝐚 𝐩𝐨𝐬𝐬𝐞𝐬𝐬𝐢𝐯𝐞 𝐠𝐫𝐢𝐩, 𝐞𝐯𝐞𝐧 𝐭𝐡𝐞 𝐬𝐰𝐞𝐞𝐭𝐞𝐬𝐭 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠...
