Side Story #9 - Introducing Hyperion Tempest

224 20 2
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________

Hyperion mengadakan acara pertemuan bulanan di mansion di atas bukit pada hari itu. Dengan George Sea sebagai wakil pimpinan yang baru saja dilantik, penyediaan jamuan dan perayaan ritual tetap direncanakan seperti biasanya.

Di atas podium yang disediakan, George memandang seluruh anggota Hyperion. “Perayaan malam ini akan dipimpin oleh saya selaku wakil pimpinan karena untuk kali ini, pemimpin Hyperion sedang tidak berada di tempat.”

Para anggota yang mayoritas mengenakan dress code hitam dan biru, hanya tertawa.

George tersenyum, ia melanjutkan. “Seperti biasanya, rundown akan dilakukan secara berurutan. Dimulai dari ritual, perayaan, pesta jamuan, lalu diskusi besar. Untuk anak-anak, dapat memperhatikan dan mempelajari apa yang terjadi karena segala aktivitas malam ini akan menjadi rutinitas bagi kalian di masa depan.”

Segera setelah George berbicara, dia mengambil sebuah topeng di dekat podium dan mengenakannya. Topeng itu melingkupi seluruh wajahnya, membuat dirinya nampak seperti sosok aneh yang berbahaya. Tingkah itu diikuti oleh seluruh orang dewasa yang ada di sana. Setelah topeng, mereka juga mengenakan jubah hitam yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Sementara para orang dewasa sibuk dengan urusannya sendiri, di ruangan kecil yang ada di sebelah ruangan berpodium itu, putra dan putri mereka menyaksikan dengan alis berkernyit.

“Kenapa mereka menggunakan topeng jelek itu?” komentar Kristal Che, putri dari Barron Che.

“Sungguh tidak fashionable sekali.” Bianca Snow ikut berkomentar. Meski tidak berteman dekat dengan Kristal, putri dari Wiley Snow itu menanggapi. “Kau benar. Entah siapa yang mendesain topengnya, tapi itu benar-benar jelek.”

Dari belakang, putra pertama Oliver Rua, Alister Rua datang dan mengacak rambut Bianca, menjahilinya. “Matamu selalu saja menilai pakaian orang seperti itu. Tak bisakah kau lihat dirimu sendiri, Bianca? Kau juga kadang berpakaian berlebihan. Make up yang kau gunakan saja entah berapa lapis.”

Bianca melotot. Dia memukul tangan Alister. “Diam kau! Jangan menggangguku!”

Namun, Alister kian jahil. Dia menyentuh pipi dan rahang gadis itu bahkan menggerayangi wajahnya seperti dinding.

Bianca memekik. Dia mendorong anak jahil itu dengan kesal. "Jangan menyentuh wajahku! Tidak higienis, Alister!"

"Ckck, Alister berhentilah menganggunya." Justin menyela pertengkaran kakaknya dengan putri Snow itu. "Kenapa kau sering sekali merusuhinya? Kau suka padanya?"

"Dia?" Alister mencebik. Matanya melirik Bianca. "Tidak mungkin aku suka dengan si cebol ini."

"Kau!" Bianca menginjak kaki Alister, menyebabkan lelaki 18 tahun itu memekik.

"Damn." Damian yang sejak tadi mengamati, kini berkomentar. "Deserve."

Aaric Grissham yang duduk di sebelah Damian tertawa. Sebagai anak tertua yang ada di sini, dia akhirnya menengahi. "Sudahlah. Hei, kenapa kalian jadi semakin ribut? Alister, duduk. Berhenti mengganggu Nona Bianca. Ingat apa kata para orang tua kalau kita harus memperhatikan seluruh proses ini dengan baik."

𝗗𝗼𝘄𝗻 𝗙𝗼𝗿 𝗟𝗼𝘃𝗲 ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang