Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Side Story #5 - The Death of Sergio Bianchi

258 31 0
                                        

_____________________________

Happy Reading!
_____________________________

°

Sergio sedang duduk di ruangannya yang ada di lantai lima Starlit Publishers. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di sini untuk menyembunyikan diri dari pengancam kaumnya. Dia sampai harus berpisah dengan keluarganya dan mencari perlindungan sendiri demi melindungi nyawanya.

Lelaki itu menimang-nimang ponsel. Entah kenapa hatinya mendadak rindu dengan kampung halaman. Melalui beberapa pertimbangan, ia akhirnya menghubungi salah satu kenalannya yang tinggal di Zabini, kampung halamannya. Begitu ia menemukan kontak yang dituju, ia langsung menekan tombol call.

"Ezekiel," sapa Sergio begitu teleponnya telah tersambung.

"Siapa?"

Sergio mengernyit. "Ini aku. Sergio."

"Oh, kau yang kabur dari Zabini itu ya?"

"Kabur apa–" Sergio memijit kening lelah. Ezekiel adalah satu-satunya orang yang memiliki akses telepon dengannya sehingga mau tidak mau Sergio hanya bisa menghubungi lelaki itu. "Aku tidak kabur. Aku sudah bilang padamu kalau kami dikejar. Aku tidak mungkin menetap begitu tahu ada seseorang yang sedang memburuku."

"Siapa yang memburumu?"

"Pemburu penyihir itu."

Ezekiel diam sejenak di seberang telepon.

Sergio kembali berbicara. "Aku sampai harus berpisah dengan keluargaku. Aku tidak tahu dimana orang tuaku. Yang kutahu, adik perempuanku saat ini menyamar menjadi orang biasa dan bersekolah di kota Altorch."

"Kalau begitu, kembali saja ke Zabini. Pemburu itu tidak akan tahu di mana Zabini berada," saran Ezekiel.

"Tidak semudah itu." Sergio mendesah lelah. "Kau tahu sendiri Zabini seperti apa. Kami para penyihir memang bisa mati jika berada di luar Zabini karena akan diburu, tapi saat di Zabini, aku dan keluargaku berharap lebih baik kami mati saja dibanding menetap di sana."

"Oh, kau dramatis sekali."

"Tapi aku benar kan?" Sergio mendengus. Lelaki itu bangkit dari kursinya dan memandang keluar jendela. "Aku heran, kenapa kau masih menetap di sana. Kalau aku jadi kau, aku lebih baik pulang saja. Ezekiel, kau ini pewaris tahta loh. Kenapa kau tidak mau menerima kewenangan itu dan justru memilih kabur ke Zabini? Kurasa tak ada orang segila dirimu."

Ezekiel tertawa keras di seberang telepon. "Siapa yang peduli dengan tahta gila itu?! Siapa yang mau mewarisi kerajaan dari wanita pengkhianat itu?!"

"Aku tahu kalau kau masih dendam dengan ibumu yang sekarang entah ada di mana, tapi tahta itu sudah di depan matamu, Ez. Kau keturunan satu-satunya. Bisa kau bayangkan sehancur apa kondisi rumah dan komunitasmu saat ini ketika kau memilih untuk kabur. Apalagi, kau kabur ke Zabini, kota yang bahkan tidak pernah tercatat di peta."

"Aku tidak punya apapun untuk ditunggu di sana," sahut Ezekiel dingin.

Sergio mengernyit. "Adikmu? Kau tidak penasaran dimana adik perempuanmu berada?"

Ezekiel terdiam.

"Ayolah, Ez. Pacar ibumu itu sudah mati. Ibumu menghilang entah ke mana dan adikmu bisa saja masih hidup," bujuk Sergio. "Keluarlah dari Zabini dan nikmati hidupmu sebagaimana mestinya."

Saat Ezekiel masih belum menjawab, ada langkah kaki yang terdengar di belakang Sergio. Menyadari kehadiran orang lain, lelaki blonde itu lalu membalikkan badan.

𝗗𝗼𝘄𝗻 𝗙𝗼𝗿 𝗟𝗼𝘃𝗲 ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang