prolog

145 5 0
                                        

Imah adalah definisi kecantikan yang paripurna. Parasnya yang ayu dan pembawaannya yang menarik selalu berhasil mencuri perhatian siapa pun yang memandang. Tak terkecuali Indra, sang gitaris dari boy band ternama yang tengah naik daun malam itu.
​Di atas panggung, Indra tak bisa melepaskan pandangannya dari satu titik di kerumunan: Imah. Gadis itu tampil modis, tampak begitu menikmati setiap nada yang dipetik Indra. Seulas senyum yang tak lepas dari bibir Imah membuat Indra seolah kehilangan fokus pada grip gitarnya.
​Begitu lagu terakhir usai, Indra segera menepi, sementara Ivan rekan band-nya yang berparas tampan dan berkulit sawo matang langsung turun menemui seseorang.

​"Gimana tadi? Penampilanku keren, kan?" tanya Ivan sambil menyeka keringat, menatap Hanifah dengan hangat.

​"Keren banget! Aku sampai nggak berhenti tepuk tangan," sahut Hanifah dengan senyum manis yang memamerkan lesung pipinya. Hanifah adalah sahabat karib Imah. Kulitnya yang putih bersih membuatnya tampak sangat cantik malam itu.

​Mata Ivan kemudian beralih ke sosok di samping Hanifah. "Eh, ini siapa, Fah? Kamu belum kenalin ke aku."

​"Oh iya, ampun! Sampai lupa karena saking serunya," Hanifah tertawa kecil lalu menyenggol lengan Imah pelan. "Mah, kenalin ini Ivan. Van, ini Imah, sahabat terbaikku yang paling cantik."
​Ivan tersenyum ramah dan mengangguk sopan.

"Ternyata benar kata Hanifah, sahabatnya jauh lebih cantik aslinya daripada di cerita. Salam kenal ya, Imah"  Ujar Ivan tulus tanpa kesan menggoda yang berlebihan.
​Imah tersenyum tipis dan menjabat tangan Ivan singkat.

"Salam kenal juga, Ivan." Ujar imah sembari tersenyum tipis.

​"Imah ini saksi hidup loh, Van. Dia bosen dengerin aku cerita soal kamu terus," canda Hanifah yang membuat suasana jadi lebih cair.

​"Wah, kalau gitu aku harus minta maaf sama Imah karena udah bikin telinganya panas denger ceritaku," balas Ivan sambil terkekeh. Ia kemudian melirik jam tangannya.

"Eh, udah jam sebelas malam. Kalian mau langsung pulang? Udah larut banget, nggak baik kalau kalian masih di sini."

​"Iya, ini kita baru mau jalan pulang," jawab Hanifah.

​"Hati-hati ya di jalan. Maaf aku nggak bisa antar karena masih harus briefing sama anak-anak band," ujar Ivan sambil memberikan tatapan perhatian pada Hanifah.

​"Iya, nggak apa-apa. Semangat ya kerjanya! Ayo, Mah," ajak Hanifah sambil melambaikan tangan ke arah Ivan.

​Selama perjalanan pulang, Imah lebih banyak diam. Namun, matanya sesekali mencuri pandang ke arah panggung. Di sana, ia mendapati Indra masih berdiri, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka sempat saling beradu pandang dan melempar senyum. Meski ada rasa aneh yang menjalari hatinya, Imah berusaha tetap tenang, meski jujur saja ia merasa sedikit lelah terus-menerus menjadi "nyamuk" di antara sahabatnya dan kekasihnya.

​"Fah, sadar nggak sih? Tadi ada orang yang ngelihatin kita terus tau," cetus Imah setelah mereka agak jauh dari kerumunan.

​"Masa? Siapa?" tanya Hanifah penasaran.

​"Gitaris tadi itu loh. Ngelihatin aku terus. Kamu sih, asyik pacaran sampai nggak sadar sahabatmu ini risih dipandangi terus," keluh Imah sambil mengerucutkan bibirnya.

​Hanifah tertawa geli lalu mencubit pipi Imah. "Duh, itu namanya dia terpesona, Imah! Makanya, cari pacar dong, biar nggak sendirian terus kalau aku lagi sama Ivan."

​"Ih, Hanifah! Aku serius!" Ujar imah dengan   nada kesalnya.

​"Iya, iya. Nanti aku coba tanyain Ivan, ya. Setahuku namanya Indra. Dia emang paling pendiam di band itu," jelas Hanifah menenangkan.

​"Iya, mungkin. Ya sudah, aku duluan ya, Fah. Sampai ketemu besok! Dadah!" Imah melambaikan tangan dan berbelok menuju rumahnya.

​Sementara itu di area panggung, Indra yang sedari tadi menunggu Ivan segera menghampiri sahabatnya itu dengan langkah terburu-buru.

​"Eh, Van! Tadi itu siapa?" tanya Indra tanpa basa-basi.

​Ivan mengernyit bingung. "Siapa? Apanya, Ndra?"

​"Itu loh, cewek yang berdiri di samping pacar lo tadi!" seru Indra semangat.
​Ivan langsung paham. Ia menyeringai lebar.

"Oh, itu namanya Imah. Kenapa? Lo naksir ya? Tenang, nanti gue kenalin kalau kita ketemu lagi."

​"Nah, gitu dong! Paham aja lo. Makasih ya, Bro!" Indra menepuk bahu Ivan dengan wajah sumringah.

​"Sama-sama, Bro. Gue kenalin biar lo nggak jomblo lumutan," ledek Ivan sambil mengajak tos kepal yang langsung disambut tawa oleh Indra.

​Setelah semua peralatan beres dan urusan administrasi selesai, tim mereka pun bersiap pulang. Namun, Indra memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia memilih untuk menginap di rumah Ivan, barangkali ia bisa mengorek informasi lebih banyak tentang gadis bernama Imah itu.

​"Gimana menurut kalian buat bab awal ini? Kira-kira Indra bakal nekat deketin Imah lewat Ivan, atau punya cara sendiri ya? Jangan lupa vote dan tulis komentar kalian di bawah, aku tunggu ya! Sampai ketemu di bab selanjutnya! ✨"

Berjuang Di Kaki SendiriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang