Sejak malam konser itu, wajah Imah seolah terpatri permanen di ingatan Indra. Padahal, sebagai gitaris band ternama, Indra sudah terbiasa dikelilingi wanita cantik, bahkan mungkin banyak yang lebih rupawan dari Imah. Namun, tak satu pun dari mereka yang mampu menggetarkan hatinya sedalam ini. Hanya pada Imah, Indra merasa yakin bahwa gadis itulah sosok yang ia cari seseorang yang ia bayangkan akan menjadi pendamping hidup sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak.
Saat sedang melamunkan senyum gadis itu, sebuah notifikasi WhatsApp dari Ivan memecah keheningan.
Ivan: Bro, nanti malam jam 19.30 jadi ya. Gue udah ajak Hanifah, dia bakal bawa Imah juga. Jangan lupa pakai baju yang paling ganteng! Haha.
Indra: Oke, aman. Gue udah siapin baju hitam. Beneran dia diajak kan? Awas lo bohongin gue.
Ivan: Beneran, Bos! Tadi Hanifah udah confirm. Gue kasih jalan nih, jangan sampai kaku lo di depan cewek cantik. Buruan jalan, gue otw lokasi pasar malam.
Indra: Sip. Thanks, Van. Utang budi gue sama lo.
Membaca pesan itu, Indra langsung tersenyum lebar. Tanpa membuang waktu, ia menyiapkan setelan terbaiknya: baju hitam, celana hitam, dan jaket hitam senada yang membuatnya terlihat sangat gagah dan karismatik.
Di sisi lain desa, bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya jam pelajaran. Setelah menjawab salam dari guru, Hanifah segera menghampiri meja Imah dengan wajah ceria.
"Mah, nanti malam ikut aku ya? Kita jalan-jalan ke pasar malam," ajak Hanifah dengan senyum manisnya.
Imah yang masih sibuk merapikan buku ke dalam tas menyahut singkat, "Iya, tapi nanti jemput aku ya."
"Siap, tenang saja! Kalau begitu aku pulang duluan ya, Mah!" Hanifah melambaikan tangan yang langsung dibalas oleh Imah.
Imah memang seorang primadona di desanya. Meski banyak laki-laki mencoba mendekatinya, ia tak pernah sekali pun luluh. Terlebih lagi, perbedaan usia yang cukup jauh antara dirinya dan Indra menambah kesan misterius dalam rencana pertemuan mereka nanti malam.
Malam tiba. Cahaya lampu pasar malam mulai menghiasi langit desa. Hanifah menjemput Imah dan mereka langsung meluncur ke lokasi. Sesampainya di sana, ternyata Indra dan Ivan sudah menunggu di dekat gerbang masuk.
"Hai! Sudah lama ya nunggunya?" tanya Hanifah sambil melepas helm. Imah hanya diam, namun jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok jangkung berjaket hitam di samping Ivan. Benar, cowok itu ada di sini, batinnya bergejolak.
"Enggak kok, baru saja sampai. Ya kan, Ndra?" Ivan menyenggol lengan Indra.
Indra berdeham, mencoba menetralkan kegugupannya. Ia melangkah maju dan mengulurkan tangan ke arah Imah.
"Aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya. Boleh kenalan? Namaku Indra."
Imah sempat ragu sejenak sebelum menyambut uluran tangan itu.
"Aku Imah, temannya Hanifah." Keduanya sempat mematung saling menatap, membuat Hanifah dan Ivan saling lirik sambil menahan tawa.
"Ehem! Kenalannya sudah, pegangan tangannya jangan kelamaan dong," celetuk Ivan jail.
"Ih, kamu ini kebiasaan deh!" Hanifah menarik tangan Ivan untuk masuk lebih dulu, meninggalkan Imah dan Indra yang berjalan pelan di belakang, menikmati semilir angin malam yang mulai menusuk tulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berjuang Di Kaki Sendiri
Teen FictionSebuah kisah tentang ama dan perjuangan hidupnya, ujian hidup, pertemanan, cinta, ekonomi, dan keluarganya. akan kah dia bisa menaklukkan seluruh masalah yang dia hadapi? Atau malah dia mati di tangannya sendiri?
