Penulis: Moonichi
Hembusan angin panas, tidak lagi sejuk seperti semula. Lengkungan-lengkungan pegunungan meliuk-liuk di antara dataran rendah, tampak kokoh berdiri dengan dedaunan mirip bulu yang melindungi. Hijaunya menentramkan netra, kepala seakan sejuk meski tak diterpa angin lembut. Di dekat jalanan yang berbau aspal dengan beberapa lubang, dipijaknya dan menolak tumpangan motor karena enggan. Satu-satunya keinginan Jenaka ialah mengeksplorasi alam di kampung halaman, meski begitu banyak perubahan setelah ia tinggalkan, tetapi pohon-pohon yang tidak punah ditebang merupakan hal yang paling menenangkan.
Teriris kesadaran kala membandingkan negeri dengan pelosok lokasi berbeda identitasnya, memiliki iklim yang sama tetapi situasinya berbeda. Pepohonan di gunung ditebang, ladang-ladang diratakan, dibuat melebae untuk dikeraskan dengan semen dan aspal. Lereng tempat binatang buas beranak-pinak diletupkan, banyak yang kehilangan rumah hingga linglung dan menjemput ajal, dikarenakan keserakahan manusia pada alam yang dibuat tidak dapat didaur kembali.
Jenaka berhenti melangkah, melihat danau yang dikelilingi gunung tinggi di seberang sana, dan menghirup udara yang kurang sejuk terasa. Pemanasan global menyiksa. Akan tetapi yang paling mengiris hati ialah danau yang tidak lagi bersih, banyaknya sampah plastik d lumpur abu yang terdapat pada pinggirannya yang menyurut, juga yang mengapung di atas airnya. Jenaka berjongkok di tepi danau, melihat warna air yang keruh dan tidak menampakkan kehadiran ikan yang ketika kecil, dahulu ia buru untuk dibakar ibu. Jenaka menghenbuskan napasnya, hangat, juga kecewa, dikarenakan manusia yang semakin tamak dan tidak memiliki kesadaran penuh pejagaan alam membunuh diri mereka perlahan-lahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAGA
AléatoireNAGA atau Narasi Gambar adalah kegiatan mingguan Country of Literacy yang dilaksanakan setiap hari Selasa. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan imajinasi dan kreativitas para member Country of Literacy. Dan kegiatan ini juga membantu...
