Agatha Kayshafa.
Dijadikan bahan taruhan oleh sepupunya sendiri dengan seorang laki-laki yang memenangkan balapan mobil malam itu.
Pradeepa Theodore.
Tepat sebelum balapan, ia malah salah fokus mendapati seorang gadis yang beraroma sangat memabukka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kakkkk! Kamu yang benar fotoinnya. Masa gitu doang nggak bisa?!" Sejak sampai di sebuah taman hiburan. Agatha sudah excited berpose se-kece mungkin. Tapi, lelaki ini—Theodore, tidak ada serius-seriusnya mengabulkan permintaan Agatha untuk memotretnya dengan benar.
"Mau pamer ke siapa?"
"Nggak ada, buat kenang-kenangan aja, Kak." Agatha mengambil ponselnya dari tangan Theo. "Sini aku contohin, Kakak berdiri di sana."
Cekrek...
"Tuh, Kakak tuh harus fotoin dari angle bawah, biar kelihatan tinggi."
Theo hanya tersenyum tipis melihat Agatha yang begitu bersemangat mengajarinya. "Oke, oke, aku coba lagi," katanya sambil mengangkat ponsel dan mencari angle yang lebih baik. Kali ini, dia berjongkok sedikit, mengikuti arahan Agatha.
Agatha berdiri dengan pose yang tak kalah menarik, melemparkan senyum manis dan menatap ke arah kamera. Theo memfokuskan kameranya, mencoba untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Cekrek...
Suara kamera terdengar lagi, dan Agatha buru-buru mendekat untuk melihat hasilnya.
"Nah, ini baru keren!" Agatha berteriak girang. "Kak, lihat kan? Ini baru namanya foto yang bener!"
Agatha yang cantik dan bersemangat tampak begitu mempesona di bawah sinar matahari sore. Wajahnya yang cerah dengan senyum yang selalu tersungging, ditambah rambutnya yang berkilau tertiup angin, membuatnya tampak seperti sosok yang tak mungkin diabaikan.
Theo berjalan di sampingnya, tapi bahkan dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Agatha. Namun, mereka bukan satu-satunya yang terpikat oleh pesona Agatha. Beberapa pria yang mereka lewati tak bisa menahan diri untuk tidak menengok dua kali, bahkan ada yang berhenti sejenak.
Agatha, yang tidak sadar dengan perhatian yang diterimanya, terus bercerita dengan riang, sesekali tertawa kecil dengan mata yang berbinar. Setiap kali dia tertawa, ada kilauan yang membuat siapa pun yang melihatnya ikut merasa bahagia, seolah-olah mereka juga ingin tertawa bersamanya.
Theo, yang menyadari tatapan-tatapan dari orang-orang di sekitar mereka, tak bisa menahan rasa cemburu. Dia mempererat genggaman tangannya di tangan Agatha, seakan ingin memberitahukan kepada dunia bahwa gadis ini miliknya.
"Kenapa Kak?" tanya Agatha, menyadari perubahan sikap Theo yang tiba-tiba jadi lebih protektif.
Theo menggeleng dan tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa cemburunya. "Kita pulang sekarang."
"Pulang?" Agatha sedikit heran, setiap bersama Theo, Agatha tidak pernah pulang cepat.
Theo terdiam sejenak, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat. "Iya, kita pulang sekarang," ucapnya dengan nada lembut. Wajahnya masih tersenyum, tapi ada sesuatu dalam matanya yang membuat Agatha merasa penasaran.