44. Love is Beautifully painful

61.7K 3.3K 85
                                        

"Ngomong-ngomong, Alina, bisa gue pinjam sepupu lo sebentar?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ngomong-ngomong, Alina, bisa gue pinjam sepupu lo sebentar?"

Alina tampak kaget.

Dia bisa berbahasa indonesia? Dan mengenal Agatha?

"Pinjam? Untuk apa?"

"Urusan pribadi," jawab Theo singkat, langsung menoleh ke Agatha. "Ikut aku."

Agatha ragu, melirik Alina yang jelas tidak suka dengan permintaan itu. Namun, sebelum Alina sempat protes, Theo sudah menggenggam pergelangan tangan Agatha dan menariknya pergi.

Mereka berhenti di sudut ruangan yang lebih sepi. Theo melepaskan tangannya, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksabaran. "Kenapa kamu nggak nyamperin aku tadi?"

Agatha menatap Theo dengan ekspresi dingin. "Kenapa aku harus nyamperin Kakak? Kakak bahkan nggak bilang kalau datang ke acara ini."

Theo mendengus pelan, matanya tajam. "Aku sibuk, Agatha. Banyak yang harus aku urus."

"Sibuk? Itu alasan Kakak?! Aku nggak masalah kalau kamu sibuk, Kak Theo. Tapi aku masalah kalau kamu mulai nggak peduli!"

Theo mengerutkan kening. "Nggak peduli?"

"Setelah aku nunggu sejam di kampus tanpa kabar apa-apa dari Kakak?!" Agatha melipat tangan di depan dada, nadanya penuh emosi. "Kalau nggak bisa datang, Kakak tinggal bilang. Apa susahnya?!"

"Aku lupa, oke? Aku lupa, karena aku harus ngurus perusahaan ini dan—"

"Selalu alasan!" potong Agatha. "Setiap kali aku butuh kamu, selalu ada alasan. Kamu bilang aku penting, tapi tindakan kamu nggak pernah menunjukkan itu!"

Theo mendekat. "Jangan berlebihan, Agatha. Aku udah bilang aku sibuk. Aku nggak punya waktu buat drama."

Agatha terdiam, terkejut mendengar ucapan itu. Perlahan, dia tertawa kecil. "Drama? Jadi aku ini cuma drama?"

Theo membuka mulutnya untuk menjawab, tapi Agatha mengangkat tangan, menghentikannya. "Kamu tahu, Kak Theo? Aku mulai merasa kalau aku ini cuma salah satu dari banyak hal yang kamu anggap remeh."

"Agatha—"

"Nggak. Dengerin aku," potong Agatha. "Aku nggak minta banyak dari kamu. Aku cuma mau kamu jujur. Kalau kamu memang udah nggak peduli, bilang aja. Aku nggak akan maksa kamu untuk tetap ada di sini."

Theo terdiam, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Aku nggak pernah bilang aku nggak peduli."

"Tapi kamu juga nggak pernah tunjukkan kalau kamu peduli," jawab Agatha dengan suara gemetar. "Aku capek jadi orang yang terus menunggu. Kalau kamu nggak mau berusaha, aku juga nggak akan terus-terusan berharap."

Agatha memutar tubuhnya, bersiap pergi, tapi Theo meraih pergelangan tangannya lagi. Kali ini lebih lembut.

"Agatha, tunggu."

Say My NameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang