Agatha Kayshafa.
Dijadikan bahan taruhan oleh sepupunya sendiri dengan seorang laki-laki yang memenangkan balapan mobil malam itu.
Pradeepa Theodore.
Tepat sebelum balapan, ia malah salah fokus mendapati seorang gadis yang beraroma sangat memabukka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar di belakang mereka. Jonathan datang membawa tim medis segera masuk ke ruangan, menemukan Agatha yang berlumuran darah memeluk Theo erat-erat.
"Dokter! Cepat!" teriak Jonathan panik, berlari ke arah mereka.
Agatha tidak melepaskan Theo, bahkan saat paramedis mencoba memisahkan mereka. "Tolong selamatkan dia! Tolong!" isak Agatha tanpa henti.
***
Sudah beberapa hari Theo belum juga sadarkan diri, Agatha dengan telaten mengelap bulir keringat di dahi Theo.
"Kak, kamu kalo tinggalin aku, aku cari cowok baru, ya! Emang kamu nggak cemburu?" ucap Agatha meski tahu Theo tidak akan menjawab.
Agatha menghela napas panjang, menatap wajah Theo yang pucat di depannya. "Kak, kamu itu egois banget. Aku nggak boleh deket sama cowok lain, tapi kamu malah tidur terus. Gimana aku nggak kesel coba?"
Agatha terdiam sebentar. "Tapi kamu tahu nggak? Aku nggak bakal beneran cari cowok lain, karena nggak ada yang bisa gantiin Kakak."
Agatha memegang tangan Theo erat-erat. "Jadi bangun, ya? Please, atau gini deh, kalau kamu tiba-tiba bangun sekarang, aku cium kamu sampai—"
"Sampai apa?"
Agatha terkejut sontak melompat dari kursinya, "Kak Theo!" Agatha panik bercampur senang, "Sebentar aku panggil dokter." Agatha yang hendak pergi segera ditahan oleh Theo.
"Jangan pergi," ujar Theo dengan suara serak, tangannya lemah tapi cukup kuat untuk menahan pergelangan Agatha. "Aku cuma mau lihat kamu dulu."
Agatha berhenti. "Kak, kamu baru sadar!"
Theo tersenyum. "Aku denger semua, loh. Katanya mau cium aku sampai... apa tadi?"
Wajah Agatha langsung memerah. "K-Kak! Kamu tuh... masih sempet-sempetnya!" Ia buru-buru melepaskan genggaman Theo.
Theo tertawa pelan. "Aku nggak nyangka, kamu segitu pedulinya sama aku. Bahkan ngancem mau cari cowok lain. Tapi..." Tatapan Theo melembut. "Aku tahu kamu nggak akan."
Agatha mengerucutkan bibir, menatap Theo dengan tatapan penuh protes. "Aku serius tadi, Kak. Kalau kamu sampai nggak bangun..."
"Lihat, aku di sini. Masih ganteng."
"Kak Theo!" Agatha memukul pelan lengan Theo, lalu tertawa kecil. "Iya, ganteng. Tapi nyebelin."
Theo mengangkat tangannya yang lemah, menyentuh pipi Agatha dengan lembut. "Maaf bikin kamu khawatir."
Agatha mengangguk, menggenggam tangan Theo yang menyentuh pipinya. "Iya. Tapi kamu harus janji, Kak. Jangan pernah kayak gini lagi."
Theo menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Janji."