Agatha Kayshafa.
Dijadikan bahan taruhan oleh sepupunya sendiri dengan seorang laki-laki yang memenangkan balapan mobil malam itu.
Pradeepa Theodore.
Tepat sebelum balapan, ia malah salah fokus mendapati seorang gadis yang beraroma sangat memabukka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Theo membuka matanya perlahan. Pandangan awalnya buram, tapi kemudian dia menyadari kehadiran seseorang di sampingnya. Matanya langsung tertuju pada seseorang—Agatha, yang tertidur dengan kepala bersandar di tempat tidurnya. Tangan gadis itu erat menggenggam tangannya.
Theo menatapnya lama, perasaan hangat menjalar di dadanya. Ia ingin membangunkannya, tapi tidak tega. Sebaliknya, Theo hanya menggerakkan jarinya pelan, mengelus punggung tangan Agatha.
Gerakan kecil itu ternyata ampuh membuat Agatha terbangun, Theo kembali menutup matanya. Pura-pura tidur.
Agatha mengerjap pelan, mencoba memahami situasi saat ia bangun. Pandangannya langsung jatuh pada tangan Theo yang masih ia genggam. Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari posisinya.
Agatha mengangkat kepalanya, menatap wajah Theo yang tampak damai dalam tidurnya. "Kak Theo..." gumam Agatha pelan, seperti memastikan lelaki itu masih ada di sana.
Wajah Theo terlihat begitu tenang, ada beberapa luka kecil di pipinya. Agatha menelan ludah, hatinya terasa penuh oleh rasa bersalah dan lega yang bercampur aduk.
"Kamu bikin aku takut setengah mati," bisik Agatha, tanpa menyadari bahwa Theo mendengar setiap kata. "Tapi ya ampun... Kakak tetap aja ganteng, bahkan waktu kayak gini."
Theo, yang sebenarnya sudah terjaga, hampir saja tersenyum mendengar pujian itu. Tapi ia menahan diri, tetap pura-pura tidur.
Agatha menghela napas panjang, matanya tetap terpaku pada wajah Theo. "Aku nggak ngerti, Kak. Kamu bisa bikin aku kesel banget, tapi sekaligus bikin aku nggak bisa jauh."
Agatha berhenti sejenak, menundukkan kepala. "Aku minta maaf, ya. Kalau aja aku nggak... ah, aku bodoh banget semalam."
Theo merasa hatinya hangat mendengar nada penyesalan di suara Agatha. Tapi ia tetap tidak bergerak, menikmati hal ini tanpa menyela.
"Kamu harus sembuh, ya, Kak," lanjut Agatha dengan suara pelan. "Aku janji nggak bakal marah-marah lagi... mungkin." Agatha tersenyum kecil, matanya sedikit berkaca-kaca.
Tiba-tiba, Theo memutuskan untuk menggerakkan tangannya lagi, kali ini menggenggam tangan Agatha lebih erat. Agatha terkejut, matanya melebar.
"K-Kak Theo?" panggil Agatha dengan suara gemetar.
Theo membuka matanya perlahan, tatapannya langsung bertemu dengan milik Agatha. "Kalau kamu janji nggak bakal marah-marah lagi, aku udah sembuh," ucap Theo dengan suara serak.
Wajah Agatha langsung memerah. "K-Kak Theo! Kakak denger apa aja?"
Theo tersenyum kecil. "Cukup untuk tahu kalau kamu nggak bisa jauh dari aku."
"Kak! Kamu nyebelin banget!" protes Agatha, berusaha menarik tangannya, tapi Theo tidak melepaskannya.
"Dan kamu terlalu manis kalau lagi marah-marah kayak gitu," balas Theo, tatapannya melembut. "Jadi, jangan pergi ke mana-mana, ya."