40. Nxde Video

65.9K 3.5K 85
                                        

"Maaf, sayang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maaf, sayang. Kita sama-sama mabuk semalam."

Agatha, yang sedang duduk di sofa sambil memegang gelas teh, langsung mengangkat wajahnya. "Terus?"

Theo berdiri dengan santai di depan jendela, menatap Agatha dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue ingat satu hal penting... semalam kayaknya kita ngelakuin itu."

"Itu apa?" Agatha mengernyit, merasa perutnya mulai bergejolak karena ucapan Theo. "Enggak, kan? Jangan bercanda!"

"Having sex."

Agatha hampir menjatuhkan gelas teh di tangannya. "Kak, nggak lucu! Jangan ngelantur, deh."

Theo berbalik, menghampiri Agatha dengan langkah santai tapi pasti. "Gue serius. Ada CCTV di ruangan semalam. Mau cek?"

Agatha memandangnya dengan ekspresi ngeri bercampur panik. "Direkam?!"

Theo mengangguk, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris terlihat sebagai sebuah kemenangan. "Iya, sayang."

Agatha menatap Theo dengan ragu. "Bercanda, kan? Kakak nggak beneran merekam, kan?"

Theo mengangkat bahu santai, lalu duduk di sebelah Agatha. "Karena udah terlanjur gitu, gue bersedia menikahi lo saat ini juga."

"Kak Theo!" Agatha meletakkan gelas teh di meja, lalu melipat tangan di dada. "Kakak makin ngelantur, ya?"

Theo menghela napas berat, lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Agatha. "Gue nggak bercanda, Agatha. Gue lebih mikirin kalau lo hamil. Semalam kita sama-sama di luar kendali... dan gue nggak pakai pengaman."

Agatha terdiam, pipinya memerah, tapi matanya berkilat marah. "Jangan asal nuduh! Itu cuma mabuk biasa, dan aku rasa nggak mungkin!"

Theo menatapnya dengan intens, mencoba membaca setiap reaksi dari wajah gadis itu. "Lo lupa? Gue nggak. Semalam kita...berkali-kali."

"Kak Theo!" Agatha berdiri, merasa wajahnya semakin memanas. "Itu nggak mungkin!"

Theo ikut berdiri, memandangnya tanpa gentar. "Lo juga tahu lo lagi masa subur, kan? Gue nggak mau ambil risiko. Kalau lo beneran hamil, gue nggak akan biarin lo jalanin itu sendirian."

Agatha menggeleng, berusaha mencari jawaban. "Pertama kali nggak langsung bikin hamil, Kak!"

Theo tersenyum kecil, seolah sedang menghadapi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. "Kalau cuma sekali, mungkin. Tapi semalam... gue rasa kita ngelakuin itu lebih dari sekali."

Agatha memelototinya, merasa ingin menangis tapi juga kesal. "Kenapa sih Kak Theo kayak gini? Ngomongnya bikin aku panik!"

Theo mendekat, menyentuh bahunya dengan lembut. "Gue nggak mau lo cemas sendirian. Gue serius, Agatha. Kalau lo mau, kita bisa nikah sekarang juga. Gue nggak mau nunggu."

Say My NameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang