43. Don't Ignore Me

66.1K 3K 90
                                        

Agatha yang baru saja selesai kelas langsung dihampiri teman-temannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Agatha yang baru saja selesai kelas langsung dihampiri teman-temannya. Mereka sudah heboh sejak mendengar kabar pertunangannya dengan Theodore.

"Jadi lo beneran tunangan sama Kak Theodore?" tanya Rani, salah satu teman sekelasnya, dengan mata berbinar-binar.

"Kating yang cakep itu?!" Lia ikut menyahut, menatap Agatha seolah dia adalah selebriti mendadak.

"Kok bisa? Cerita-cerita, gimana waktu dia deketin lo!" tambah Dina, yang duduk di meja sebelah.

Agatha merasa terpojok dengan rentetan pertanyaan itu. "Ya gitu deh," jawabnya singkat, mencoba menghindari topik itu lebih jauh.

"Ya gitu deh gimana? Jangan pelit cerita, dong!" seru Rani, setengah protes.

Lia memandang Agatha penuh rasa ingin tahu. "Lo nggak paham, Agatha. Kak Theodore itu udah kayak idaman semua cewek di kampus ini. Kapan kalian mulai deket? Pas Ospek?"

Agatha tersenyum canggung, tidak tahu harus menjawab apa. Kalau Agatha jawab pun, mereka pasti akan menggali lebih dalam.

Dina tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah Agatha, memasang wajah penasaran. "Jangan-jangan dia modus ke lo pas Ospek, ya? Lo yang sering kena hukuman, kan? Itu salah satu strateginya, ya?"

Agatha terkesiap, teringat bagaimana Theo sering memanfaatkan posisinya untuk menarik perhatiannya. Namun, dia tidak mau membuka rahasia itu. "Nggak kok. Dia cuma baik aja," jawab Agatha.

"Baik apanya?! Dia killer pas Ospek, tahu! Tapi ke lo beda banget," ujar Rani dengan nada dramatis.

Agatha menghela napas, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Udah, deh. Jangan dibahas lagi."

"Lo tuh beruntung banget," kata Lia, menatap Agatha dengan mata berbinar. "Cowok setampan dan sepintar Kak Theo itu kan langka. Lo tahu nggak? Kak Theo bahkan masuk list Most Eligible Senior tahun lalu."

Agatha hanya tersenyum kecil, tidak tahu harus merespons bagaimana.

"Eh, tapi-tapi, Agatha," Dina tiba-tiba mendekat, berbisik. "Lo nggak takut, gitu? Kak Theo itu kan terkenal punya banyak fans. Lo siap kalau mereka iri sama lo?"

Pertanyaan itu membuat Agatha terdiam sejenak. "Biasa aja, udah sore, kalian nggak pulang?" Agatha segera mengganti topik pembicaraan.

"Ohya! Gue punya appointment di salon. Ayo, Agatha, mau sekalian ikut kita nggak?" Rani langsung bangkit dari kursinya, menggandeng tangan Lia.

"Kayaknya enggak deh, gue udah ada janji."

"Sama Kak Theo, ya? Oke deh have fun sisttt!!"

Agatha hanya mengangguk kecil melihat teman-temannya sibuk sendiri. Ketika mereka akhirnya pergi, dia menghela napas pelan. Sepi. Padahal, biasanya suasana kampus di sore hari selalu jadi momen favoritnya.

Say My NameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang