Sudah tiga bulan sejak kejadian Izek dan Sachi di kereta kuda. Selama itu pula Izek mencoba untuk tidak terlalu mencolok sampai pernikahannya dengan Parvis berlangsung pagi tadi dan kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Parvis dan Izek berada di satu ruangan yang sama namun berbeda tempat. Parvis duduk di jendela sementara Izek merokok di balkon.
"Tuan Duke," Muak akan keheningan, Parvis memulai obrolan. "Ada yang perlu kubicarakan padamu."
"Katakanlah." Izek menyahuti lalu menghisap rokoknya lagi.
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini. Kau pun tidak terlihat mencintaiku jadi, kuputuskan untuk berterus terang dan mengaku kalau pernikahan ini adalah kedok bagiku." Ujar Parvis seraya melempar tatapan ke atas, memandang bintang-bintang yang sembunyi diantara awan mendung.
"Aku menjalin hubungan rahasia dengan Pangeran Mahkota, tapi kami belum bertemu lagi. Jika ini menyakiti hatimu, aku minta maaf." Nada bicara Parvis mendingin, belakangan ini sikapnya berubah. Beda dari Parvis diawal, tak ada keceriaan. Baginya berada di kediaman Izek sebagai istri pria otu adalah hukuman.
"Pangeran Mahkota sudah menikah bulan lalu." Izek mengingatkan, ia ada di acara pernikahan Lennox dan Victoria karena diminta datang dengan surat undangan eksklusif.
"Dia tidak bisa membatalkan pertunangannya waktu itu, dia tahu ada seseorang yang mencoba membuat kami salah paham. Entah siapa seseorang yang tega, sekarang aku tidak peduli." Sahut Parvis. "Dan aku tahu Victoria, dia mendekati Lennox untuk mendapat gelar sebagai menantu kerajaan. Dia ingin menjadi Ratu."
"Pengecut." Decih Izek. "Dia mencintaimu, tapi tidak berani menyakiti hati orang lain untukmu."
Parvis tersenyum getir. "Jangan menilainya begitu, kami sama-sama berjuang. Kau bicara mudah karena tak alami--"
"Aku jatuh cinta pada seorang gadis yang sayangnya merupakan anak ayahku bersama wanita lain." Potong Izek turut memaparkan kondisi cintanya yang tak tahu harus diperjuangkan lewat mana. "Aku dihadapkan pada dua pilihan; egois untuk menyembunyikannya dari dunia atau biarkan dia hidup bersama dunia."
"Aku mencintainya, aku ingin dia tetap hidup bersama dunia. Jadi, kujauhi dia tiga bulan belakangan ini."
"Sachi?" Tebakan Parvis langsung benar. "Warna mata kalian sangat mirip, persis."
"Jangan menyebutnya." Desis Izek tak senang. "Jangan buat orang-orang menyadari itu."
"Berarti kau tidak keberatan sama sekali dengan burukku?"
"Lakukan apapun yang kau mau, aku tidak peduli." Respon Izek dingin, selagi tak berdampak padanya atau Sachi maka Parvis berhak melakukan apapun.
"Terimakasih, aku jadi lega." Ungkap Parvis sekaligus malu pada dirinya sendiri karena berniat mencampur obat tidur pada makan malam Izek supaya pria itu terlelap sebelumnya.
"Aku jadi tidak perlu memasukan obat tidur ke makananmu diam-diam lalu pergi di tengah malam untuk menemui Pangeran Mahkota." Imbuh Parvis tak ditanggapi oleh Izek yang tengah asyik merokok.
"Dan untuk situasimu, kau telah melakukan hal benar. Kau mencintainya jadi tak ingin memerangkapnya seumur hidup apalagi menyembunyikannya dari dunia, dari orang-orang. Aku akan merahasiakan itu selamanya." Ucap Parvis untuk kali pertama bicara panjang lebar, sebab biasanya ia tidak pernah seintens ini dalam membahas suatu topik.
"Boleh aku pergi sekarang?" Pamitnya beranjak turun dari jendela.
"Ya," Izek menoleh sejenak saat memberi izin. "Semoga beruntung."
Sebelum meraih gagang pintu kamar, Parvis menoleh pada Izek dan membalas. "Bahkan jika Victoria tahu Lennox memiliki kekasih, dia akan menutup mata seolah tak tahu apapun. Cintanya tak seperti aku, mungkin sama seperti cintamu pada gadis itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Relationship With Antagonist
FantasyKarena kesamaan rupa antara gundik yang ditemuinya di rumah bordil dengan Parvis Loine sang tokoh utama wanita sekaligus gadis yang dicintai oleh Izek Zachary--si tokoh jahat dalam novel Bride of death, Sachi di pungut dan di kirim kepada Lennox Pax...
