Bab Bonus: Sehari Bersama Keluarga Kecil Juan & Alby
Pagi itu, sinar mentari yang hangat perlahan-lahan menerobos masuk melalui celah tirai kamar Alby dan Juan. Cahaya keemasan itu membentuk pola-pola indah di atas seprai putih tempat tidur mereka. Jam dinding antik di sudut kamar menunjukkan pukul 5:30 pagi, saat keheningan pagi masih menyelimuti apartemen mereka.
Tiba-tiba, kesunyian itu dipecahkan oleh suara celotehan ceria dan nyaring dari kamar sebelah. Suara itu milik Cakrawala, atau yang biasa dipanggil Ala, putra kecil mereka yang berusia 3 tahun.
"Papa! Daddy! Bangun!" teriak Ala dengan suara melengking khas anak-anak, cukup keras untuk menembus dinding kamar orang tuanya.
Alby, yang selalu peka terhadap suara putranya, adalah yang pertama bereaksi. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengusir kantuk yang masih menyelimuti. Perlahan, ia menoleh ke samping, melihat Juan yang juga mulai terusik dari tidurnya.
"Mmm... Ala sudah bangun?" gumam Juan dengan suara serak dan mata yang masih setengah terpejam.
Alby tersenyum lembut melihat ekspresi mengantuk suaminya. "Ya, sepertinya jagoan kecil kita sudah siap memulai hari," jawabnya sambil mengusap mata.
Juan perlahan-lahan bangkit ke posisi duduk, rambutnya yang berantakan menambah kesan kusut khas bangun tidur. "Dia selalu penuh energi, ya? Bahkan di pagi buta begini," ujarnya, setengah mengeluh setengah geli.
Alby tertawa kecil. "Itulah anak-anak. Ayo, sebaiknya kita lihat apa yang membuat dia begitu bersemangat pagi ini."
Mereka berdua turun dari tempat tidur, Juan sedikit terhuyung karena masih mengantuk. Alby dengan sigap memegang lengan suaminya, memastikan ia tidak tersandung. Bersama-sama, mereka berjalan ke kamar putra mereka yang terletak tepat di sebelah kamar utama.
Begitu membuka pintu kamar Ala, mereka disambut oleh pemandangan yang menggemaskan. Ala sudah berdiri di dalam box bayinya, kedua tangan kecilnya mencengkeram pagar box dengan erat. Rambut hitam ikalnya berantakan, mencuat ke segala arah, kontras dengan piyama biru bergambar roket yang ia kenakan. Senyum lebar menghiasi wajah mungilnya, matanya berbinar-binar penuh semangat menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
"Papa! Daddy!" seru Ala gembira, mengulurkan kedua tangannya, meminta untuk digendong.
Alby adalah yang pertama menghampiri box bayi. Dengan lembut, ia mengangkat Ala ke dalam pelukannya. "Selamat pagi, sayang," sapanya, mencium pipi gembul putranya.
"Pagi, Papa! Pagi, Daddy!" balas Ala riang, memeluk leher Alby erat-erat dengan lengan mungilnya.
Juan, yang kini sudah lebih terjaga, mendekat dan mengacak rambut Ala dengan sayang. "Wah, sepertinya jagoan Daddy sudah siap untuk hari yang menyenangkan, ya?"
Ala mengangguk antusias, matanya berbinar-binar. "Ala mau main mobil-mobilan sama Daddy!"
Alby dan Juan saling bertukar pandang, tersenyum geli melihat semangat putra mereka di pagi buta. "Baiklah, tapi sebelum main, kita harus sarapan dulu. Ayo, kita siap-siap," ajak Alby.
Alby membawa Ala ke kamar mandi sementara Juan menyiapkan sarapan. "Ayo mandi, jagoan!" seru Alby riang.
Ala, dengan mata berbinar, melompat-lompat kecil. "Mandi! Mandi! Ala mau main air!"
Begitu masuk kamar mandi, Ala langsung berusaha membuka keran bak mandi sendiri. Tangannya yang mungil memutar-mutar keran dengan susah payah.
"Ala bisa sendiri, Papa!" ujarnya dengan nada bangga.
Alby tersenyum geli. "Iya sayang, tapi biar Papa bantu ya? Nanti airnya terlalu panas."
Saat air mulai mengisi bak, Ala tidak sabar menunggu. Ia mulai melucuti piyamanya sendiri, tapi kesulitan melepas bagian atas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voiceless Ties [END]
Fiksi Penggemarshininghands September, 2024 COMPLETED ✅️ BXB! homophobic, this is not ur place. Bahasa Indonesia semi baku Alby as Hc (sub) Juan as Jn (dom) Nohyuck | Jendong -♡ Malam itu, dua dunia yang tak pernah bersinggungan mulai menari dalam orbit yang sama...
![Voiceless Ties [END]](https://img.wattpad.com/cover/376728376-64-k527360.jpg)