Dentuman musik masih menghentak keras di klub malam itu, namun di sudut VIP lantai atas, Naren duduk terpaku. Matanya kosong menatap gelas minuman di tangannya, pikirannya melayang pada pengakuan Alby beberapa saat lalu.
"Menikah..." gumamnya pelan, suaranya terdengar hampa. "Alby sudah menikah..."
Rico, yang duduk di sebelahnya, menghembuskan asap rokok ke udara. "Kau terlihat shock, Naren. Bukankah ini bagus? Kita dapat informasi penting."
Naren tertawa getir. "Bagus?" Ia meneguk minumannya dalam sekali tenggak. "Bagaimana bisa bagus? Alby-ku... dia sudah menjadi milik orang lain."
"Alby-mu?" Rico mengangkat alisnya. "Sejak kapan dia menjadi milikmu?"
"Sejak dulu," Naren menggeram, tangannya mencengkeram gelas hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia seharusnya bersamaku. Kami sempurna bersama di Singapura dulu."
Rico menyeringai, menyadari ada cerita yang menarik di balik amarah Naren. "Oh? Ceritakan padaku."
Naren memejamkan mata, membiarkan kenangan masa lalu membanjiri pikirannya. "Di Singapura. Alby dan aku... kami lebih dari sekedar teman. Kami berbagi segalanya - rahasia, kesenangan, bahkan ranjang."
"Tapi?"
"Tapi dia menganggapnya permainan," Naren mendesis. "Sementara aku... aku jatuh terlalu dalam. Setiap sentuhannya, setiap tawanya, setiap desah nafasnya... semua itu membuatku gila."
Rico menyandarkan tubuhnya, mengamati obsesi yang terpancar jelas dari mata Naren. "Dan sekarang dia menikah dengan pria bisu itu."
"Juan," Naren meludahkan nama itu seperti racun. "Apa istimewanya dia? Dia bahkan tidak bisa bicara! Sementara aku... aku bisa memberikan segalanya untuk Alby."
"Tapi kau tahu kan, Naren?" Rico memperingatkan. "Alby bukan orang sembarangan. Keluarganya..."
"Aku tahu," Naren memotong. "Sama seperti kita, dia anak orang berpengaruh. Tapi aku tidak peduli siapa orang tuanya. Yang aku tahu, dia seharusnya bersamaku."
Rico menyalakan rokok baru, otaknya berputar mencari strategi. "Kita harus hati-hati. Meski kita tidak tahu persis siapa orang tua Alby, yang jelas mereka punya kekuasaan yang tidak main-main."
"Sama seperti orang tua kita," Naren mendengus. "Itulah kenapa kita berteman, bukan? Kita sama-sama merahasiakan identitas keluarga, menghindari orang-orang yang hanya mengincar status."
"Dan sekarang?" Rico bertanya. "Apa rencanamu?"
Naren menatap kosong ke arah lantai dansa, sebelum seringai berbahaya muncul di wajahnya. "Aku akan merebutnya kembali. Juan... dia hanya penghalang sementara."
"Bagaimana caranya? Mereka sudah menikah, Naren."
"Pernikahan bisa dihancurkan," Naren menjawab dingin. "Yang perlu kita lakukan adalah membuat Alby kembali menjadi dirinya yang dulu. Alby yang liar, yang haus kesenangan... Alby-ku."
Rico mengamati temannya dengan seksama. Obsesi Naren terhadap Alby terlihat jelas, hampir menakutkan. "Dan Juan?"
"Dia akan menyerah sendiri," Naren tersenyum kejam. "Saat Alby kembali ke kehidupan lamanya, saat dia kembali padaku... Juan akan menyadari bahwa dia tidak pantas untuk Alby."
"Kau benar-benar terobsesi padanya, ya?" Rico berkomentar, setengah kagum setengah ngeri.
Naren tidak menjawab. Matanya menerawang jauh, membayangkan Alby dalam pelukannya lagi. Setiap sentuhan, setiap ciuman yang pernah mereka bagi di Singapura dulu... ia akan mendapatkan semua itu kembali.
"Lihat saja, sayang," bisiknya pelan. "Kau akan kembali padaku. Aku akan membuatmu ingat bagaimana rasanya bersamaku... dan melupakan pria bisu itu."
Rico hanya bisa menggelengkan kepala melihat obsesi temannya. Namun ia tidak keberatan membantu. Bagaimanapun, ini akan menjadi hiburan yang menarik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Voiceless Ties [END]
Hayran Kurgushininghands September, 2024 COMPLETED ✅️ BXB! homophobic, this is not ur place. Bahasa Indonesia semi baku Alby as Hc (sub) Juan as Jn (dom) Nohyuck | Jendong -♡ Malam itu, dua dunia yang tak pernah bersinggungan mulai menari dalam orbit yang sama...
![Voiceless Ties [END]](https://img.wattpad.com/cover/376728376-64-k527360.jpg)