Suara musik terdengar cukup kencang menyambut kedatangan Jungkook dengan wajah sembabnya.Ia melihat kumpulan manusia sedang bersenang-senang menikmati minuman dengan caranya masing-masing.
Piyama dan kaki tanpa alas membuat banyak pasang mata tertuju pada Jungkook karena penampilannya sangat tidak cocok untuk berada di club. Ya, saat keluar dari apartemen Taehyung ia memutuskan pergi ke tempat gelap itu lagi setelah sekian lama. Jungkook butuh sesuatu untuk menghilangkan kegelisahannya, sesuatu yang bisa membuatnya terbang hingga rasa sakit dalam hatinya menghilang meskipun sesaat.
Jungkook melangkah santai menuju meja bar, ia menulikan pendengaran dari orang-orang yang mentertawakan penampilannya secara terang-terangan. Lagi pula siapa peduli, tidak ada larangan memakai piyama kedalam club, jadi sah saja saja.
Tangannya merogoh saku piyama dan kebetulan sekali menemukan dua lembar uang yang masing-masing berjumlah 100 won. Sepertinya ia lupa mengecek saat ingin mencuci pakaian, alhasil itu menjadi penyelamat Jungkook dipagi buta ini.
"Satu botol wine," Jungkook menyerahkan uang lalu duduk pada bangku katu didepan meja bar.
Ia memang memiliki toleransi rendah pada minuman beralkohol, maka demi mencegah dirinya mabuk, wine adalah pilihan yang tepat.
Setelah pesanannya datang, Jungkook langsung saja menuangkan wine pada gelas yang sudah di sediakan dan menegaknya hingga tandas. Sebuah sensasi yang jarang Jungkook rasakan, bahkan terakhir kali ia merasakan ini yaitu pada saat ia menjebak Taehyung dan Irene beberapa waktu lalu.
"Ternyata perasaan itu masih sama, mau dulu ataupun sekarang, aku gak pernah nyangkal kalo aku secinta itu sama kamu,"
Jungkook tertawa miris, kembali teringat dengan ucapan Taehyung di balkon beberapa saat yang lalu. Jungkook tau jika kalimat itu ditujukan kepada Lea, pacar Taehyung yang meninggal lima tahun lalu.
"Kenapa lo ngelakuin ini sama gue Tae, kenapa?" Jungkook bergumam pelan, memandang gelas kosong ditangannya. "Gue emang bukan Lea, tapi gue juga mau dicintai segitu besarnya sama lo kayak lo yang mencintai dia tanpa jeda." Matanya masih terlihat merah sebab terlalu banyak menangis sepanjang jalan.
"Lo yang pertama kali ngenalin gue apa arti dari cinta, lo yang narik gue dari lingkaran hitam sampai gue berhasil menuntaskan terapi dan dinyatakan sembuh. Lo sangat berperan penting dalam hidup gue, Taehyung."
Jungkook meremas gelas melampiaskan emosi yang tertahan. "Tapi setelah tau lo masih menyimpan nama Lea di hati lo, gue jadi meragukan semua kebaikan lo selama ini."
Menghela nafas pasrah seakan Jungkook sudah lelah dengan segala takdir yang tidak pernah berhenti membuatnya hancur untuk kesekian kali.
"Kebaikan lo selama ini karena lo gamau gue akan berakhir seperti Lea yang mati bunuh diri kan, Tae? Haha, kenapa gue bodoh banget sih bisa dibegoin sama lo," Jungkook tertawa sumbar, mengejek dirinya sendiri karena begitu sial bisa bertemu Taehyung.
Jungkook kembali menuangkan wine dan meminumnya dengan cepat. Bahkan ia sudah merasakan keningnya yang berdenyut pusing padahal baru menegak sedikit wine. Sepertinya, Jungkook memang tidak cocok dengan minuman keras, ia lebih cocok mengemut lolipop dan eskrim stoberi kesukaannya.
"Jungkook?"
Jungkook menengok kearah samping dimana seseorang tengah memegang sebotol wishkey yang terlihat masih utuh, sepertinya orang itu baru saja membeli dan melakukan pembayaran.
"Lo?" Ucap Jungkook cukup kaget dengan kedatangannya.
"Ngapain lo disini, sendirian?"
"Lo yang waktu itu nolongin gue kan?" Bukannya menjawab, Jungkook malah balik bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly rabbit - taekook
FanfictionKetika hidup dipenuhi dengan dendam. Merekapun saling memberi luka dan menoreh kenangan buruk tidak berujung. Pantaskah pendosa seperti mereka mendapatkan kebahagiaan? SLOW UPDATE~ TW: - BXB - Angst - Bahasa non-formal - cursing dimana-mana
