Ketika hidup dipenuhi dengan dendam. Merekapun saling memberi luka dan menoreh kenangan buruk tidak berujung.
Pantaskah pendosa seperti mereka mendapatkan kebahagiaan?
SLOW UPDATE~
TW:
- BXB
- Angst
- Bahasa non-formal
- cursing dimana-mana
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mengantar jemput seorang Lee Junkoo memang sudah menjadi kebiasaan bagi Taehyung. Dan menjaga keselamatannya adalah list nomor satu yang tercatat disebuah buku misi rahasianya.
Jungkook berjalan mengarah parkiran setelah bertukar pesan dengan Taehyung tiga puluh menit yang lalu. Disamping mobil Ferrari, ia melihat Jimin sedang duduk di atas motor sambil memainkan ponsel. Tanpa ragu menghampiri dan membuyarkan fokus lelaki didepannya.
"Ekhem,"
"Eh anak manis udah selesai ya kelasnya," Jimin memasukan ponsel kedalam saku celana saat menyadari kehadiran Jungkook. "Nih kuncinya. Si tae udah bilang kan sama lo kalo dia mau ke ruangan BEM dulu?"
"Ya." Jungkook berujar seadanya lalu menerima kunci mobil yang disodorkan kepadanya.
"Mau gue temenin gak sampe dia dateng?"
"Gak usah."
"Yang bener? Ntar kalo ada yang nyulik lo, gue lagi yang disalahin." Ujar Jimin yang setia duduk dijok motornya.
"Apasih lebay lo."
"Ih serius gue. Anak cakep kayak lo gini rawan diculik tauuuu. Lo sih makanya punya muka jangan gemes-gemes, orang kan jadi pada mau angkut lo."
Jungkook menatap Jimin dengan jengkel. Bibirnya sedikit maju memasang ekspresi ketidaksukaan mendengar gombalan yang ia terima. Namun berbeda dengan jimin, dia melihat wajah yang termuda semakin menggemaskan dengan wajah yang seperti itu. Rasanya, dia ingin menjawil pipi bulat itu jika tidak teringat pada Taehyung.
"Tuh tuh liat, muka lo makin lucu kalo lagi marah, siapa yang tahan gak nyulik lo coba. Udahlah gue temenin lo aja ya sampe si Tae dateng." Jimin tidak berbohong, Jungkook memang semenggaskan itu. Pantas jika Taehyung betah-betah saja saat lelakinya marah, toh yang ia lihat pemandangan yang begitu indah.
"Lo kalo mau balik ya balik aja. Gak usah temenin gue, gue risih liat muka lo "
"Yah kecewa babang Jimin digituin sama dek manis."
"Udah sana pulang lo,"
"Bener nih ya gak mu ditemenin?" Tawarnya sekali lagi.
"Gak denger omongan gue tadi?"
"Iya deh iya pulang nih. Nanti kalo ada yang nawarin permen, jangan diambil ya." Jimin terkekeh sambil menghidupkan motornya.
"Gajelas."
Jungkook tak menghiraukan dan menekan tombol pada kunci ditangannya, lalu kedalam mobil milik Taehyung.