Pranggg
Suara pecahan kaca terdengar nyaring hingga keluar ruangan. Bantingan demi bantingan merobek indra pendengaran Daehi yang mematung melihat Taehyung sedang mengamuk hebat. Membiarkan putra sulungnya itu melampiaskan semua kemarahannya pada benda mati yang tak bersalah.
Ruang rawat kini sudah berubah seperti kapal pecah. Setelah kedatangan Daehi beberapa saat yang lalu, Taehyung tiba-tiba mencabut infusan ditangannya, lalu melempar semua barang yang ada di dekatnya. Taehyung merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa disaat Jungkook membutuhkan bantuannya.
BRAKK
Meja nakas yang terdapat buah-buahan kini sudah terlempar kearah pintu yang tertutup. Taehyung menunduk, tangannya terkepal erat dengan dada naik turun tak bisa bernafas dengan normal.
Merasa tidak berguna. Karena seharusnya Taehyung ikut Daehi ke acara pesta Yugo, bukannya malah bersantai di rumah sakit seperti ini. Seharusnya juga dia bisa melindungi Jungkook dari orang-orang seperti Mingyu dan Jaehyun. Tapi nyatanya dia tidak bisa. Dia membiarkan Jungkook ketakutan sendiri menghadapi trauma yang sudah susah payah dihilangkan.
"Kamu seperti ini hanya akan membuat semakin kehilangan Jungkook. Tenanglah. Kendalikan emosimu." Daehi berdiri lima langkah dari Taehyung. Terlihat tenang dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana, tidak ada wajah panik sama sekali.
Daehi sudah mencoba mencegah Taehyung supaya tidak mengamuk. Namun dia tidak bisa mengendalikan emosi anaknya itu yang tidak terduga. Jadi, biarkan saja. Taehyung butuh pelampiasan saat ini.
Taehyung menggerakan ekor mata kearah Daehi, meskipun penglihatannya kini tertutup rambut yang menjuntai menghalangi setengah wajahnya. Namun Ia masih bisa merasakan atmosfer yang kuat dari ayahnya itu. Giginya bergelatuk saat mendengar ucapan Daehi, rasanya dia ingin membawa Jungkook sejauh mungkin, sampai tidak ada satu orangpun yang bisa menyakitinya. Taehyung hanya ingin semua ini cepat berakhir karena membiarkan Jungkook pergi adalah keputusan terburuk sepanjang hidupnya.
Perban yang membalut kepalanya sudah diganti dengan perban kecil yang menutupi luka di kening bagian kiri. Jahitannya belum mengering sempurna, jadi diharuskan mengganti perban sehari dua kali.
"Harusnya Appa ngizinin aku untuk bunuh dia lima tahun lalu! Kalo aja Appa kasih aku izin, mungkin semua ini gak akan terjadi." Lirih Taehyung pelan namun masih dapat di dengar.
Daehi manatap Taehyung yang memunggunginya dengan kepala merunduk kebawah. Rasanya sakit. Daehi tidak suka pemandangan ini. Namun demi kebahagiaan di masa depan, harus ada sesuatu yang dikorbankan. Termasuk percintaan anaknya yang sekarang sudah hancur karena dirinya.
"Masalah tidak akan selesai begitu saja meskipun dia sudah mati ditanganmu. Ini semua gak semudah seperti apa yang kamu bayangkan. Akan ada pion pion lain yang muncul untuk membalaskan dendam. Seperti pepatah, mati satu tubuh seribu. Seperti itulah dia. Jangan remehkan lawanmu Taehyung, dia bukan orang sembarangan." Ucap Daehi datar.
Taehyung mengangkat kepala, berbalik menghadap Daehi. Menampakan wajah yang teramat menyedihkan. Di seragam pasien yang dikenakan terdapat tetesan darah yang berasal dari tangan akibat mencabut selang infus dengan paksa.
"Kenapa?" Lirih Taehyung menatap Daehi lekat. "Kenapa Appa setakut itu sama mereka?"
"Kenapa Appa gak mau berurusan sama manusia-manusia haus jabatan kayak mereka. Aku bahkan bisa potong leher mereka karena berani-beraninya fitnah keluarga kita. Selama sama-sama makan nasi, gak ada yang perlu kita takuti. Cukup beri aku perintah, maka akan ku buat hidup mereka seperti di neraka."
"Dia punya mafia Taehyung. "
"Aku gak peduli!"
Selama Daehi tidak memerintah. Maka Taehyung tidak akan bisa bertindak semaunya. Ia mengerti jika ayahnya lebih mengetahui konflik keluarga Kim, jadi apapun keputusannya Taehyung akan selalu setuju. Termasuk meninggalkan Jungkook untuk sementara waktu. Daehi bilang, dia tidak mau menyeret orang lain kedalam masalah keluarganya yang rumit. Cukup menunggu waktu sebentar lagi, maka Daehi akan menang. Asalkan jangan gegabah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly rabbit - taekook
FanfictionKetika hidup dipenuhi dengan dendam. Merekapun saling memberi luka dan menoreh kenangan buruk tidak berujung. Pantaskah pendosa seperti mereka mendapatkan kebahagiaan? SLOW UPDATE~ TW: - BXB - Angst - Bahasa non-formal - cursing dimana-mana
