65 - Taehyung dan Sahabatnya

303 34 4
                                        

Setelah mengantar Jungkook ke kampus, Taehyung bergegas menuju cafe dimana sudah ada dua temannya menunggu disana. Tempat yang sering mereka datangi untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas kampus.

Dan disinilah Taehyung sekarang berada. Sebuah cafe yang telihat lengang karena terbilang masih cukup pagi. Mereka sengaja mengambil tempat outdoor supaya bisa leluasa untuk merokok. Mereka duduk melingkar sesuai meja yang berbentuk bundar.

"Lo yakin kalo pelakunya sama?" Jimin melirik Taehyung yang tengah asik menikmati sebatang rokok.

Taehyung menatap kosong ice americano yang belum disentuhnya sama sekali. "Dua kejadian itu terjadi pada waktu yang berdekatan. Gue yakin insiden bus dan gudang kampus adalah ulah orang yang sama, yaitu Joo."

"Dia sampe senekat itu demi menuhin kemauan anaknya, gila sih. Kelakuan bapa sama anak gak ada bedanya, bener-bener definisi buah jatuh sepohon pohonnya." Ringis Jimin. Sedangkan Taehyung tersenyum miring mendengar ucapan sahabatnya.

"Namanya juga bulol, bucin tolol," celetuk Hoseok.

Taehyung jadi berpikir, mengapa dulu bisa menyukai Irene bahkan menjalin hubungan hampir tiga tahun lamanya. Bahkan dia tetap menerima Irene disaat tahu dirinya dimanfaatkan untuk menguras uang yang jumlahnya tidak sedikit.

"Jangan biarin si Irene deket-deket sama Jungkook deh, gue takut tuh orang nekat bikin ulah lagi. Kayaknya udah di tahap obsess dia sama lo,"

Taehyung menghela nafas. "Gak mudah nyingkirin keluarga Joo, gue tau dia punya hubungan baik dengan mafia, jelas dia akan minta bantuan mereka buat masalah ini."

"Beneran gila mereka, gak bisa berkata-kata lagi gue," Jimin tidak menyangka sebahaya itu berurusan dengan kalangan atas.

Hoseok fokus mendengarkan meskipun tangannya sibuk membuka kuaci yang sudah habis setengah bungkus. Ya, dia memilih cemilan itu daripada rokok karena mood nya sedang bagus.

"Lo gak curiga sama orang lain?"

Ucapan Hoseok membuat Taehyung menurunkan kembali rokok yang ingin ia hisap.

"Gue harus curiga sama siapa lagi selain si tua bangka itu? Udah jelas-jelas dia niat ngebunuh Jungkook. Gue bahkan gak bisa bayangin kalo waktu itu Jungkook beneran naik bus, yang ada gue ikutan mati saking stress nya." Taehyung mematikan rokoknya karena mendadak gelisah kala membahas mengenai Jungkook-nya.

"Emangnya lo gak curiga sama Jaehyun dan kakaknya Jungkook?" Ujar Hoseok yang tak henti menggigiti kuaci.

"Lo yang bener aja Hos? Tuh orang kan lagi penjara, gimana bisa nyelakain Jungkook." Timpal Jimin merasa tidak masuk akal.

"Ya siapa tau. Napi aja bisa nyelundupin ganja kedalam sel, apa lagi cuma tahanan biasa kayak mereka. Semua bisa di lakuin asal ada uang."

Perkataan itu membuat Taehyung membeku ditempat. Mengapa ia tidak kepikiran sejauh itu. Bagaimana kalau orang yang berniat bermain-main dengannya adalah orang yang tidak pernah ia duga. Dan untuk mencegah salah sasaran, ia harus segera menemukan pelaku sebelum orang itu bertindak lebih jauh lagi.

"Tapi ada benernya juga sih. Jackson kan satu prodi sama si Jaehyun, bisa aja mereka kerja sama buat balas dendam sama lo, Tae." Ucap Jimin membuat Taehyung semakin bingung.

Hoseok mengangguk setuju. "Nah bener tuh, "

"Jadi menurut kalian dalangnya orang yang berbeda?"

"Kayaknya ya. Gak mungkin kan Joo nyuruh mahasiswa buat turun tangan, yang ada rahasia si Irene soal kehamilan nya bakal kebongkar." Jimin berkata dengan yakin.

Ugly rabbit - taekookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang