"Lo gila ya!!" Pekik Hoseok cukup nyaring tepat didepan wajah Jimin yang terlihat lesu.
"Ngapain lo ngehajar Taehyung? Ngerasa jagoan lo begitu? Iya? Dia itu temen lo Jimin, temen lo!!"
"Gue ga ngerasa jagoan."
"Ya terus maksud lo apa ngehajar temen sendiri hah?"
Hoseok tadinya sibuk menyantap hotdog, namun pernyataan Jimin membuatnya tidak nafsu untuk menghabiskan sepotong makanan yang ada ditangannya itu. Suasana kantin teknik cukup ramai, jadi obrolan mereka tidak mengundang banyak pasang mata untuk penasaran.
"Gue udah bilang, gue kepalang kesel sama si Tae." Ucap Jimin. "Lagian kenapa dia gak jujur selama ini kalo dia gak cinta sama Lea. Kenapa dia ngebiarin gue putus sama Yoongi padahal udah jelas-jelas gue mihak dia. Kenapa coba?"
"Pasti Taehyung punya alasan kenapa ngelakuin itu."
"Alasan apa Hos? Selama ini dia diem aja ngeliat pertemanan kita sama Yoongi hancur. Dia diem aja disaat gue mati-matian ngejauhin Yoongi karena gue nganggep Taehyung lah yang benar." Jimin masih tidak mengerti mengapa Taehyung melakukan itu semua. "Coba aja dia jujur sejak awal, mungkin Lea masih hidup sekarang. Lea gak akan terjebak sama hubungan toxic dan Jaehyun gak akan ngehancurin mentalnya. Harusnya Taehyung bisa mikir sampe situ, tapi gue rasa dia gak punya akal deh. Setelah semua yang terjadi, dia gak ada ngerasa bersalah ataupun minta maaf. Dia malah sibuk ngebucinin Jungkook."
Kemarahan Jimin tentu sangat wajar. Bahkan Jimin berhak marah karena dia merasa di khianati oleh sahabatnya sendiri. Bagaimana tidak, selama mengenal Taehyung ia merasa memiliki saudara kandung. Karena kedekatan mereka begitu dekat sampai banyak orang yang iri dan menginginkan posisinya.
Hoseok meletakan hotdog ketempatnya lagi, lalu meraih teh dingin dan meminumnya hingga tandas. Matanya kini tertuju pada sahabat sejak kelas satu SMP, ia tahu semua sifat Jimin dari a sampai z. Maka dari itu dia nampak tenang melihat situasi yang cukup menegangkan.
"Gini ya Jim, gue gak mihak siapapun disini. Kalian semua temen gue, jadi gue ga akan bilang siapa yang bener dan siapa yang salah. Gue cuma mau liat dari sudut pandang gue." Ucap Hoseok berubah menjadi serius.
"Menurut gue Taehyung ngelakuin itu bukan tanpa alasan. Lo tau sendiri kan secinta apa Lea sama Taehyung. Bahkan semua kegiatan yang dia lakukan pasti menyeret Taehyung kedalamnya. Jelas Taehyung gak akan tega kalo dia harus jujur sama perasaannya. Dia ngelakuin itu demi menghargai Lea. Dan selama Taehyung gak menyakiti Lea, menurut gue fine fine aja. Kita juga suka kan liat mereka bareng-bareng. Jadi apa masalahnya?
"Untuk tindakan Yoongi yang mutusin pertemanan juga menurut gue wajar. Dia kehilangan adik satu-satunya yang dia sayang, dia frustasi sampe harus pergi ke psikolog. Dan lo malah mutusin dia dan memperkeruh suasana dengan alasan lo lebih percaya Taehyung daripada Yoongi. Dan sekarang lo nyalahin Taehyung atas tindakan lo sendiri, padahal Taehyung sama sekali gak nyuruh lo ngelakuin itu. Lo sendiri yang nyiptain masalah, kenapa sekarang lo malah ngamuk-ngamuk seolah-olah lo adalah korban?"
Hoseok yang pecicilan berubah menjadi menyeramkan karena menganggap pemikiran Jimin terlalu berlebihan. Dia hanya melihat dari satu sisi dan tidak mau melihat situasi yang sebenarnya. Jimin itu sangat gegabah dalam mengambil keputusan. Emosinya labil dan sulit membedakan mana yang terbaik untuknya.
"Jadi menurut lo gue salah gitu?"
"Gue gak nyalahin lo. Gue cuma bicara fakta."
"Fakta apaan sih Hos?"
"Lo masih belum sadar?" Tanya Hoseok mengerutkan kedua alisnya.
"Lo itu egois Jimin, egois!!"
Jimin menaikan sebelah alisnya. "Gue? Egois? Egois darimananya gue tanya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly rabbit - taekook
FanfictionKetika hidup dipenuhi dengan dendam. Merekapun saling memberi luka dan menoreh kenangan buruk tidak berujung. Pantaskah pendosa seperti mereka mendapatkan kebahagiaan? SLOW UPDATE~ TW: - BXB - Angst - Bahasa non-formal - cursing dimana-mana
