Matahari sudah hampir sejajar di atas kepala, gemuruh kendaraan mewarnai kota daegu yang dipenuhi gedung-gedung bertingkat.
Disalah satu bilik apartemen di lantai 38, tiga pemuda terlihat gelisah karena orang yang mereka tunggu sejak pagi tidak juga menampakan batang hidungnya. Padahal pesan terakhir yang Jimin terima bahwa temannya itu sedang dalam perjalanan. Namun, sudah lebih dari dua jam, tidak ada tanda-tanda jika Taehyung akan datang.
Terlihat Jimin dan Hoseok menuangkan wine pada gelas dan bersulang untuk kesekian kali. "Udah mau habis sebotol, tapi si Tae belum kesini juga. Dia gak lagi ngerjain kita kan?" Ucap Hoseok setelah meneguk minuman sekali tandas.
Yoongi sang pemilik apartemen duduk terpisah di sofa lain dan memilih fokus pada layar ponsel.
"Ngerjain gimana? Bohong maksud lo?" Tanya Jimin.
"Iya lah, apa lagi,"
"Kan tadi udah bilang lagi otw, mungkin kena macet dia, tunggu aja sih, hos." Timpal Jimin berpikir positif.
Hoseok menyender pada sofa, mencari kenyamanan. "Jarak mension dia kesini cuma 30 menitan Jim. Separahnya daegu kena macet paling lama cuma 15 menit, lah ini udah telat dua jam lebih, kan gk masuk akal."
"Lo jangan nakut-nakutin gue dong hos. Yakali Tae ngebohongin kita." Jelas Jimin panik, pasalnya hubungan dia dengan Taehyung belum akur setelah pertemuan terakhir mereka. Jimin takut motor dan PS 5 yang udah dikasih oleh Taehyung akan diambil kembali. Kan sayang.
"Ya suruh siapa lo nonjok dia kemarin, banyak gaya sih lo." Ujar Hoseok memojokan sahabatnya itu karena bukan hanya badannya saja yang pendek, tapi juga pikirannya. "Sekarang gimana coba, dia udah gak mau ketemu kita. Semua gara-gara lo." Lanjutnya.
"Kok lo nyalahin gue si Hos? Gue begitu kan juga karena gak tau faktanya gimana."
"Ya makanya cari tau, bukannya sok tau."
"Lo kok nyolot sih? Lagian gue udah sadar kalo gue salah dan gue mau minta maaf sama dia secara baik-baik." Jimin tidak terima karena Hoseok terlihat menyudutkan seolah keterlambatan Taehyung adalah karena dirinya.
"Tapi buktinya dia gak datang, yakin dia bakal maafin lo?"
Jimin meninggikan nada bicara. "Sabar kali Hos dia kan udah setuju dan mau kesini. Mungkin dia ada urusan dulu dijalan."
"Udah udah. Kalian kenapa jadi ribut sih." Yoongi yang sedari tadi bermain ponsel ikut menyela karena terganggu oleh dua orang yang sedang berdebat.
"Abisnya si Hosi ngeselin banget. Masa dia nuduh-nuduh aku mulu." Adu Jimin kepada sang mantan pacar dengan muka kesal.
"Dih, siapa yang nuduh?"
"YA ELO!!"
Yoongi berdiri mendekati Jimin dan menarik lengannya dengan lembut. "Udah, jangan dengerin Hosi, mending sini deh, aku mau lihatin sesuatu sama kamu."
Jimin menurut saat dirinya di tuntun menuju laci yang berada disebrang tempat tidur. Entah kenapa rasa kesal dalam hatinya mendadak sirna karena perilaku Yoongi.
"Lihatin apa?"
Meskipun tidak ada jawaban, Jimin setia menunggu ketika Yoongi membuka laci dan menunjukan banyak barang didalam sana. Jimin mengerutkan kening karena tidak paham.
"Ini apa?"
Yoongi mengambil sebuah album kecil lalu membukanya selembar demi selembar. "Ini adalah foto kamu yang aku ambil secara diam-diam waktu SMP dulu. Waktu kamu ngejar-ngejar aku, sebenarnya aku udah lebih dulu suka sama kamu, tapi aku gak berani nunjukin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly rabbit - taekook
FanfictionKetika hidup dipenuhi dengan dendam. Merekapun saling memberi luka dan menoreh kenangan buruk tidak berujung. Pantaskah pendosa seperti mereka mendapatkan kebahagiaan? SLOW UPDATE~ TW: - BXB - Angst - Bahasa non-formal - cursing dimana-mana
