69 - who is J

380 44 6
                                        

Lelaki berpenampilan serba hitam itu terus memandangi Jungkook yang terlelap dengan tenang akibat efek minuman. Matanya tak berkedip dengan tatapan kosong, seolah sedang mencerna memori yang berputar silih berganti dalam benaknya. Di bagian pipi kanannya,  terdapat luka memanjang yang mengering, sebuah sayatan benda tajam yang entah dari mana asalnya.

Ia sudah melangkah sejauh ini dan hanya ada sebuah penyesalan yang terpupuk kian membesar. Ia merindukan suasana ruangan yang penuh kehangatan dan hiasi tawa-tawa dari wajah orang terkasih.

Ia sengaja membawa Jungkook ke Busan dimana rumah keluarga Jeon kini sudah tidak berpenghuni. Entah kapan terkahir kali rumah itu dibersihkan, debu-debu semakin menebal menutupi kenangan pahit didalamnya. Tidak ada barang-barang berharga disana, bahkan sering kali sekumpulan anak muda singgah dan membuat kediaman Jeon menjadi tempat berpesta minuman.

Ya, tidak ada yang tersisa di rumah itu, kecuali kenangan buruk yang membekas. Dari yang awalnya hanya Jungkook yang meninggalkan rumah, disusul Luhan yang masuk jeruji besi, lalu tak lama Nara masuk rumah sakit dan meninggal dunia, kemudian terkahir, Wonwoo juga ikut menyusul ayahnya mendekam dipenjara. Lengkap sudah penderitaan keluarga Jeon, sampai tidak menyisakan sedikit kebahagiaan pun untuk menjadikan setitik harapan.

Dan didalam sebuah kamar, Jungkook kini terbaring pada sebuah ranjang yang menemani dirinya semasa kecil. Kamar yang menurutnya adalah sebuah penjara, ruangan penuh kesedihan bagi Jungkook dimasa lalu.

"Jahat-- Taehyung jahat--- jangan tinggalin aku Taehyung-- jangan sama Lea--- jangan---,"

Lelaki serba hitam itu mendongkak saat melihat Jungkook yang terusik dalam tidurnya. Ya, Jungkook mengigau dengan kening yang bercucuran keringat. Kepalanya tak berhenti bergerak seolah sedang bermimpi buruk.

"Taehyung-- jangan pergi---,"

Lelaki itu lantas mendekati Jungkook dan menepuk pipi tiga kali dengan penuh hati-hati.

"Hei, are you okey?" Tanya lelaki itu dengan raut cemas.

Jungkook perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat, sehingga dia hanya bisa menyipit karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih.

"Lo?" Lirih Jungkook sangat pelan, nyaris tidak ada suaranya.

Lelaki itu cukup terkejut saat Jungkook menyadari siapa dirinya, namun ia tidak peduli dan lanjut menyentuh kening Jungkook. Panas, sepertinya Jungkook sakit akibat efek minuman alkohol yang tidak biasa ia konsumsi.

Dia memang memperhatikan Jungkook selama berada di club, bahkan saat Yoongi memberikan minuman dan mencengkram tengkuk Jungkook.  Dia tidak berbuat apa-apa karena tidak ingin identitasnya diketahui orang. Ya, setidaknya untuk sementara waktu ini, setelah tugasnya selesai, ia berjanji akan menampakkan diri.

"Demam. Sial! gue harus gimana," merutuki dirinya sendiri karena tidak terbiasa mengurusi orang sakit.

Ia melihat Jungkook kembali menutup matanya, tidak ada racauan lagi, namun kali ini berganti dengan tubuhnya yang menggigil hebat. Dengan cepat ia menarik selimut hingga menyisakan kepala Jungkook,  setelah itu dia membuang nafas kasar, cukup frustasi karena tidak memiliki uang sepeserpun, lalu bagaimana mengatasi demam Jungkook yang begitu tinggi.

Saat Lelaki itu hendak berdiri, Jungkook tiba-tiba meraih Tangannya dan memeluknya erat.

"Jangan pergi," lirihnya gemetar dengan mata tertutup.

Terdiam cukup lama, memandangi Jungkook dengan wajah sendu, kemudian ia  menjawab. "Gue gak kemana-mana, cuma mau ngambil air bentar,"

Bukannya melepaskan, Jungkook justru mempererat genggaman seolah tidak ingin Lelaki itu menjauh darinya.

Ugly rabbit - taekookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang