Hembusan angin menerpa wajah Jungkook yang kini tengah melamun di balkon. Matanya memandang gedung gedung pencakar langit yang menghiasi setiap sudut kota. Membiarkan pikirannya mengawang bebas sampai tidak sadar seseorang sudah berdiri disampingnya.
"Ada apa? Kok keliatan murung?"
Jungkook melirik pada Donghae yang sudah berganti pakaian dengan rapih. Sebentar lagi mereka akan pergi ke Amsterdam, tetapi rasanya Ada sesuatu yang mengganjal dipikiran Jungkook.
"Kalo di pikir-pikir, kenapa kita harus ke Amsterdam sedangkan Taehyung disini mau berjuang mempertaruhkan nyawanya. Buat apa aku terbang jauh-jauh kalo hati dan pikiran aku ada di Korea." Ucap Jungkook memandang lurus kedepan.
"Taehyung lebih tau mana yang terbaik untuk kita. Jadi
ikuti saja alurnya, Appa akan selalu mendukung jika itu menyangkut keselamatan kamu."
"Kita mau ngapain disana Appa?"
"Jalan-jalan? Kulineran? Hunting foto? Apa saja yang terpenting kamu senang. Selama ini Appa selalu sibuk dengan pekerjaan, kita belum pernah menghabiskan waktu bersama bukan? jadi anggap saja ini liburan keluarga." Ucap Donghae tenang.
"Iya juga yah, kita belum pernah pernah quality time bareng. Malahan Appa lebih sering keluar kota dari pada di Apartemen." Ucap Jungkook setuju dengan Donghae. "Berarti aku harus berterima kasih sama Taehyung, karena dia bisa ngebeli waktu Appa yang berharga."
Donghae tersenyum. Semenjak tinggal bersama Jungkook, dia memang jarang sekali meluangkan waktu bersama sang anak. Jika berada di apartemen pun, Donghae akan menghabiskan waktu dengan beristirahat. Setelah itu dia akan kembali bekerja dan bekerja.
Entah sejak kapan dia mulai berubah. Yang pasti Donghae sudah tidak lagi keluar masuk club apalagi bermain Judi. Kehadiran Jungkook mampu mengubah dunianya menjadi lebih baik dan memiliki tujuan hidup.
"Maaf kalau Appa jarang ada di apartemen. Akhir-akhir ini Appa gila kerja karena ingin menabung untuk membeli rumah. Kita gak bisa selamanya tinggal disini, apalagi jika kamu sudah menikah dan pindah ke mension Taehyung, akan sayang jika apartemen sering dibiarkan kosong."
"Jangan terlalu keras. Appa juga harus jaga kesehatan." Ucap Jungkook. "Lagipula jika aku nanti tinggal di mension Taehyung, Appa juga harus ikut. Aku gak akan biarin Appa tinggal sendirian."
Donghae terkekeh. "Appa masih sanggup membiayai diri sendiri, buat apa tinggal dirumah orang."
Jungkook mendelik, melirik sang ayah dengan mulut sedikit dimajukan. Kesal. "Pokoknya Appa harus sama aku terus! Gak mau tau! Belum juga setahun kita ketemu, masa harus pisah lagi?!"
Bukannya menanggapi, Donghae justru menurunkan pandangan saat melihat mobil Lexus berwarna abu tua memasuki area apartemen.
"Anak buah Daehi sudah sampai. Ayo kita berangkat." Ucap Donghae berubah menjadi dingin.
Donghae langsung menarik lengan Jungkook bergegas keluar dari apartemen. Mereka tidak membawa pakaian karena semuanya sudah disiapkan Taehyung. Hanya berbekal ponsel dan satu boneka kelinci yang kini digenggam oleh Jungkook, menurutnya itu sudah cukup.
Saat tiba di depan mobil, anak buah Daehi lantas membukakan pintu belakang untuk keduanya masuk. Lalu mobil itu melesat meninggalkan apartemen menuju bandara.
Di tengah perjalanan, belum sampai sepuluh menit, tiba-tiba suara anak buah Daehi sekaligus yang mengendarai mobil membuat Jungkook dan Donghae kaget.
"Sepertinya mobil kita sedang diikuti." Ucap pria berbadan besar itu.
Jungkook menengok kearah belakang, ada sekitar tujuh motor yang berusaha menyalip mobil yang dikendarainya. Ia sontak panik dan reflek memeluk boneka kelinci dengan kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly rabbit - taekook
Fiksi PenggemarKetika hidup dipenuhi dengan dendam. Merekapun saling memberi luka dan menoreh kenangan buruk tidak berujung. Pantaskah pendosa seperti mereka mendapatkan kebahagiaan? SLOW UPDATE~ TW: - BXB - Angst - Bahasa non-formal - cursing dimana-mana
