Dua Puluh

10.9K 876 36
                                        

Pagi- pagi sekali Winda sudah berkutat di dapur. Ia membuat seteko kopi dengan coffee maker, salah satu dari sekian barang mewah yang tersedia di apartemen tersebut.

Sebenarnya kalau apartemen tersebut milik Winda pribadi, atau paling tidak, dia tinggal sendirian di sana, tanpa ada sosok menyebalkan yang selalu bersikap sengit padanya, semuanya pasti akan terasa menyenangkan.

Sungguh. Perabotannya saja lengkap dan canggih. Sebenarnya bisa saja tempat ini adalah surga bagi perempuan manapun. Furniturnya lengkap dan berkualitas baik. Warnanya elegan. Perpaduan antara putih dan cokelat yang terkesan earthy. Ada sentuhan warna hitam pula di beberapa bagian.

Belum lagi televisi plasma 42 inci yang dilengkapi dengan seperangkat home theater, mesin cuci front loading berkapasitas tujuh kilogram, setrika uap, area servis yang digunakan untuk menjemur pakaian di dekat meja setrika.

Dapurnya memiliki kulkas superbesar. Mirip seperti yang di restoran-restoran. Kompor gas enam tungku yang dilengkapi dengan penyedot asap, oven  besar yang sudah Winda coba gunakan untuk memanggang nastar yang sekarang ia sembunyikan di kamarnya. Rencananya kue itu akan ia jadikan oleh-oleh untuk kakak iparnya nanti.

Ada dishwaser, microwave, kitchen island yang lumayan luas, kitchen set, dan peralatan dapur lengkap seperti yang berada di restoran besar seperti toaster, juicer, blender, mixer, chopper, sampai seperangkat peralatan minum teh porselen yang kalau menurut Winda tidak mungkin orang seperti Giri akan memakainya.

Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa seorang lelaki mempunyai begitu banyak alat-alat masak dan bahkan robot pembersih lantai, kalau sepertinya ia jarang tinggal di rumah?

Mungkin sebelum ini Giri menggunakan jasa housekeeping untuk menjaga agar huniannya tetap bersih dan beradab.

Dari dapur, setelah menyelesaikan membuat kopi, Winda lalu menginspeksi kamar mandi belakang. Ia berharap bisa menemukan pakaian kotor milik Giri supaya ia bisa sekalian mencucinya. Baju-bajunya sendiri sedang dalam proses dicuci. 

Kamar mandi itu bahkan sepertinya tidak pernah sekalipun digunakan. Meski begitu, lantai dan dinding porselennya tetap bersih dan harum. Winda tidak tahu kapan petugas kebersihan itu datang. Hanya ada shower dan ember besar berwarna biru, gayung, dan kloset. Tidak ada pakaian kotor.

Apa mungkin lelaki itu membawa pakaian kotornya ke laundry? Ataukah Nindi yang mengurusnya?

Winda tahu ini konyol. Seorang sekretaris tidak mungkin sampai ikut campur mengurusi cucian bosnya. Perempuan itu kemudian menggeleng-geleng, mengusir pikiran ngawurnya.

Dia yakin, meskipun kelihatan dekat dan akrab, Nindi tidak punya hubungan spesial di luar hubungan profesional dengan Giri.

Winda akhirnya memutuskan untuk mengepel area dapur dan ruang makan. Bagian living room yang mayoritas dipasangi karpet, ia bersihkan menggunakan robot pembersih.

Dan bagaimana cara perempuan itu mengoperasikannya padahal baru berjumpa dengan benda itu di sini dan di rumah Kemala? Jawabannya adalah melihat video YouTube review alat tersebut.

Selesai mengepel, masih dalam balutan setelan rumahan model one set bergambar keroppi berwarna hijau tua dan rambut panjangnya yang dicepol asal sehingga memperlihatkan dagunya yang runcing dengan lebih jelas, serta lehernya yang jenjang, wanita itu mulai menyalakan penyedot debu untuk membersihkan sofa.

Giri hanya bisa berdiam diri di atas ranjang sambil berbaring telentang menatap langit-langit kamarnya yang tidak menarik itu. Pikirannya melayang jauh. Tatapannya menerawang. Barangkali menembus sampai ke rooftop.

It's Start With Broken Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang