Kencan itu tentu saja sukses dan seperti yang ekhem.... diharapkan oleh Winda, berakhir di peraduan mereka berdua.
Cara Giri memperlakukannya membuat Winda seperti mentega di atas wajan. Hati perempuan itu meleleh. Mencair. Bagaimana Giri menciumnya dan menyentuhnya terasa seperti sesuatu hal baru bagi Winda.
Winda tahu dirinya menikahi seorang duda, sudah pasti Giri berpengalaman dalam hal memuaskan seorang wanita. Di fase ini, Winda sempat merasa cemburu. Perempuan mana pun yang pernah mendapatkan pengalaman intim bersama Giri dulu, pasti merasa terpuaskan.
Seperti yang Winda rasakan malam itu. Saking dahsyatnya, dia sampai lupa namanya sendiri. Kelembutan dan cara lelaki itu memuja seluruh tubuh Winda malam itu, membuat perempuan itu terbangun dengan penuh rasa puas bercampur bahagia. Rasanya seperti ia baru saja mendapatkan pengalaman intim bersama seorang lelaki yang sesungguhnya. Lelaki yang memperlakukannya seolah-olah dirinya adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
Bahkan ketika lelaki itu menelusuri bekas luka di punggung Winda dengan tangan dan mulutnya, seraya berkata, "I'm not just love your beauty, but also your wound..." Dengan suaranya yang berat dan rendah itu membuat Winda seketika gemetar sebadan- badan. Luluh lantak dengan bagaimana cara suaminya memuja luka yang berusaha Winda lupakan.
Maka, ketika pada pagi harinya Winda terbangun, lalu menoleh ke sosok yang berbaring telungkup di sampingnya dengan punggung polos yang tidak ditutupi oleh selimut, mau tak mau senyum di bibir Winda terbit.
Apa yang terjadi semalam, membuat Winda ingin membalas Giri dengan menyiapkan sarapan pagi favorit lelaki itu; secangkir kopi.
Winda masih celingukan mencari pakaiannya yang tersebar di penjuru kamar itu. Kondisi penerangan yang remang- remang membuat kedua matanya harus seteliti mungkin. Ketika matanya menangkap sebuah bra berenda warna hitam yang terselip hampir masuk ke kolong ranjang, Winda dengan segera turun.
Namun rupanya gerakan kecilnya itu membuat Giri terbangun. "Kamu ngapain, Yang?"
"Hah?" Winda bengong. Baik karena mendengar suara serak bangun tidur Giri yang seksi, ataupun panggilan barunya untuk Winda.
"Hei," Giri akhirnya bangkit. Selimut melorot dari tubuhnya. Dan pemandangan itu tak pelak membuat Winda kembali gugup. "Mau ke mana sih? Kan aku nanya?"
"Bra aku nyelip...."
"Mau ngapain nyariin bra? Sini..."
"Tapi, Mas...."
"Aku mau kamu lagi...."
"Tapi aku mau mandi. Trus bikin kopi.... bikin sarapan..."
"Siapa yang butuh sarapan? Aku butuh kamu lagi. Ayo dong mumpung masih jam segini."
Giri mendekat untuk menarik tangan istrinya. Tubuh Winda yang hanya dibalut daster yang sempat nyangkut di headboard itu segera terjun ke pangkuan Giri. Perempuan itu menjerit kecil. Tapi selanjutnya dia tertawa- tawa karena ulah tangan dan mulut Giri.
***
Nindi menyetel lagu favoritnya beberapa hari ini. Sebuah tembang lawas milik Souljah. Judulnya Kuingin Kau Mati Saja.
Sambil menyortir email, mengeprint dokumen, membersihkan meja, dia bersenandung. Tidak peduli kalau kerongkongannya sudah kering.
Kemarin Pak bos mengusirnya dari kantor. Cewek itu kaget begitu sampai di kosan, lalu mengecek saldo, ada tambahan 500. 000, berikut chat via WA dari bos.
Dana patah hati buat kamu. Cepet pulih. Soalnya saya mau honeymoon lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomanceSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
