Dokter Roosaline memandang Giri dengan sorot menistakan, begitu mengetahui luka- luka di sekujur tubuh Winda.
"Bukan saya, Dok."
"Ini saya dapat dari suami pertama saya, Dok."
"Oh, saya lega!" ujar dokter Roosaline sambil manggut-manggut. Perawat kemudian memeriksa dengan lebih teliti, di mana saja tempat luka di tubuh Winda berada.
"Sudah berapa lama?"
"Saya menikah lima tahun dengan suami pertama, Dok. Pertama kali saya dapat luka- luka ini adalah ketika memasuki tahun kedua pernikahan." Jelas Winda. Dokter Roosaline manggut-manggut lagi. Sementara perawat yang memeriksa luka tersebut sesekali bergidik ngeri. Lalu wajahnya pias dan mual.
"Pertama-tama," ujar dokter Roosaline sembari mengulurkan tangannya ke arah Winda, "saya mengucapkan selamat karena Anda sudah berhasil lolos dari penganiayaan. Ngomong- ngomong, sudah pernah visum?"
"Sudah. Waktu mau cerai dulu."
"Bagus. Sebab kalau baru mau dilakukan sekarang, tidak banyak gunanya juga . Visum harusnya dilakukan maksimal tiga hari setelah terjadi penganiayaan. Apalagi bekas luka kamu sudah tumpang tindih begini." Dokter Roosaline berbicara dengan entengnya.
"Kemungkinan, satu luka belum sembuh, sudah ditambah luka baru lagi. Untung nggak terjadi infeksi. " Dokter perempuan berusia akhir lima puluhan itu berkata sambil menelusuri luka di punggung, perut, hingga pundak Winda.
"Begini, buat merekoveri luka- luka ini, saya belum sanggup. Ini terlalu banyak. Saya rekomendasikan klinik teman saya di Singapura. Dokter Andrew Chua."
"Jadi kapan kamu bisa mengunjungi dokter yang Anda rekomendasikan itu?"
"Secepat mungkin," dokter Roosaline kemudian duduk lalu mengambil sesuatu dari laci. Kemudian menuliskan sesuatu di atas selembar kertas. "Saya hanya melakukan pemeriksaan awal. Ini kalau mau mulus benar- benar seperti sedia kala, memang ada tatapannya. Jadi kemungkinan besar, butuh dua sampai tiga kali bedah. " Si dokter menatap lurus ke arah Giri. Untuk melihat apakah lelaki itu masih ingin melanjutkan proses pengobatan istrinya.
"Saya nggak masalah. Yang penting istri saya sembuh."
"Betul. Luka yang didapatkan dari penganiayaan memang harus dihilangkan. Zaman sekarang, segalanya sudah serbacanggih. Selain membuat kulit jadi kembali cantik, juga akan membuat psikolgis pasien menjadi lebih baik. Tentunya juga harus ada usaha penyembuhan dari dalam. Itu tugas Anda."
Giri sempat merengut sebentar. Dokter satu ini gaya bicaranya sangat ceplas- ceplos. Tanpa tedeng aling- aling. Tapi kelihatan sekali kalau dia sudah berpengalaman.
"Saya harus menghubungi dokter Chua dulu. Nanti kami akan menghubungi Anda, mengenai kapan Anda bisa mulai konsultasi ke beliau."
***
"Ke Singapura pasti mahal kan, Mas?"
"Kamu nggak perlu nanyain hal kayak begitu. Cukup kamu menyiapkan diri buat prosedur bedah plastiknya. Itu saja. Yang lainnya itu urusan saya."
Winda terpekur. Mereka kini sudah di dalam mobil dalam perjalanan kembali dari klinik Magisa Dermatology. Klinik milik Tantenya Danial, yang direkomendasikan Icha tadi pagi.
Icha sendiri masih cuti kerja lantaran muntah- muntah kemarin. Danial langsung menyuruhnya bed rest. Usia kandungannya sudah masuk tujuh bulan. Dan muntah- muntah saat usia kandungan yang sudah tua, bisa jadi ada indikasi pre-eclampsia. Danial tidak akan sanggup menanggung kalau sampai kehilangan Icha.
Untung saja Giri meng- ACC cutinya Icha. Sebenarnya dia malah sudah ingin mengusir Icha dari kantor. Takut kalau perut humasnya itu meletus sewaktu- waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomansaSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
