"Kok nggak bilang sih, kalau mau ke sini?" tanya Giri, begitu dia berhasil menggiring sang istri ke dalam ruangannya. "Tahu gitu kan aku minta Amin jemput kamu tadi."
Winda hanya menanggapi dengan senyuman tipis.
"Itu kue aku kira cuma buat aku doang," ujar Giri lagi, "tahunya kamu bikin banyak ya?"
"Mas Giri mau makan sekarang?"
Giri mengangguk. " Mau dong!" ujarnya antusias. "Bikinanmu pasti enak!"
Winda mengulum senyum. Ia sudah membawa serta piring kertas berikut pisau plastik yang ia beli di toko kue kemarin dulu. Kue untuk karyawan Giri sudah didrop di meja Nindi tadi.
"Tadi aku juga udah nganterin ke Mbak Mala. Sekalian jenguk. Udah dua mingguan absen. Trus mampir ke tempat Yuni juga."
Mendengar cerita istrinya, kontan mata Giri melebar. "Jadi kamu muterin Jakarta dong? Kan bisa dikirim pake Grab, Sayang. Nggak perlu capek- capek begitu. Atau aku bisa kirim Amin kalau memang kamu punya niat buat mengukur jalanan Jakarta!"
"Nggak perlu lah, Mas. Kayak aku ini siapa aja," tolak Winda halus. "Lagian sekalian mau ngobrol sama Yuni juga. Temanku di Jakarta ini cuma Tini sama Yuni doang kan. "
Giri menatapnya iba. Semenjak menikah dengan Winda, entah mengapa gaya berkomunikasinya dengan perempuan jadi semakin berbeda.
Bersama teman-temannya seperti Ardha atau Bagas dan yang lainnya, Giri memang bisa bertingkah menjengkelkan.
"Jangan- jangan Mbak Mala mikirnya Mas nggak pernah jenguk karena kularang atau apa..."
"Kok ngomongnya gitu sih?"
Giri kemudian meletakan piring kertasnya ke atas meja yang knjini semakin bertambah penuh karena ada kue dan piring kertas juga di atasnya. Ia kemudian meraih tubuh Winda, lalu merengkuhnya.
"Kamu kesepian banget ya Win, sampai punya banyak waktu buat manggang kue. Terus nganterin ke Pamulang. Kelapa Gading, trus ke sini. Kamu pengin punya kegiatan atau apa?" tanya Giri dengan suara lembut. "Supaya jangan mikir yang bukan- bukan."
Winda tertegun. Mendengar penuturan suaminya barusan itu malah membuat perasaan bersalahnya kembali menggulung hatinya. Karena ia tetap merasa bahwa tidak seharusnya Giri menikah dengan perempuan yang tidak akan bisa memberinya keturunan.
Melihat wajah istrinya yang murung, Giri mengurai pelukan. Mengamati wajah cantik Winda yang di matanya tersaput awan mendung. "Kamu kenapa? Kok kayak murung gitu? Kangen sama Ibu atau apa? Kapan- kapan kita ke Subang, gimana? Tapi setelah kita dari Singapura nanti ya?"
Winda akhirnya mengangkat kedua sudut bibirnya. Membentuk seulas senyum yang simpul. Namun hal itu tetap menjadi tanda tanya bagi Giri.
***
"Kamu beneran nggak apa- apa ikut aku jenguk Gibran?" sembari fokus menyetir, Giri sekali lagi bertanya pada sang istri.
Kemarin siang Melitha menelepon Giri dan mengatakan kalau Gibran masuk rumah sakit lagi. Meski cuma mantan istri dan Gibran juga bukanlah darah dagingnya, namun Giri masih berupaya untuk menjaga silaturahmi dengan Melitha.
Bukan lantaran karena lelaki itu masih berharap pada mantan istrinya. Melainkan karena timbul rasa iba di hati Giri. Semenjak memilih untuk menjalin hubungan dengan pelukis itu, keluarga besar perempuan itu praktis mengucilkannya.
Lagi pula perasaan Giri untuk Melitha sudah tuntas sejak bertahun- tahun yang lalu. Dan karena mereka bercerai atas keinginan Melitha yang tidak ingin melihat Giri lagi pada waktu itu. Terlebih ketika Melitha akhirnya memastikan bahwa Giri pernah berhubungan intim dengan Davinsha. Perempuan itu lantas kehilangan minatnya pada Giri.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomanceSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
