Hari itu Giri memutuskan untuk pulang lebih cepat. Seharian ini pikirannya seruwet benang kusut. Dan selalu menjalar ke mana- mana membuatnya sulit fokus.
Giri tidak berhasil menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Setelah pada pukul delapan dia keluar ruangan, lelaki itu memutuskan untuk mengelilingi Jakarta. Ingin pulang tapi dia ragu.
35 tahun usianya, tapi menghadapi perempuan yang mungkin sedang menunggunya di rumah, membuatnya gamang tanpa alasan yang jelas.
Ia sengaja meletakkan ponselnya di dasbor. Terkadang kalau beruntung, Winda akan mengirimkan pesan padanya. Meski cuma berupa pertanyaan resmi dan cenderung basi, seperti menanyakan jam berapakah Giri akan pulang. Itu pun hanya terjadi pada minggu pertama pernikahan mereka.
Apakah dengan ini Giri menyatakan dirinya sudah jatuh cinta pada sang istri? Jawabannya adalah cinta tidak muncul begitu saja bagi seorang Giriandhana Jati. Maksudnya, lelaki itu tidak pernah mempercayai kalimat tolol yang berbunyi cinta pada pandangan pertama.
Kalau tertarik masih mungkin. Ah, kali ini pikirannya memang betul- betul melanglangbuana tak tentu arah. Akibatnya membuat mood Giri semakin berantakan. Dia sudah sampai di dekat pintu tol dalam kota, tapi kemudian memutuskan untuk putar balik. Sebaiknya dia memang pulang saja. Meskipun dengan begitu, mungkin dirinya akan tersiksa, karena punya teman seapartemen tapi Giri malah merasa tidak begitu leluasa di dalamnya.
***
Winda sedang menonton televisi di ruang tengah ketika Giri muncul secara mendadak. Ya, bagi Winda kemunculan lelaki itu yang tiba-tiba tentu saja mengagetkan dirinya.
Lelaki itu biasanya baru kembali ke apartemen lewat pukul sepuluh. Sekarang ini baru jam sembilan lewat sepuluh menit. Winda segera bangkit dari sofa. "Mas udah pulang?" tanya wanita itu kaku.
Malam itu Winda hanya mengenakan daster berlengan pendek yang panjangnya selutut. Warnanya cokelat susu dan cukup kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Rambutnya dicepol begitu saja, sehingga menampakkan lehernya yang jenjang dan mulus.
Tidak sengaja tatapan Giri mengarah ke titik tersebut. Dan tiba- tiba saja ia merasa darahnya tersirap. Berdesir panas. Membuat lelaki itu jadi salah tingkah. Padahal sebetulnya tidak perlu.
Lelaki itu kemudian hanya mengangguk. "Mau makan malam?"
"Nggak usah. Tapi kalau kopi, boleh."
"Saya bikin dulu."
Giri hanya mengangguk. Kemudian ia melangkah ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Begitu ia keluar dari kamar, semerbak aroma kopi sudah menguar menggelitik indera penciuman lelaki itu.
Ia telah mengganti kemeja dan celana jinsnya dengan kaus oblong hitam dan celana pendek selutut warna abu- abu. Rambutnya basah, dan tubuhnya menguarkan aroma sabun yang segar.
Melihat Giri sudah keluar dari kamar, Winda memutuskan untuk masuk ke kamarnya sendiri. Wanita itu juga jadi merasa canggung bila berdua-duaan saja dengan lelaki itu. Padahal Giri itu suaminya.
"Kamu mau ke mana?"
"Mas....uk?" Winda dengan gugup menunjuk ke arah pintu kamarnya. Dia agak bingung karena malam ini Giri sepertinya agak sedikit berubah. Lelaki itu jadi menunjukkan keakrabannya.
Padahal sebelum- sebelum ini, lelaki itu bahkan seperti tidak peduli kalau Winda ada di apartemen tersebut. Dia sudah mirip angin di mata Giri. Terkadang tak kasat mata.
"Nggak usah bengong. Duduk sini. Temenin saya sebentar. Atau kamu sudah ngantuk?" Giri meraih cangkir kopinya. Ia menghirup sejenak aroma wangi tersebut, sebelum menyesapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomansaSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
