Setelah dari Pamulang, Winda langsung gas ke Kelapa Gading. Memang jatuhnya seperti memutari Jakarta, tapi dia memang sedang membutuhkan pengalih perhatian.
Menyetir sambil mendengarkan lagu- lagu dari ponsel yang disambungkan ke perangkat pemutar musik. Lagu Bahagia dari GAC meluncur, menemani Winda yang sedang berjibaku melintasi jalanan Jakarta dengan matahari yang memanggang bumi. Teriknya bukan main jor- joran--- gila- gilaan.
Dia berniat mampir ke tempat Yuni dan memberikan bolu hasil panggangannya tadi pada satu- satunya sahabat Winda selain si Tini.
Mereka lagi - lagi janjian di warteg dekat Kembang Lawang seperti kapan hari itu. Melihat wajah muram sohibnya, Yuni berdecak. Dia terkadang gemas sendiri pada Winda.
Padahal bintang keberuntungan sedang menaungi perempuan itu. Tapi mukanya entah mengapa selalu saja ditekuk.
"Aku bawain bolu ketan hitam. Bikin sendiri."
"Makasih. Tapi kenapa muka lo mendung gitu. Padahal hari ini cuacanya cerah begini!" sambut Yuni.
Perempuan itu menerima kotak kue yang dibungkus kantung kresek bening. Lalu mendekati etalase untuk memilih makanan. Siang itu, Yuni menjatuhkan pilihan pada nasi, ayam kare, tumis pare teri, dan tempe goreng tepung. Sementara Winda yang hatinya gundah hanya memesan minuman berupa es jeruk.
"Aku baru dapat kabar dari Kang Arman. Katanya Tomi udah nikah lagi. "
"Trus?"
"Dua bulan lalu istrinya melahirkan. "
"Trus?"
"Berarti memang aku yang bermasalah kan, Yun?"
"Tunggu, tunggu," sela Yuni. Dia sebenarnya sedang asyik mengaduk- aduk nasi dengan lauk. Tapi baru mendengar keluhan Winda, dia jadi kehilangan minat pada sepiring nasi warteg yang tadinya menggoda banget. Karena kebetulan Yuni sedang lapar.
"Apa hubungannya sama lo kalau istrinya Tomi hamil dan melahirkan?"
Winda menghela napas sejenak. Lalu menghembuskannya dengan penuh keputusasaan. Karena baru saja dia menemukan kebahagiaan pernikahan bersama Giri. Namun sekarang kenyataan menamparnya. Ancaman bahwa dirinya mandul dan tidak akan pernah bisa memberikan anak untuk Giri betul- betul menghantuinya. Rasanya lebih horor ketimbang dihajar Tomi.
"Aku udah lima tahun nikah sama Tomi. Tapi kamu lihat sendiri. Nggak ada hasilnya. Hamil pun aku belum pernah. Tapi kenapa dengan perempuan lain Tomi langsung bisa punya anak, Yun. Ini berarti aku kan yang bermasalah selama ini?"
"Atau cuma pikiran elo doang," setelah melongo selama beberapa saat, Yuni akhirnya mulai suapan pertamanya dengan nikmat. Tadi dia membantu untuk mengecek inventaris dan stok bahan di gudang.
Jam makan siangnya sendiri molor, sehingga sekarang dia mirip Godzilla kelaparan. Langsung menggempur sepiring nasinya dengan nikmat.
"Kenapa sih, Win, lo tuh nggak bersyukur aja sama rahmat yang elo terima dari Tuhan. Gue yakin kok secara agama lo jauh lebih paham dari gue. Lo tuh dikasih suami yang baik kayak Giri kenapa pikiran lo masih piknik ke mana- mana!"
Winda merasa tertohok dengan ucapan sahabatnya itu. Kendati menyakitkan, namun yang dilisankan Yuni barusan memang ada benarnya. Winda tidak bersyukur.
"Terus aku harus gimana, Yun?"
"Ya lo tanya laki lo dong, Geulis! Itu tuh sesuatu yang mesti lo obrolin langsung sama suami elo. Bukan gue, apalagi lo pendem sendirian kayak gini. Jadinya apa coba? Sakit sendiri! Iya, kan? Lo jadinya overthinking sendiri. Pusing sendiri. "
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomanceSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
