Dua Puluh Delapan

10.4K 965 105
                                        

"Maafkan saya," keduanya, mengatakan pada saat yang bersamaan.

Baik Winda maupun Giri jadi salting. Keduanya kemudian melemparkan pandang ke arah lain. Ada perasaan yang membuncah di dada Winda. Ini sesuatu yang baru baginya. Perempuan itu menundukkan kepalanya.

"Seharusnya saya nggak pergi ninggalin kamu begitu saja. Tadi saya dikuasai emosi."

Winda tidak tahu harus menjawab apa. Jadi dia tetap tergugu menundukkan kepalanya dengan sikap takzim.

"Kenapa kamu bertahan dalam pernikahan yang sakit begitu?"

Lama berselang, kemudian terdengarlah jawaban Winda yang ragu- ragu dengan suara begitu lirih. "Karena waktu itu saya nggak punya pilihan. Saya nggak tahu harus cerita ke siapa."

"Terus kamu simpan semuanya itu sendirian? Selama bertahun-tahun?"

Sebagai jawabannya, Winda mengangguk kecil. "Gimana sama orangtuamu?"

"Saya nggak mungkin cerita sama Ibu saya. Tapi suatu hari dia tahu. Namun sama seperti saya, ibu saya nggak punya kuasa buat ngambil keputusan. Dia nggak mau saya jadi janda di usia yang terlalu muda. Apalagi janda karena perceraian."

Giri menggenggam erat roda kemudi, hingga buku- buku jarinya memutih. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran orangtua Winda. "Kamu nggak nunjukin luka- luka itu."

Kali ini Winda memberanikan dirinya untuk menoleh ke arah Giri yang kedua matanya fokus mengawasi lalu lintas jalanan pagi itu. Padat. Merayap. Winda tidak heran. Jakarta jam berapapun memang selalu penuh dipadati kendaraan. Hanya saja, pagi- pagi begini dan jam pulang kantor menjadi saat- saat yang paling gila.

Semua orang tidak sabar ingin segera tiba di tempat tujuan. Klakson bersahutan. Menambah ketegangan di dalam mobil yang ditumpanginya juga. "Tadi saya sudah bilang. Ibu saya tahu."

"Benar- benar nggak ada yang menolong kamu? Bagaimana dengan kakak kamu? Arman?"

"Kang Arman selalu sibuk dengan pabrik kami. Saya nggak mungkin kalau mau menambahi beban pikirannya. Lagi pula kakak saya juga awalnya nggak setuju dengan pernikahan itu. Dia bilang ke Bapak, kalau saya masih terlalu muda buat menikah. Tapi Bapak merasa cepat atau lambat saya pasti akan menikah."

"Sekarang atau nanti sama saja! Ini mumpung yang ngelamar orang terpandang di kampung kita. Orangtuanya Tomi punya banyak usaha. Hidup Winda pasti akan terjamin. Begitupun dengan kita yang pasti akan kecipratan untungnya, kan!"

Masih terngiang jelas, argumen Bapaknya ketika keluarga Tomi sudah pulang dari rumah mereka untuk menanyakan Winda. Kang Arman sebenarnya ingin mengusahakan agar Winda tetap kuliah. Namun Bapaknya tentu tidak setuju.

"Buat apa perempuan itu sekolah tinggi- tinggi! Kamu itu cantik. Seharusnya bersyukur ada yang mau sama kamu sekarang. Kaya raya orangnya. Tomi juga ganteng. Gagah. Apa yang kurang? Jangan macam- macam. Mendapatkan Tomi, kamu sudah beruntung. Nggak banyak gadis yang bisa menikahi lelaki kaya macam Tomi."

"Sebenarnya beberapa orang di kantor saya juga tahu." Winda tiba- tiba berkata. Ingatanya melayang pada kedua temannya di pabrik, juga bagian HRDnya.

Ah, Mas Salman.

Dulu mendapatkan perhatian dari lelaki yang menjabat sebagai kepala HRD itu membuat hati Winda sedikit mendapatkan angin. Perempuan itu bahkan sempat menyesali pernikahannya. Andai saja orangtuanya mampu bersabar, mungkin Winda bisa sedikit beruntung mendapatkan lelaki yang perhatian dan kharismatik seperti Mas Salman.

Hanya saja, saat itu Winda tahu diri. Terlalu jauh jalan untuk kembali. Pengandaian tidak akan mengubah segalanya. Tidak membuat jalan hidupnya jauh lebih baik. Malah semakin membuat hatinya nelangsa akibat tidak mampu meraih hal- hal yang Winda inginkan.

It's Start With Broken Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang