Tiga Puluh Dua

10.4K 921 62
                                        

Akhirnya, Nindi memang pergi makan gultik di blok M. Tapi bukan  bareng Bang Aziz, melainkan janjian dengan teman-temannya. Resa dan Astri.

"Gila! Cepet banget lo makannya!" Komentar Astri.

"Lah memang karena porsinya seuprit! Lihat, si Nindi aja udah porsi ketiga tuh. Padahal dia makan sambil ngelamun. " Resa menunjuk ke arah piring yang menumpuk di depan tempat duduk Nindi. Padahal yang punya lagi menyendoki gultik plus nasi sambil bengong. Macam anak hilang karena baru digondol genderuwo.

Putus dengan Dion memang membuat Nindi benar- benar patah hati. Tapi gimana lagi? Dia itu sudah sebal setengah mati sama lelaki itu!

Dion yang terlalu pasif dan tidak punya inisiatif. Nindi sedang mengenang awal perjumpaan mereka sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu, dirinya baru saja bekerja di Kembang Lawang.

Ia dan Dion bertemu ketika Nindi mengikuti ajakan Resa untuk ketemuan sama pacarnya di mal. Pacar Resa itu bekerja di perusahaan ekspedisi bernama Golden Epona, namanya Rama. Dan saat itu, Rama datang bersama Dion.

Pertama kali melihatnya, seperti ada petir yang menyambar hati Nindi. Sejak saat itu dia naksir berat pada sosok Dion yang menurutnya berkarisma sekaligus cool.

Baginya, Dion lain dari lelaki pada umumnya. Diamnya lelaki itu hanya menunjukkan betapa dewasanya dia. Wajahnya sekilas memang benar-benar mirip aktor Dion Wiyoko. Mata sipit, rahang kukuh, dan badan yang atletis.

Nindi akhirnya curhat habis-habisan ke Resa bahwa sepertinya dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama ke Dion. Gadis itu bahkan tidak berhenti memuji- muji lelaki itu sepanjang minggu sampai- sampai Resa jadi pusing sendiri mendengar celotehannya tentang Dion yang inilah, Dion yang itulah. Padahal kan dia baru melihat Dion sekali itu!

"Dion itu pendiam."

"Kelihatan kok, "

"Jadi lo harus hati- hati kalau memang suka dia. Jangan berharap dia bakalan mengirim pesan atau bahkan minta nomor ponsel lo duluan. Mungkin yang ada di kepalanya cuma kode PHP, phyton, JavaScript, dan lain sebagainya!" Resa pernah memperingatkannya waktu itu.

Tanggapan Nindi adalah manggut-manggut saja. Saat itu, matanya sedang buta. Buta karena dia sudah kadung kepincut sama pesona Dion yang pendiam.

Akhirnya, setelah memohon- mohon pada Resa, sahabatnya itu setuju untuk memberikan bantuan supaya Nindi punya kesempatan untuk bertemu dengan Dion. Prosesnya lama memang. Dari ngobrol kamu sampai berhasil membuat Dion mengatakan sesuatu lebih dari tiga kata pada Nindi.

Seharusnya dari situ saja Nindi tahu, bahwa hubungan yang dipaksakan memang tidak akan berakhir bahagia. Dion di mata Nindi seperti tidak punya sikap. Selama dua tahun ini, selalu Nindi yang maju lebih dulu.

"Sekarang kan lo ngerasain, Nin. Bagi kita seorang cewek tuh memang lebih baik dicintai dengan ugal- ugalan sama pasangan kita. Ketimbang kita yang mesti berdarah- darah buat bikin orang yang kita suka benar- benar melihat kita."

Resa sudah meletakkan piring ke limanya. Makan Gultik memang ada seninya. Harus lebih dari satu piring. Meski bisa beli langsung tiga porsi dalam satu piring, dan jatuhnya jauh lebih murah, tapi melihat piring- piring bertumpuk itu semacam ada kepuasan tersendiri.

Mendengar khotbah sahabatnya, Nindi cuma bisa meringis doang. Dalam hati, meskipun menyetujui perkataan Resa barusan, tapi gadis itu masih tidak terima. Begitu mudahnya Dion melepaskan dua tahun yang Nindi perjuangkan. Mulai dari masa pedekate sampai jadian. Mulai Dion berusia 28 sampai sekarang mau masuk tiga puluh. Dua tahun hanya untuk berakhir sia- sia.

***

Lain dengan Nindi, lain pula dengan Giri dan Winda. Semalaman kedua lengan kokoh Giri memeluk istrinya. Di tengah- tengah bunyi ritmis air hujan yang jatuh ke atap. Di tengah- tengah bebunyian serangga malam dan kodok- kodok yang sedang berpesta pora.

It's Start With Broken Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang