Epilog

20.2K 1K 60
                                        

Singapura

Sambil menunggu jadwal operasi plastik pemulihan kulit punggung Winda, keduanya memutuskan untuk jalan-jalan di Singapura. Tak tanggung- tanggung, Giri mengajak Winda untuk menginap di Orchard road. Sementara itu rumah sakit tempat Winda akan menjalani bedah plastik sekaligus recovery kulit punggungnya juga berada di area yang sama.

Sudah tiga hari mereka berada di Singapura. Menikmati kota itu dengan makan di hawker center- nya yang terkenal. Hari pertama Giri membawa Winda ke Lau Pa Sat. Memesan sate dan berpendapat bahwa mereka berdua lebih cocok dengan sate Madura atau sate Padang. Hari kedua mereka pergi ke Old Airport Road. Giri juga membawa Winda ke Gardens by Bay serta Flowers Dome. Pada hari ketiga, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di hotel.

Besok hari, Winda harus menjalani operasi plastik. Di depan televisi plasma 50 inci, di atas sofa yang nyaman, keduanya kini berpelukan. Sementara Hannah Al Rasyid sedang membantai sekumpulan orang. "Kamu takut?"

"Takut," Winda mengangguk. Kemudian menoleh ke arah suaminya. "Tapi aku mau melakukan ini karena aku mau masa lalu aku pergi. Selamanya."

Giri mencuri satu ciuman di pipi istrinya yang penuh. "Gitu dong. Itu baru istrinya aku." Giri meraih tangan Winda untuk kemudian dibawanya ke bibir lelaki itu. Diciumnya punggung tangan Winda dengan takzim. Seolah-olah itu adalah benda paling suci di dunia. "Aku bukannya nggak nerima kamu apa adanya. Tapi setiap lihat bekas luka di punggung kamu, rasanya emosi aku selalu naik."

Winda menatapnya dalam- dalam. "Bukan karena jijik?"

"Nggak." Giri lagi- lagi menggeleng tegas dan mantap. "Karena aku bisa mencintai luka itu kalau kamu dapatnya sejak kecil. Karena kecelakaan atau apa. Ngelihat punggung kamu, yang ada dalam kepalaku selalu adegan kekerasan yang nggak pantas dibayangin saat seharusnya kita bermesraan."

Wajah Winda memerah. Ia kemudian menundukkan kepala. "Kamu blushing," ucap Giri. "Malu ya?"

Winda menggeleng. Tapi dia tetap tidak mau mengangkat kepalanya. Bahunyapun bergetar lantaran tawa. "Lho, ketawa ya? Ngeledek! Ayo sini mana mukanya!" Giri mencari- cari wajah Winda, mencoba menengadahkan kepala wanita itu ke arahnya.

Keduanya kemudian terlibat pertengkaran heboh. Giri memeluk Winda, dan tangannya berusaha untuk mendapatkan wajah wanita itu, sementara Winda sibuk mengelak. Dia menangkap kaki Giri dan menggelitiki telapaknya. Giri langsung tepar.

Satu hal yang Winda dapat hari ini. Giri paling tidak tahan geli. Lelaki itu sampai minta ampun dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Berjanji untuk tidak iseng. Berjanji jadi lelaki yang selalu menjaga dan menyayangi Winda sampai eksistensi berikutnya.

Juga banyak janji- janji lain yang membuat Winda akhirnya menutup mulut Giri dengan bibirnya sendiri.

                               *****

Thanks buat semuanya yang udah ngikutin ceritanya Giri sama Winda sejak awal. Akhirnya Giri bisa bahagia walau nggak sama Davinsha. Karena pada akhirnya, setiap orang bakal nemuin happy ending nya sendiri- sendiri. Meski nggak selalu sama seseorang yang disukai sejak awal.




It's Start With Broken Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang