Hujan sempat berhenti sebentar, ketika Winda dan Giri memutuskan untuk pulang setelah menandaskan makanan mereka.
Dalam perjalanan kembali ke villa, Giri menawarkan untuk pergi ke pusat oleh- oleh untuk membeli beberapa snack. Begitu Giri memarkir mobil di parkiran villa, hujan seperti dituangkan Tuhan dari langit. Untungnya mereka sudah berada di area villa.
"Hujan- hujan gini enaknya minum yang anget- anget kan?"
"Mas mau aku bikinin bandrek?"
"Bisa emang?"
"Ada sih yang kemasan tadi. Atau pesan dari restoran villa?"
"Kamu nggak bisa bikinin sendiri gitu? Jahe geprek juga nggak apa- apa." Sahut Giri. "Ya udah kamu ganti baju dulu. Aku juga. Kamu ganti di kamar mandi, aku di kamar aja."
Winda mengangguk. Ia kemudian masuk ke kamar mandi. Di sana ia mengambil sehelai handuk lebar untuk diberikan pada Giri. Winda sendiri mengganti pakaiannya dengan midi dress. Panjangnya sebetis, berwarna hijau kulit jeruk nipis, dengan lengan sesiku. Rambutnya ia ikat menjadi buntut kuda.
Begitu keluar dari kamar mandi, Giri terus mengawasinya. "Sini, " ia meraih tangan Winda mendekati sofa di ambang jendela. "Lihat hujan dari sini bagus banget." Winda terduduk di samping suaminya.
"Dingin nggak?"
Winda mengangguk rikuh. "Aku juga."
Giri berujar. Entah apa maksudnya itu. "Boleh peluk?" lelaki itu menatap Winda lekat- lekat. "Harusnya boleh dong. Kita udah nikah kan?"
Muka Winda merah. Tubuhnya panas dingin, mendengar perkataan suaminya. Suasananya memang sangat mendukung untuk melakukan sesuatu seperti apa yang dikatakan oleh Giri barusan. Berpelukan.
Astaga. Ini adalah hal baru bagi Winda. Sebelum menikahi Tomi, Winda belum pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Dia memang sempat naksir kakak kelasnya. Namun sang kakak kelas merantau ke Taiwan begitu lulus dari SMA.
Hubungannya dengan lawan jenis baru dimulai ketika dirinya didekati Tomi, kemudian menikah dengan pria itu. Dan cara Tomi memperlakukannya dulu, begitu manis khas seorang lelaki yang ingin mendapatkan perempuan yang diinginkannya; menggebu- nggebu, sebelum kemudian bersikap kasar karena merasa sudah memiliki hak atas diri Winda.
Winda sendiri tidak begitu tertarik pada Tomi. Dia memang bisa dinobatkan sebagai lelaki paling tampan di desanya, hanya saja, perempuan itu juga banyak mendengar dari orang-orang di sekitar, bahwa Tomi itu pengangguran.
Dia punya banyak kesempatan, kalau ingin melanjutkan kuliah, bekerja di tempat yang mapan, atau mendirikan usaha, alih-alih, lelaki itu cuma bisa ongkang- ongkang kaki. Berkumpul dengan teman-temannya di warung dari sore sampai pagi. Begitu mulai mendekati Winda, lelaki itu jadi sering nongkrong di seberang rumah orangtuanya Winda. Pak Darman pemilik rumah itu memang bekerja di penggilingan padi milik orangtua Tomi.
Melihat istrinya diam dengan mata menerawang, Giri mendekatinya dan menuntun perempuan itu untuk duduk di atas sofa. Hujan di luar semakin menderas. Langit menggelap dengan cepat. Suasananya menjadi dingin dan sepi. "Kamu belum siap?"
Winda menoleh, menatap Giri kebingungan. "Kamu belum siap aku sentuh?"
"Maaf, Mas. Aku... aku...." Winda tergeragap. Kemudian memejamkan matanya.
"Hei," Giri berujar menenangkan istrinya. "Nggak perlu begitu sama aku. Nggak perlu takut. Aku juga nggak ingin buru - buru. Aku ngajakin kamu ke sini, supaya kita bisa dekat satu sama lain. " Tangan Giri terulur meraih rambut Winda, kemudian mulai mengelusnya dengan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomanceSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
