"Tapi saya takut, Mbak!" ujar Amin sembari bergidik ngeri. Dalam bayangannya yang imajinatif itu, muncul adegan bos yang ngamuk - ngamuk, karena mereka melanggar janji. "Ntar kalau Pak Giri marah, saya bisa habis. Saya masih betah kerja di Kembang Lawang. " Wajah Amin memelas.
Nindi berdecak sebal. "Ealah, Min, Min! Yang bener aja lo. Pinteran dikit dong. Coba lo pikirin, kalau ada istrinya, bos pasti langsung seneng tuh!"
Nindi yang berdiri di tengah- tengah lorong rumah sakit sambil garuk- garuk kepala. Frustrasi sendiri, karena Amin tidak mau diajak untuk bekerja sama.
Tadinya Nindi berniat untuk menghubungi Winda, supaya istri si Bos datang buat nungguin suaminya yang kalau sakit rewelnya ngalah- ngalahin balita.
"Kenapa bukan Mbak Nindi saja sih yang nelepon Bu Winda."
"Aduh, Amin. Masalahnya tuh gue udah janji sama si bos kalau gue nggak bakalan nelepon bininya. Sebagai warga negara yang baik, gue harus menepati janji dong. Nah, kalau elo kan nggak ada janji apa- apa tuh sama Pak Bos. Jadi lo boleh nelepon Bu Winda."
"Aduh, Mbak...." Amin semakin gemetar. Lelaki berusia 22 tahun itu meringis sembari menggaruk pelipisnya. Pusing. Bingung.
"Ayo dong, Min. Gue masalahnya curiga kalau bos sama Bu Winda lagi pada ngambek- ngambekan. Kata ceramah ustad Mamah gue yang di Bogor tuh, kalau kita bantu mendamaikan suami istri yang lagi berantem, pahalanya gede, tuh! Lo tahu nggak? Pernah ikut pengajian, nggak?"
"Nindi?"
Begitu ada yang menyebut namanya, Nindi kontan menoleh. Seorang perempuan berusia pertengahan lima puluh dengan blus dan celana berpipa. Rambutnya model bob mirip gaya Anna Wintour dari majalah Vogue itu. Tapi raut wajahnya ramah. Di sampingnya ada perempuan seusianya. Mengenakan dress navy dengan rambut tergerai di pundak.
Tante Feni dan Diandra. Ibu sama adik Dion. Nindi terkejut dengan kehadiran mereka yang mendadak itu. Siapa yang bakal menyangka bisa ketemu mereka di tempat random seperti rumah sakit ini?
"Mami," ujar Nindi yang langsung menyongsong perempuan itu dengan kedua lengan terentang. Kemudian merengkuhnya. "Ya Ampun Mami, Nindi kangen banget. Udah lama ya kita nggak ketemu."
"Kamu tuh yang jadi jarang mampir ke rumah Mami. Kata Dion sibuk terus. "
Nindi kemudian beralih memeluk Diandra. "Diandra kapan balik dari Bandung?"
"Kemarin."
"Suami ikut?"
Diandra cuma menggeleng. Sejak dulu pembawaan adik perempuan Dion memang begitu. Pendiam banget. Tapi dia suka sama Nindi yang ramai banget. Diandra menikah dengan teman SMA hingga kuliahnya. Sekarang tinggal di Bandung. Perempuan itu sendiri juga bekerja di kota kembang tersebut sebagai dokter gigi.
"Mampir dong ke rumah. Minggu depan Mami ada acara keluarga. Kamu bantuin ya?"
Wajah Nindi tampak murung. "Tapi memang nggak apa- apa, Mi, kalau aku datang ke tempat Mami?"
"Lho, ya nggak apa- apa lah. Memang kenapa?"
"Nggak," Nindi menggeleng lalu kemudian menunduk.
" Nindi kalau ngomong ngadep ke Mami dong. Ada apa sebenarnya? Kamu berantem sama Dion?"
Lagi- lagi Nindi cuma menggeleng. "Takut ketemu sama pacar barunya Dion, Mi."
Mami langsung terdiam. Termangu. Raut wajahnya berubah gusar. "Jadi kamu putus sama Dion?"
Nindi cuma mengangguk.
"Kok Dion diam aja sih. Memang apa masalahnya?"
"Ya gitulah, Mi. Barangkali kita nggak cocok jadi pasangan. Aku tahu Dion orangnya baik. Dion nggak pernah main mata ke cewek lain. Tapi ya itu." Nindi kemudian menghela napas. Dia sendiri kayak kelelahan banget timbang cuma ngomongin soal putusnya hubungannya dengan Dion yang memang sudah terhitung lumayan lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomansaSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
