Giri kembali ke apartemennya ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua dinihari.
Tempat tinggalnya gelap dan hening. Kesepian yang terasa ganjil. Ia mencari- cari pertanda keberadaan Winda. Pertama-tama, lelaki itu mengecek kamarnya. Kosong. Kasurnya pun telah rapi. Bed cover kembali ke tempat semula. Hati Giri mencelus.
Dengan kunci cadangan yang dia punya, lelaki itu membuka pintu kamar Winda. Nihil. Tidak ada tanda- tanda sang pemilik kamar berada di dalam sana. Giri terpekur di ambang pintu. Kamar Winda yang bernuansa hangat dengan perintilan- perintilan khas perempuan. Tidak terlalu ramai, namun menunjukkan kesan feminin.
Di atas meja rias tampak sederetan produk perawatan wajah. Kasurnya dilapisi dengan bed cover warna hijau, bantal dan guling tersusun rapi. Aroma wangi rempah- rempah menguar di udara. Giri bergerak untuk memeriksa kamar mandi. Kosong. Dingin. Hanya ada lemari gantung kecil berisi obat-obatan standar dan juga keperluan pribadi Winda.
Kamar mandinya pun bersih.
Giri menekuri ruangan itu sejenak. Kemungkinan Winda banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Ada camilan dan rak buku dengan berbagai koleksi di lemari dekat jendela. Ottoman warna abu- abu. Giri berdiri di tengah- tengah ruangan. Rasanya hatinya begitu nyeri.
***
Yuni langsung melompat menuju kamar mandi di dalam kos- kosannya yang cukup luas itu. Ia berjongkok di atas closet. Mengeluarkan isi perutnya.
Apa yang barusan dilihatnya membuat perempuan itu tak mampu menahan rasa mual akibat jijik. Melihat tubuh Winda untuk pertama kalinya yang penuh bilur, parut dan luka.
Selama ini, Yuni tidak pernah diberi tahu perihal penderitaan fisik yang harus ditanggung sahabatnya dari sebuah pernikahan. Winda hanya bercerita bahwa Tomi suka berbuat kasar padanya. Tapi yang ada di dalam bayangan perempuan itu tidak pernah sampai sejauh ini.
Secara tiba-tiba Winda muncul setelah menanyakan jam kepulangan Yuni dari restoran tempat dia bekerja.
"Jam tujuh sih kalau bagian admin. Kenapa memang?"
"Aku boleh mampir?"
Saat itu, Yuni merasakan ada sesuatu yang tidak beres hanya dengan mendengar suara Winda. "Win? Lo nggak kenapa- napa kan?"
Yuni tidak lagi mendengar suara Winda. Yang kemudian masuk ke ruang dengarnya adalah isakan yang lolos dari bibir sahabatnya itu.
Tepat pukul tujuh kurang, Winda sudah muncul di depan Kembang Lawang cabang Kelapa Gading. Dengan wajah pucat dan mata merah bekas menangis. Yuni langsung mendekatinya. Memburu sahabatnya dengan berondongan pertanyaan yang hanya dijawab dengan diam oleh Winda.
Begitu Yuni sudah bisa pulang, perempuan itu mengajak Winda untuk pulang ke kosannya. Winda kemudian menceritakan semuanya. Bahkan perempuan itu juga membuka pakaian untuk memberi tahu sahabatnya hal yang membuat Giri lari ketakutan.
Setelah mengeluarkan seluruh isi perut, Yuni bergerak mendekati kulkas kecil satu pintu di sudut dapur mungilnya. Ia kemudian mengeluarkan sebotol air mineral kemasan kecil. Menenggaknya hingga tandas.
"Sudah seperti itu, kenapa lo masih juga bertahan begitu lama, Win? Memang keluarga lo nggak ada yang tahu?"
Winda hanya terpekur. Dia mendengar pertanyaan itu, namun dia tidak kuasa untuk menjawab. Tenggorokannya tercekat. Lidahnya kelu. Bibirnya tidak mau lagi mengulang kisah di mana dirinya masih harus dianjurkan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang seperti simulasi siksa neraka itu.
Apakah ia dendam pada keluarganya?
Jawabannya, hatinya sudah penuh dengan luka. Tidak ada lagi tempat untuk dendam. Bisa terlepas dari Tomi sudah membuatnya begitu lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomanceSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
