Perubahan yang dimaksudkan adalah, Giri meminta Winda memindahkan barang- barangnya ke kamar lelaki itu.
Winda sempat terenyak. Merasa bahwa itu terlalu cepat. Tapi dia tidak menolak. Kamar Giri memang lebih besar. Selain itu di dalamnya ada walk-in closet. Ruangan tersebut rupanya bisa menampung pakaian berikut aksesoris milik Winda dan Giri.
Melihat barang mereka diletakkan, membuat perut Winda seperti diaduk- aduk. Ada rasa mulas yang membuatnya antusias dan deg- degan.
Begitupun dengan kamar mandi Giri yang sekarang dipenuhi oleh toiletries milik Winda. Kamar itu yang tadinya tidak diberi meja rias, Giri tidak mengambilnya dari kamar yang sebelumnya ditempati Winda, melainkan memesankan yang baru dari butik furnitur.
Malam pertama mereka tidur bersama, mimpi itu kembali mendatangi Winda. Sehingga ia mengigau, Giri panik dan langsung membangunkannya. Begitu Winda membuka mata, Giri segera bangkit untuk mengambilkan air minum.
"Kamu mimpi buruk lagi?"
Winda yang duduk dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya itu mengangguk. Ia meneguk air putih yang diberikan oleh Giri. Wajahnya tampak begitu murung dan sedih.
Giri menempatkan dirinya di samping Winda. Kemudian menarik bahu perempuan itu hingga merapat ke dadanya. Tubuh Winda segera kaku. "Kamu nyaman nggak begini?"
Winda hanya diam.
"Mimpi apa tadi?"
Winda tak sanggup menceritakan ulang. Di dalam mimpinya itu, Tomi mengejar- ngejar Winda, lalu lelaki itu menarik jilbab perempuan itu dan bersiap untuk mencekiknya. "Sekarang aku yang ada di sini. Bukan lelaki itu. " Tangan Giri kemudian bergerak perlahan mengusap rambut panjang Winda.
"Kamu nggak perlu takut."
Winda kemudian menengadahkan wajahnya ke arah Giri. Tatapan mereka bertemu. Lalu Winda tersedu- sedu di dada suaminya. Selanjutnya, Winda hanya bisa menangis berlama- lama. Sementara tangan Giri terus bergerak untuk membelah rambut hitam wanita itu. Tanpa berkata apa pun. Dia hanya ingin menyerap duka istrinya.
***
Begitu sampai di kantor pada keesokan harinya, Giri langsung memanggil Nindi masuk ke ruangannya.
"Kamu tahu nggak, di mana harus operasi plastik gitu?"
"Hah?" muka Nindi cengok. "Pak Giri mau operasi plastik? Mau jadi mirip siapa memang? Ben Affleck? Atau Lee Minho?"
Giri memutar bola matanya. Dua hari dia tidak bertemu Nindi, tapi sekretarisnya itu kelihatannya mulai error. "Saya serius!"
"Iya, iya, Pak." Wajah Nindi langsung mencibir. "Lagian kayak gitu nanya saya. Saya kan nggak ada pengalaman permak wajah. Gini- gini saya ini alami loh, Pak. Makanya Dion tuh udah mentok aja sama saya!" Nindi sampai melemparkan rambutnya dengan gaya mirip model iklan shampoo.
"Seharusnya Bapak nanya ke Icha. Keluarga dokter Danial kan dokter semua. Kalau nggak salah, ada tantenya yang buka klinik kecantikan. Dokter Roosaline. Mungkin juga melayani prosedur bedah plastik. "
"Panggil Icha kalau begitu. "
Nindi buru- buru ngacir keluar dari ruangan tersebut. Beberapa saat setelah Nindi keluar, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan lelaki itu. Selagi Giri memijit kening dan pelipisnya, lelaki itu berseru ke arah pintu.
"Masuk!"
Wajah Icha muncul disusul kemudian oleh tubuhnya. Perutnya melendung. Tapi perempuan itu belum ingin mengambil cuti. Icha beralasan, setelah melahirkan, tidak mungkin Danial membiarkannya untuk kembali bekerja. Terlebih, mengingat kondisi nenek suaminya yang kian hari kian menurun. Untung saja ada Lunetta yang menjaga Bu Saraswati. Bergantian dengan Icha saat akhir pekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomanceSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
