"Jadi kamu minggat dari rumah, Win?" suara Ibu Winda terdengar kuatir.
Winda sebenarnya juga tidak tahu apa yang dia lakukan. Yang jelas, ia merasa begitu cemburu melihat cara Giri menatap Davinsha. Terlihatnya begitu tulus dan memuja. Padahal ia belum pernah mendapati suaminya itu menatapnya dengan cara yang sama.
"Apa Mas Giri kasar sama kamu? Dia neriakin kamu atau pukulin kamu?" kali ini Isma yang bertanya.
Kemunculan Winda yang mendadak di depan rumah orangtuanya tentu saja bikin kampung itu geger. Bagi mereka yang tahu bahwa Winda sudah menikah dengan duda kaya raya lantas merasa sirik, tentu saja diam- diam bersorak sekaligus ingin tahu.
Terlebih bagi pendukung keluarga Tomi. Mereka yang sempat mencibir dan mengolok keluarga Winda karena wanita itu berani menceraikan Tomi dan kabur ke Jakarta.
Winda menggeleng ragu atas pertanyaan sang kakak. Jangankan berteriak, belakangan ini perlakuan Giri pada Winda begitu lembut dan istimewa. Tapi karena hal itu juga lantas membuat hati wanita itu yang rapuh jadi banyak berharap. Berharap bahwa Giri akan mencintainya seorang. Berharap dia yang jadi satu- satunya di hati Giri. Tapi rupanya harapan itu terlalu muluk.
Mungkin saja Giri memperlakukannya dengan baik karena tuntutan dari Kemala atau apa. Tapi kabur ke Subang dalam keadaan seperti ini memang bukan langkah yang dibenarkan.
"Pergi tanpa izin suami itu dosa tahu," tegur Mbak Isma. Dingin. "Ya kalau dia cariin kamu. Kalau malah diembat sama perempuan lain gimana?"
" Is!" Ibu menegur.
"Biarin sih, Bu. Biar dia jangan sedikit- sedikit lari. Masalah nggak akan selesai dengan kamu tinggal lari." Wajah Winda semakin tertunduk dalam.
Dia tahu betul, kata- kata Isma barusan memang tidak bisa dibantah kebenarannya. Kesedihannya ini terkesan seperti dibuat- buat.
Lagi pula Davinsha sepertinya sudah hidup bahagia dengan suami dan calon anak dalam kandungannya. Dipikir- pikir lagi, Davinsha pasti tidak akan mau menukar kebahagiaan yang dia miliki sekarang dengan sesuatu yang tidak pasti.
"Jadi sebenarnya ada apa, Win? Kamu tahu kan, kalau kamu sudah menikah dan pulang sendirian ke kampung, pasti orang- orang pada nanyain suamimu. Mereka pasti menyangka kalau kamu sudah dicerai...."
Yang membuat hati Winda semakin ngilu adalah karena mendengar suara ibunya yang bergetar oleh emosi. Bahkan hampir saja perempuan yang mendekati ambang usia sepuh itu menangis.
"Kamu jangan diam saja. Ngomong, kenapa pulang mendadak dan sendirian!" cecar Isma yang kini sudah memeluk tubuh kecil Ibu mereka. "Jangan kamu pikir bisa cerai seenaknya. Nikah lagi. Kemudian balik lagi cerai. Aku nggak tahu, kamu ini kenapa, Win. Banyak yang bilang kamu alim dan sebagainya. Tapi kalau melihat kelakuan kamu yang kayak begini...." Isma menggeleng- nggeleng.
Winda hanya bisa tergugu mendengar penuturan kakaknya itu. Jika diamati lebih dekat, wajah Isma tampak sepuluh tahun lebih tua. Padahal usianya belum ada tiga puluh.
Ismawardhani menikah dengan Aslan Rahman. Seorang anak kepala dusun, yang juga seorang guru olahraga. Usia Aslan 12 tahun lebih tua dari Isma. Mereka menikah ketika Isma baru saja lulus SMA, yaitu 19 tahun.
Konon katanya, Aslan yang saat itu sudah dianggap bujang lapuk, berusia 31 tahun sudah dijodoh- jodohkan sang Ibu dan kakak perempuannya dengan kolega mereka. Ibu Aslan juga seorang kepala sekolah di sebuah SD negeri di Cicadas. Namun Aslan menolak semua perempuan itu dengan alasan tidak ada kecocokan.
Hatinya baru terbuka ketika melihat sosok Isma yang tak lain dan tak bukan adalah muridnya sendiri. Waktu itu dalam momen lebaran dan Isma bersama kawan- kawannya bersilaturahmi mendatangi para guru. Ketika berada di rumah Aslan itulah, mendadak lelaki itu melihat sosok Isma dengan kacamata yang berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Start With Broken
RomantizmSetelah perceraiannya dengan mantan suami yang abusive, Arawinda Niwatasari berjuang untuk memperbaiki hidupnya lagi. Dia menjadi seorang asisten pribadi bagi seorang perempuan di kursi roda. Hanya saja, sang perempuan mempunyai adik yang sangat men...
