Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Kara terbaring di atas ranjang yang terasa begitu luas dan dingin. Ketika Deka tidak ada di sampingnya, keheningan kamar terasa begitu mencekam. Tubuhnya merasakan kehampaan, dan saat rasa sakit mulai menjalar dari perutnya, Kara menggigit bibir menahan nyeri yang semakin parah. Keringat dingin membasahi tubuhnya, mengalir dari kening hingga ke seluruh tubuh.
“Aduh... Uh...” Kara melenguh lemah, tangannya menggenggam perut yang terasa seperti diperas dari dalam. Pada awalnya, dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah sakit biasa. Mungkin tubuhnya lelah, pikir Kara. Namun, ketika ia membuka mata lagi, rasa sakit itu terasa semakin parah, seolah-olah seluruh tubuhnya diremukkan.
Ketakutan melanda Kara. Bayi dalam kandungannya. Apakah sesuatu yang buruk terjadi? Dia menelan ludah, mencoba mengatur napas yang mulai tersengal-sengal, berusaha melawan kepanikan yang menghantui pikirannya. Kara tahu ia harus bangkit, harus meminta bantuan. Dengan sisa tenaga, dia berusaha menurunkan kakinya dari tempat tidur.
Kakinya yang gemetar menginjak lantai dingin, sementara tangannya meraba dinding, mencoba mencari penopang untuk berdiri. Kamar yang biasanya terasa nyaman kini terasa begitu luas, seolah-olah jarak ke pintu tak pernah terjangkau. Setiap langkah terasa seperti rintangan berat yang menyiksa.
Ketika Kara akhirnya mencapai pintu, rasa sakit yang tiba-tiba menyerang membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya ambruk ke lantai dengan keras, tak mampu lagi menahan berat tubuh yang lemah. “Tolong...” lirih suara Kara, hampir tidak terdengar, ketika ia menyadari ada cairan yang mengalir di antara kedua kakinya. Darah. Pikirannya kacau.
Dengan napas tersengal, Kara mencoba menggeser tubuhnya, merangkak menuju tepi tangga. “Tolong...” Suaranya semakin lirih, hampir tak terdengar di tengah sepinya malam. Jarak yang ia tempuh terasa jauh, lantai dingin seakan menarik energinya, dan darah yang terus mengalir membuat tubuhnya semakin
Di lantai bawah, Nani, pembantu rumah tangga yang tengah mengambil minum, mendengar sesuatu. Sebuah suara kecil, seperti rintihan lemah. Dia berhenti sejenak, memasang telinga. “Bu Kara?” gumamnya bingung, meletakkan gelasnya dan berjalan menuju asal suara. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Ketika Nani menyalakan lampu, dia terkejut melihat sosok Kara tergeletak lemah di ujung tangga, darah segar membekas sepanjang lantai yang dilalui Kara. “Bu Kara!” serunya panik, berlari menghampiri wanita itu.
Nani berlutut di samping Kara, wajahnya pucat pasi melihat betapa lemahnya majikannya. “Bu... Bu Kara, tolong bertahan ya!” tangannya bergetar, tidak tahu harus berbuat apa. Nani tahu ia harus bertindak cepat. Segera, ia bangkit dan berlari menuju kamar Deka, tempat Deka dan Gaby sedang tidur.
“Pak! Pak Deka!” Nani menggedor pintu kamar dengan napas terengah-engah. Pintu terbuka, dan Deka memandang Nani dengan mata mengantuk. “Kenapa, Ni?”