30. Let's get divorced

526 15 11
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


****

"Bagaimana bisa bahagia, jika rumah tangga kita terlalu hitam dan putih."

Deka telah berubah. Bahkan, sudah terlalu banyak berubah. Sepuluh tahun pengobatan intensif yang dijalaninya di Amerika berhasil mengubahnya menjadi sosok yang jauh lebih baik. Emosinya yang dulu meledak-ledak kini terkendali, dan ia sudah berdamai dengan masa lalu kelamnya.

Ia menepati janji kepada Kara-bahwa ia akan menjadi pria yang lebih baik. Semua itu sudah dilakukannya. Tak hanya kepada Kara, tetapi juga kepada kedua anaknya, Raden dan Launa. Selama lima tahun terakhir, segala cinta dan kasih sayang yang ia miliki telah ia curahkan untuk mereka. Mereka adalah dunianya, hidupnya, alasan ia bangkit setiap hari.

Namun pagi itu... pagi yang tampak biasa saja, seperti pagi-pagi sebelumnya, membawa akhir yang tidak pernah ia bayangkan.

Deka bangun dengan semangat. Setelah mandi, ia menyusun rencana kecil untuk mengejutkan Kara. Ia mengambil kotak kecil yang tersembunyi di saku jasnya-kotak cincin berlian mewah dari Tiffany & Co yang baru ia beli. Cincin dengan berlian berbentuk persegi yang sempurna, cantik dan berkilau seperti Kara.

Langkahnya ringan saat ia berjalan menuju meja perhiasan Kara. Ia membayangkan wajah Kara yang akan tersenyum, mungkin tersipu, saat menerima kejutan ini. Tapi senyumnya menghilang perlahan, lalu sepenuhnya pudar.

Pandangan matanya tertuju pada sesuatu yang tidak seharusnya ada. Sebuah pil kontrasepsi tergeletak di sana, di antara perhiasan Kara.

Deka tertegun. Tubuhnya menegang seketika. Tangannya gemetar saat mengambil benda itu, memeriksanya untuk memastikan bahwa matanya tidak salah. Tapi tidak, kenyataan itu terlalu jelas untuk disangkal.

"Apa ini?" gumamnya nyaris tanpa suara, suaranya bergetar penuh rasa tidak percaya.

Memorinya berputar pada masa lalu. Ia teringat bagaimana dokter keluarga mereka beberapa hari lalu mengabarkan dengan penuh optimisme bahwa kondisi Kara dan dirinya sehat, dan keberhasilan program kehamilan hanyalah masalah waktu.

Pernyataan itu kini terdengar seperti lelucon yang kejam.

Kemarahan mulai mendidih di dalam dirinya, perlahan tapi pasti, seperti bara yang ditiup angin kencang. "Kamu bercanda, kan?" bisiknya dengan tawa getir yang terdengar menyakitkan.

Ia menutup matanya rapat, berharap saat membukanya kembali, pil itu akan menghilang. Tapi tidak. Pil itu tetap ada, menatapnya seakan mengejek.

Shattered Dreams 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang