Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Regal Ridge Golf Haven
Hamparan rerumputan hijau yang biasanya menjadi tempat favorit para eksekutif untuk bersantai kini terasa begitu dingin dan mencekam. Malam itu tidak seperti biasanya. Langit gelap tanpa bintang, angin berembus pelan membawa aroma embun yang menyelimuti suasana.
Deka duduk di teras kafe club golf itu, secangkir kopi hitam yang kini hampir dingin berada di atas meja di depannya. Kedua matanya tak lepas dari kaca besar yang memantulkan pantulan pintu masuk. Sesekali ia melirik jam tangan peraknya, lalu mengetukkan jarinya ke meja dengan irama yang tidak sabar.
“Belum datang juga, Pak?” Samuel, asistennya, memecah keheningan.
Deka hanya menjawab dengan gumaman pendek. “Tiga puluh menit terlambat.” Matanya kembali ke arah pintu, seakan berharap seseorang akan muncul dalam hitungan detik.
Samuel melirik jam tangannya, lalu berkata, “Mungkin saya bisa panggil manajer klub untuk memastikan.”
Deka mengangkat tangan, menghentikan langkah Samuel. “Tidak perlu. Mereka sudah datang.”
Pintu kafe berdecit pelan, menciptakan suara yang membuat semua orang menoleh. Namun, bukan wajah yang Deka harapkan yang muncul. Seorang pria dengan kemeja hitam rapi dan wajah tegang menghampiri mereka.
“Selamat malam, Pak Deka.” Suara manajer itu terdengar sedikit gemetar.
Deka hanya menanggapi dengan anggukan kecil tanpa minat. “Seline belum datang?” tanyanya langsung ke inti, tanpa basa-basi.
Pria itu terlihat semakin gugup. “Mohon maaf, Pak. Seline belum tiba sampai sekarang. Tapi jika Bapak mau, kami bisa menggantikannya dengan caddy lain. Saya bisa memilihkan yang terbaik untuk Anda.”
Deka menyipitkan mata, ekspresinya datar tetapi tajam. “Saya akan menunggu Seline.” Kalimatnya singkat tetapi tegas, tanpa celah untuk dibantah.
Manajer itu hanya bisa mengangguk dengan canggung. Namun, ketegangan itu segera terpecah ketika suara pintu terbuka lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Semua mata kembali tertuju ke arah pintu. Deka tersenyum tipis saat melihat sosok yang ia tunggu akhirnya muncul.
Seline berjalan masuk dengan langkah tergesa-gesa, mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans putih yang membentuk tubuh rampingnya di lengkapi sepatu yang juga berwarna putih. Rambutnya diikat ke belakang dengan jepit sederhana, memberikan kesan santai tetapi tetap menarik perhatian.
Manajer itu langsung berkomentar dengan nada kesal. “Seline, kenapa kamu belum ganti baju?!”
Seline menundukkan kepala, wajahnya memerah malu. “Maaf, Pak. Saya buru-buru datang dan belum sempat mengganti seragam.”
Sebelum Seline sempat melangkah pergi untuk berganti pakaian, suara berat Deka menghentikannya. “Tidak perlu.”